Strategi Dulux Pancing Ketenangan Lewat Event yang Masuk Hati
Melalui peluncuran Dulux Colours of The Year 2026_ Rhythm of Blues™, Dulux mengajak masyarakat Indonesia untuk #TemukanTenangmu dan memandang warna sebagai bagian dari solusi hidup yang lebih seimbang.
DUNIAEOJAKARTA.COM – Masihkah kita ingat warna ketenangan kita sendiri? Di sebuah gedung yang biasanya dipenuhi percakapan bisnis, ruang utama hari itu justru disulap menjadi kanvas biru yang bisu. Bukan biru tunggal yang monokrom, melainkan tiga lapis nada biru yang saling bercerita. Slow Swing yang dalam seperti laut malam, Mellow Flow yang jernih bagai langit pagi, dan Free Groove yang energik laksana ombak yang bebas. Acara peluncuran Colours of The Year 2026 oleh Dulux bertajuk “Rhythm of Blues™” itu bukan sekadar pamer tren. Ia adalah sebuah pertunjukan yang menggugat, bagaimana sebuah industri event bisa mengemas psikologi warna menjadi pengalaman ruang yang menyentuh jiwa.
Ide kreatif yang melatari acara ini terasa sederhana namun dalam, menjawab kegelisahan era digital yang penuh ketergesaan. “Kami melihat ada kebutuhan yang sangat mendasar, masyarakat kehilangan ruang untuk berhenti, bernapas,” ujar Niluh Putu Ayu Setiawati, Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, dalam sambutannya. Konsepnya bukan tentang memaksa penonton untuk diam, melainkan menawarkan pilihan ketenangan. Ketiga nuansa biru itu menjadi narasi utama, dipetakan ke dalam zona pengalaman yang berbeda di dalam venue. Satu sisi ruang dihiasi Slow Swing, menciptakan sudut refleksi dengan pencahayaan remang. Zona tengah dengan Mellow Flow menjadi area diskusi yang terasa lapang, sementara sudut kreatif dengan sentuhan Free Groove mengundang partisipasi aktif.
Keunikan acara ini terletak pada pendekatannya yang multi-disiplin dan sangat personal. Ini bukan peluncuran produk yang biasa. Panitia penyelenggara, bekerja sama dengan Fortuna PR, sengaja mengundang narasumber dari beragam perspektif untuk membedah makna biru. Teguh Aryanto dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta berbicara tentang bahasa ruang. Sylvia M. Siregar dari Filoknenia Foundation membawa sudut pandang neurodiversity tentang bagaimana warna biru menjadi penyeimbang emosional bagi anak-anak dengan kondisi khusus. Bahkan seorang ahli feng shui, Jenie, hadir untuk membaca energi dari ketiga nuansa tersebut. Setiap sesi diskusi seolah memperkuat klaim bahwa acara ini memang dirancang untuk “menemukan”, bukan “menyampaikan”.
Kehebohan pun terjadi bukan karena keriuhan, melainkan karena keheningan yang bermakna. Saat peserta diajak untuk benar-benar merasakan setiap zona, suasana menjadi kontemplatif. Beberapa orang terlihat berlama-lama di sudut Slow Swing, mata terpejam, seolah menyelam dalam ketenangannya sendiri. Di zona Free Groove, beberapa lainnya justru aktif mencoret-coret dinding biru yang disediakan, mengekspresikan ritme mereka. Kampanye #TemukanTenangmu menjadi hidup bukan di media sosial semata, tetapi dalam interaksi manusia dengan ruang di sekitarnya.
Lalu, apa kunci sukses di balik panggung event yang berani mengusung ketenangan sebagai tema utama? Pertama, riset yang kuat. Inisiatif ini lahir dari pengamatan tahunan terhadap perubahan sosial, budaya, dan emosional manusia, bukan sekadar tren desain semata. Kedua, narasi yang autentik dan berbasis fakta. Setiap pernyataan, dari asosiasi warna biru dengan ketenangan dalam psikologi hingga manfaatnya bagi anak neurodiverse, dibangun dari data dan pengalaman nyata para ahli. Ketiga, transformasi venue menjadi bagian dari pesan. Event organizer tidak hanya mengatur kursi dan sound system, tetapi benar-benar menjadi kurator pengalaman ruang, di mana setiap dekorasi, pencahayaan, dan alur acara adalah perwujudan dari tema Rhythm of Blues™.
Di akhir acara, pesan yang tertinggal terasa jelas. Inovasi dalam dunia event organizer kini tidak lagi melulu tentang teknologi atau skala, tetapi tentang kedalaman dan relevansi emosional. Acara Dulux ini membuktikan bahwa dengan riset mendalam, kolaborasi dengan pakar yang tepat, dan keberanian untuk menjadikan venue sebagai eksperimen ruang, sebuah peluncuran produk bisa naik menjadi perbincangan budaya. Ia berhasil mengajak audiensnya untuk berhenti sejenak, lalu bertanya pada diri sendiri, “Nuansa biru mana yang hari ini menjadi ritme ketenangan saya?”
Ketenangan, rupanya, memang bisa dijadikan headline sebuah event yang sukses. Ia bukan lagi sekadar kata, melainkan pengalaman yang bisa dirasakan, dipilih, dan dirayakan. Seperti tiga nada biru yang hadir hari itu, setiap orang pulang dengan warna ketenangannya masing-masing. |WAW-DEOJ