Mudik Gratis Jawa Tengah 2026: Pulang Tanpa Masuk Angin

 Mudik Gratis Jawa Tengah 2026: Pulang Tanpa Masuk Angin

Gubernur Jawa Tengah dan sebagian besar pimpinan kabupaten dan kota di Jawa Tengah berinteraksi langsung dengan hangat dan antusias dengan warga Jawa Tengah di Jakarta di acara Pelepasan Mudik Gratis Pemprov Jateng 2026 di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (16/03)

DUNIAEOJAKARTA.COM – Muhammad Jaelani sudah tiga tahun bekerja sebagai housekeeping outsource di sebuah gedung perkantoran Jakarta Selatan. Gajinya pas-pasan. Tiap bulan, ia menyisihkan seratus ribu rupiah untuk tabungan Lebaran. Tapi uang itu, kata dia, “bukan buat beli tiket.” Tiket mudik terlalu mahal. Tabungan itu untuk kebutuhan lain: oleh-oleh, uang saku keponakan, atau sekadar nambah dagangan ibu di Pemalang. Urusan pulang, ia pasrah pada program mudik gratis.

Nasib Jaelani dan sekitar 16.000 pemudik lain asal Jawa Tengah tahun ini sedikit lebih lapang. Mereka tidak hanya diantar pulang dengan 320 bus yang disediakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Di dalam tas masing-masing, ada paket kecil berisi Bejo Jahe Merah. Bukan sekadar suvenir. Lebih dari itu, ini semacam jaminan: masuk angin yang biasa mengintai perjalanan panjang, “diurus” oleh brand itu. Sebuah urusan kecil yang terasa besar bagi mereka yang pulang dengan kondisi badan rentan tumbang.

Ribuan pemudik itu berjejal di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah, Senin pagi (16/03). Sebagian besar adalah pekerja informal: pedagang pasar, buruh harian, ojek online. Wajah-wajah letih setelah mengantre sejak subuh mulai rileks ketika memasuki area pemberangkatan. Mereka disambut tenda-tenda putih, panggung hiburan, dan booth interaktif yang dihadirkan Bejo. Di sela-sela antrean, sebagian ikut kuis berhadiah. Sebagian lain sekadar berfoto di sudut-sudut yang sudah dirancang instagramable. Semua dibuat agar mereka pulang dengan kondisi badan hangat, imun terjaga, dan hati yang enteng.

Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi hadir melepas keberangkatan. Ia berbincang hangat dengan perwakilan pemudik, lalu mengapresiasi para sponsor yang membantu program ini untuk kelima kalinya. “Program ini tidak hanya membantu masyarakat pulang ke kampung halaman, tetapi juga memastikan perjalanan mereka tetap nyaman. Silaturahmi dengan keluarga adalah nilai sosial yang penting, karena itu menjaga stamina selama proses mudik juga tidak kalah penting,” ujarnya.

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari yang ikut hadir menambahkan hal senada. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, BUMN, dan swasta seperti inilah yang membuat program mudik gratis tidak sekadar ongkos, tapi juga layanan yang memikirkan kenyamanan pemudik hingga ke kampung.

Di balik program ini, ada cerita yang lebih kecil tapi sarat makna. Jaelani, misalnya, mengaku setiap tahun selalu menanti mudik gratis seperti ini. Sebab, selain menghemat pengeluaran, ia bisa lebih tenang selama perjalanan. “Kalau badan mulai terasa nggak enak, tinggal seduh. Dikasih kayak gini, kita jadi nggak perlu beli lagi,” katanya, menunjukkan paket Bejo yang baru saja diterima.

PT Bintang Toedjoe, perusahaan farmasi di balik produk herbal itu, memang sengaja menjadikan momen mudik sebagai bagian dari kampanye tahunan mereka. Tahun ini, mereka mengusung tema “Silaturahmi Jangan Putus, Masuk Angin Bejo Yang Urus”. Sebanyak 32.000 paket dibagikan untuk pemudik Jawa Tengah. Bukan jumlah kecil. Tapi menurut Head of OTC, Women Health and Natural Wellness Category PT Bintang Toedjoe, Andry Mahyudi, ini adalah komitmen yang sudah mereka pegang lima tahun terakhir.

“Lebaran selalu identik dengan kehangatan silaturahmi bersama keluarga. Bejo Jahe Merah ingin ikut hadir dalam momen tersebut dengan membantu para pemudik menjaga kondisi tubuh selama perjalanan. Jangan sampai ketika sudah tiba di kampung halaman justru tidak maksimal berkumpul bersama keluarga karena masuk angin. Kalau itu terjadi, serahkan saja ke Bejo,” kata Andry.

Filosofi produk ini sederhana: jahe merah sebagai bahan utama memang dikenal mengandung gingerol, shogaol, dan zingerone yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Ditambah kurma sebagai pemanis alami dan sumber energi. Kombinasinya cocok untuk menjaga tubuh tetap fit saat menghadapi perjalanan panjang. Dalam konteks mudik yang melelahkan, hadirnya produk semacam ini menjadi semacam jaring pengaman kesehatan yang sederhana tapi efektif.

Setelah tiba di kampung halaman, para pemudik masih harus memikirkan bagaimana caranya kembali ke Jakarta. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga sudah menyiapkan program arus balik pada 27 dan 28 Maret 2026. Pendaftaran dilakukan secara daring, dikoordinasikan oleh kabupaten dan kota asal, bekerja sama dengan asosiasi profesi. Begitulah, perputaran orang, uang, dan tenaga ini terus berjalan. Dan di tengah siklus itu, ada mereka yang hanya ingin tiba di rumah dengan selamat, berkumpul dengan keluarga, lalu kembali produktif seperti sedia kala.

Di mata Jaelani, pulang kampung bukan soal siapa yang mengantar. Tapi soal sampai dan bisa duduk bersama ibu, makan sayur asem buatan sendiri, tanpa batuk pilek atau badan pegal. Tahun ini, ia beruntung. Badannya sehat, dompetnya tak terkuras, dan oleh-oleh bisa dibelanjakan di pasar desa. Itu saja sudah cukup. Sebab setelah Lebaran, ia harus kembali ke Jakarta, ke pekerjaan sebagai housekeeping yang kerap tak terlihat, tapi selalu dibutuhkan. Dan tubuh yang fit, adalah modal utama untuk semua itu. |WAW-DEOJ

Related post