Kala Akar Rumput Berbisik, Dunia Mendengar
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal (kiri) dan Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan Yani Witjaksono (kanan) menandatangani Perjanjian Kemitraan Operasional Fase Operasional ke-8 Program Hibah Kecil Fasilitas Lingkungan Global (GEF SGP-OP8) pada hari Rabu (13/5) di kantor FAO Indonesia di Jakarta.
Masyarakat Indonesia kini dapat mengakses pendanaan lingkungan melalui kemitraan pertama FAO-GEF Small Grants Program
DUNIAEOJAKARTA.COM—Tidak ada gemuruh mesin. Tidak ada hiruk-pikuk pembukaan panggung besar. Yang ada hanya secarik kertas proposal, secangkir kopi pekat di meja kayu lapuk, dan mimpi yang selama ini terkatung-katung. Itulah potret para pegiat lingkungan akar rumput di ribuan pulau Indonesia. Hingga Rabu lalu, di kantor FAO Indonesia, sebuah kemitraan baru menyalakan lentera kecil di tengah gelapnya pendanaan lingkungan.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) resmi bergabung dengan Fase Operasional Kedelapan Program Hibah Kecil Global Environment Facility (GEF SGP-OP8). Ini bukan sekadar seremoni. Ini pintu yang terbuka lebar untuk organisasi masyarakat sipil dan kelompok berbasis komunitas di seluruh Tanah Air. Mereka kini bisa mengakses hibah hingga USD 75.000, atau sekitar Rp1,2 miliar per proyek. Tapi angka itu hanyalah bagian paling permukaan.
Apa yang membuat program ini berbeda?
Bukan sekadar uang. FAO membawa plus satu hal yang jarang ditemukan dalam skema hibah konvensional: pendampingan teknis. Para penerima tidak dilepas begitu saja. Mereka dibekali keterampilan, pengetahuan, bahkan akses ke pasar dan sektor swasta. Ini seperti memberi kail, mengajari memancing, sekaligus menunjukkan di mana ikan-ikan besar berenang.
Kehebohan sesungguhnya terletak pada angka inklusivitasnya. Untuk periode 2026-2029, target penerima manfaat mencapai lebih dari 14.000 orang. Rinciannya lebih dari 7.200 perempuan, 2.300 pemuda, dan 2.300 penyandang disabilitas. Bukan sekadar target. Ada komitmen keras: minimal 30 persen hibah untuk kelompok yang dipimpin perempuan, 10 persen untuk kelompok muda, dan 5 persen untuk Masyarakat Adat.
Coba bayangkan. Seorang perempuan di pedalaman Papua yang selama ini berjuang sendiri menjaga hutan sagu kini bisa mengajukan proposal. Seorang pemuda di pesisir Sulawesi yang punya ide perikanan ramah lingkungan tak perlu lagi pusing mencari modal. Seorang difabel di Jawa yang memahami daur ulang sampah mendapat ruang setara.
Kunci sukses acara peluncuran ini bukan pada panggung megah atau bintang tamu. Ia terletak pada Komite Pengarah Nasional yang terdiri dari 11 anggota. Mereka mewakili masyarakat sipil, pemerintah Indonesia, dan sektor swasta. Ada Laksmi Dhewanthi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Ada Yani Witjaksono, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) yang sudah mengelola GEF SGP di Indonesia sejak 1997. Kereta bernama keberpihakan ini berjalan di atas rel yang kokoh: kolaborasi lintas sektor.
Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, mengatakan ini dengan tegas. Kita butuh pendekatan dari bawah ke atas. Masyarakat lokal paling tahu bagaimana mengelola sumber daya alam mereka sendiri. FAO hanya datang untuk menguatkan teknis.
Ada yang menarik dari skema pendanaan ini. Program ini tidak hanya bicara konservasi atau pertanian berkelanjutan. Ia merangkum lima prioritas tematik yang saling terkait. Mulai dari perlindungan ekosistem dan spesies terancam punah, ketahanan pangan, energi rendah karbon, pengelolaan limbah kimia, hingga solusi perkotaan berkelanjutan. Semua disesuaikan dengan rencana pembangunan Indonesia dan komitmen global seperti FOLU Net Sink 2030 serta Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.
Proposal bisa mulai diajukan pada Juni 2026. Tapi jangan bayangkan proses birokrasi berbelit. Tim GEF SGP menjanjikan seleksi yang adil, inklusif, dan transparan. Setiap hasil bisa dilacak melalui portal online milik FAO.
Bayangkan dampaknya jika program ini berjalan optimal. Lebih dari 6.400 hektar lahan dipulihkan. Praktik pengelolaan di 110.000 hektar lanskap dan 8.000 hektar bentang laut meningkat. Emisi gas rumah kaca berkurang 640.000 CO2e. Ini bukan angka-angka dingin di kertas. Ini paru-paru yang mulai bernafas lagi.
Yang paling menginspirasi, mungkin, adalah filosofi di balik slogan GEF SGP: aksi lokal, dampak global. Seorang petani di lereng gunung yang menanam pohon tidak sedang sekadar menanam pohon. Ia sedang menulis catatan kaki untuk perubahan iklim dunia. Seorang nelayan yang melindungi terumbu karang tidak sedang sekadar menjaga ikan. Ia sedang menjadi penjaga warisan bagi generasi yang belum lahir.
Laksmi Dhewanthi mengingatkan kita semua. Tiga krisis planet masih menghadang. Di tingkat lokal, regional, global. Tapi lentera kecil kini telah dinyalakan. Tugas kita hanya satu: menjaganya agar tidak padam tertiup angin birokrasi atau tenggelam dalam keraguan.
Karena bisikan akar rumput, jika didengarkan dengan sungguh-sungguh, mampu mengguncang dunia. |WAW-DEOJ