LapakMain Corner: Menyulap RPTRA Menjadi Taman Literasi Digital Anak

 LapakMain Corner: Menyulap RPTRA Menjadi Taman Literasi Digital Anak

Lapakgaming RPTRA Tunas Muda

DUNIAEOJAKARTA.COM – SEBUAH panggung kecil di sudut Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tunas Muda, Jakarta Selatan, menyedot perhatian, Selasa sore (4/8). Bukan karena ornamennya yang megah, melainkan karena sesi mendongeng interaktif yang berlangsung di atasnya. Puluhan pasang mata anak-anak terpaku, mendengarkan dongeng yang dibawakan dengan penuh ekspresi, sesekali terpingkal-pingkal saat alur cerita berbelok ke petualangan digital yang kocak. Momen ini menjadi simbol dari sebuah benturan paradigma yang sengaja diciptakan: mengajak generasi yang lahir dengan gawai di genggaman untuk kembali menemukan keasyikan dunia nyata.

Lapakgaming, platform top-up game di bawah naungan Multi Realm Games (MRG) dan bagian dari PT BUKALAPAK.COM Tbk (BUKA), meresmikan LapakMain Corner. Ini bukan sekadar peresmian ruang baru, melainkan sebuah proyek percontohan dalam menjawab amanat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, atau yang dikenal dengan PP TUNAS. Kehadiran fasilitas ini merupakan implementasi nyata bahwa perlindungan anak di ruang digital harus diimbangi dengan penyediaan ruang aman di dunia nyata.

Yang membuat acara ini menarik dari kacamata event organizer bukan sekadar seremoni pemotongan pita. Inilah yang disebut dengan experience design yang terukur. LapakMain Corner didesain sebagai ekosistem mini yang menggabungkan tiga elemen kunci: buku bacaan, permainan edukatif, dan sarana literasi digital. Konsepnya adalah menciptakan keseimbangan (atau istilah kerennya digital wellbeing) di mana anak-anak diajak membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.

“Inovasi bukan hanya tentang menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Plt. Direktur Utama BUKA, Natalia Firmansyah, dalam sambutannya. Ini menjadi benang merah acara yang melibatkan lintas sektor. Kehadiran Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Bonafisius Wahyu Pudjianto, bersama Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia TLH., M.EPID, mempertegas bahwa ini adalah kolaborasi strategis antara pemerintah dan swasta.

Keunikan lain yang patut dicatat adalah bagaimana Lapakgaming mengemas kegiatan pendukung. Mereka tidak hanya menghadirkan booth untuk layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA) dari Kementerian Komunikasi dan Digital, yang dirancang untuk memberikan pendampingan terstruktur bagi orang tua dalam mengenali dan menangani dampak adiksi gim , tetapi juga menggandeng EMC Healthcare untuk menyediakan layanan pengecekan kesehatan gratis bagi ibu dan anak. Ini adalah pendekatan holistic yang jarang ditemukan dalam acara peresmian serupa, menggabungkan kesehatan mental digital dan kesehatan fisik dalam satu lokasi.

Dari sisi produksi acara, keterlibatan pihak internal menjadi nilai tambah tersendiri. Proyek LapakMain Corner ini dibangun dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh karyawan BUKA melalui donasi buku dan mainan edukatif. Bahkan, proses konstruksinya memberdayakan pelaku usaha lokal (vendor masyarakat sekitar). Ini adalah strategi community engagement yang cerdas; tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun rasa memiliki di tingkat akar rumput.

Sebelum peresmian, Lapakgaming telah memulai rangkaian inisiatif melalui Expert Session mengenai edukasi gawai bijak di SMAN 44 Jakarta pada 22 Juli 2026. Ini menunjukkan bahwa acara peresmian bukanlah titik akhir, melainkan puncak dari kampanye berkelanjutan yang telah dirancang dengan alur yang matang.

Dr. Dwi Oktavia menyambut baik inisiatif ini. “Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin akrab dengan gawai, kehadiran LapakMain Corner di RPTRA sangat penting. Fasilitas ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, sehingga tercipta keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata,” ungkapnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa RPTRA tidak lagi sekadar taman, melainkan pusat tumbuh kembang anak yang harus diperkuat fungsinya.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, LapakMain Corner diharapkan menjadi pemantik sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan sektor swasta. Keberhasilan acara ini bukan diukur dari kemewahan panggung, melainkan dari potensi replikasinya. Jika konsep ini terbukti efektif, bukan tidak mungkin sudut-sudut serupa akan bermunculan di RPTRA lain di Jakarta, menjadi benteng pertahanan baru bagi generasi penerus bangsa di tengah gempuran dunia digital. |WAW-DEOJ

Related post