Bel Gender Equality 2026: Membunyikan Bel, Menyusun Tangga

 Bel Gender Equality 2026: Membunyikan Bel, Menyusun Tangga

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, bersama dengan Senior Country Officer IFC, Amerta Mardjono; President IGCN, Y. W. Junardy; Executive Director IBCWE, Wita Krisanti; Direktur Bursa Efek Indonesia, Risa Effenita Rustam; UN Women Indonesia Representative and Liaison to ASEAN, Ulziisuren Jamsran; dan Secretary General & Acting Executive Director, IGCN, Bapak Andi P. Rahim membunyikan bel di acara Ring the Bell for Gender Equality 2026 sebagai dukungan terhadap kesetaraan gender. Foto: UN Women/Putra Djohan.

DUNIAEOJAKARTA – Di lantai utama Bursa Efek Indonesia, di tengah hiruk-pikuk layar yang memuat angka-angka pasar modal, bel tidak sekadar dibunyikan sebagai penanda perdagangan. Pada Kamis siang pertengahan Maret itu, bel digetarkan untuk mengirimkan pesan ke ruang-ruang rapat direksi: kepemimpinan perempuan bukan lagi soal wacana, melainkan strategi bisnis yang terlambat dijalankan.

Ring The Bell For Gender Equality 2026 berlangsung di Main Hall BEI. Ada sekitar seratus lebih peserta yang datang, bukan hanya untuk mendengar pidato, tetapi untuk duduk dalam sesi speed coaching yang dirancang seperti lokakarya kilat. Mereka adalah eksekutif perusahaan, perwakilan BUMN, dan pemimpin industri yang bertindak sebagai mentor. Di seberang meja, para peserta lain menggali bagaimana membangun tempat kerja yang ramah keluarga, memperkuat jalur karier perempuan, hingga menerapkan alat ukur kesetaraan gender seperti Women’s Empowerment Principles Gender Gap Analysis Toolkit.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi yang Adil dan Sejahtera.” Tema itu tidak lahir dari ruang hampa. Data dari Asia Market Monitor 2025 menunjukkan fakta yang cukup tajam: 49 persen firma di Indonesia masih memiliki jajaran direksi yang semuanya laki-laki. Angka ini jauh di atas rata-rata Asia yang hanya 15 persen. Sementara itu, hanya 19 persen perusahaan di Indonesia yang memiliki setidaknya 30 persen kursi direksi diisi oleh perempuan.

Di tengah tumpukan data itu, acara ini hadir sebagai pengingat bahwa kesenjangan bukan hanya soal keadilan, tetapi juga daya saing. Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, menyampaikan dalam pidato kuncinya bahwa yang mereka lakukan hari itu bukan sekadar membunyikan bel. “Hari ini, yang ingin kita lakukan adalah mengirimkan sebuah pesan yang harus didengar di setiap boardroom, oleh setiap investor, dan untuk setiap pengambil keputusan yang ada di ruang ini, maupun di luar, bahwa kepemimpinan perempuan adalah investasi yang akan membuat perusahaan lebih profitable, lebih baik, dan kompetitif.”

Acara ini merupakan bagian dari kampanye global yang melibatkan 114 bursa efek di 90 negara. Di Indonesia, penyelenggaraannya digarap oleh BEI bersama UN Women, UN Global Compact Network Indonesia, IFC, dan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment. Kolaborasi ini ingin menunjukkan bahwa pasar modal bisa menjadi pengeras suara untuk isu yang kerap dianggap hanya urusan sumber daya manusia.

Yang menarik, tahun ini mereka tidak hanya berbicara di atas panggung. Sesi speed coaching menjadi ruang diskusi yang lebih cair dan aplikatif. Para peserta diajak membahas riset terbaru tentang tantangan kepemimpinan perempuan, termasuk cara mengatasi kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Mereka juga diperkenalkan pada alat seperti GEARS (Gender Equality Assessment, Results and Strategies) yang dikembangkan IBCWE untuk membantu perusahaan mengukur kesenjangan dan menyusun strategi perbaikan secara sistematis.

Wita Krisanti, Direktur Eksekutif IBCWE, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data. Sejak akhir tahun lalu, lembaganya berkolaborasi dengan ILO melalui proyek RealGains untuk memperkuat lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan karier perempuan di sektor-sektor ekspor utama Indonesia. Menurutnya, tanpa data dan strategi terukur, komitmen kesetaraan gender hanya akan berhenti sebagai pernyataan tertulis.

Hingga saat ini, tercatat 227 perusahaan di Indonesia telah menandatangani Women’s Empowerment Principles, sebuah kerangka yang diinisiasi UN Women dan UN Global Compact untuk memandu perusahaan mempromosikan kesetaraan di tempat kerja, pasar, dan komunitas. Secara global, angkanya mencapai lebih dari 12 ribu perusahaan. Jumlah ini menunjukkan bahwa kesadaran sedang tumbuh, meski kecepatannya masih perlu ditingkatkan.

Ulziisuren Jamsran, Perwakilan UN Women Indonesia, menyebut bahwa partisipasi perempuan dalam kepemimpinan adalah kunci untuk membuka potensi penuh ekonomi. Ia menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung kesetaraan, termasuk pengakuan atas pekerjaan perawatan tak berbayar yang selama ini banyak ditanggung perempuan. Transformasi norma sosial dan institusi, menurutnya, harus berjalan seiring dengan kebijakan di tingkat perusahaan.

Risa Effenita Rustam, Direktur BEI, menyampaikan bahwa mendorong kepemimpinan perempuan bukan hanya agenda kesetaraan, tetapi juga investasi strategis bagi masa depan dunia usaha. Ia menyebut ekonomi yang adil dan makmur hanya bisa dibangun jika semua pihak, termasuk sektor swasta, bergerak bersama.

Acara ditutup dengan komitmen para peserta untuk membawa langkah konkret ke organisasi masing-masing. Mereka diminta menuliskan rencana aksi berikutnya, memastikan bahwa diskusi hari itu tidak berhenti di ruang konferensi.

Di luar gedung BEI, di layar-layar yang terus memuat pergerakan indeks, angka partisipasi tenaga kerja perempuan masih berada di 56,7 persen, jauh di bawah laki-laki. Namun di dalam ruangan itu, bel yang berbunyi seolah menjadi alarm bahwa sudah waktunya mempercepat langkah. Bukan hanya untuk kesetaraan, tetapi agar ekonomi Indonesia tidak berjalan pincang kehilangan separuh potensinya. |WAW-DEOJ

Related post