Menang di Senyap Subuh, GPS Tak Lagi Jadi Satu-satunya Tuhan
Jembrana Rally
CSR-INDONESIA.COM – Bali, akhir Mei. Biasanya, debu dan decitan ban menjadi bahasa universal perlombaan. Tapi tidak di sini. Di Kejuaraan Nasional Jembrana Time Rally 2026, musuh utamanya bukanlah lawan di tikungan, melainkan senyap. Dan akurasi.
Di Kabupaten Jembrana, 23–24 Mei lalu, 62 peserta dari berbagai daerah Indonesia tidak sedang berlomba menjadi yang tercepat dalam arti kasar. Mereka justru berlomba melawan hitungan detik yang pelit, melawan peta kuno bernama road book, dan melawan kantuk saat start digelar menjelang subuh.
Di sinilah cerita unik dari sebuah ajang yang mungkin tak pernah masuk liputan utama, namun menyimpan inovasi paling manusiawi dari industri event organizer dan teknologi. Cerita tentang bagaimana TransTRACK, sebuah perusahaan teknologi telematika, dan Daihatsu Sport Rally Team (DSRT) membuktikan bahwa kunci sukses sebuah acara tidak selalu gemerlap. Justru di titik paling sunyi, di rute sepanjang 270 kilometer yang melintasi persawahan dan kawasan wisata Bali Barat itu, sebuah gebrakan lahir.
Yang membuat gelaran ini istimewa, sekaligus cukup berbahaya untuk dijadikan headline, adalah penggunaan regulasi baru dari Komisi Time Rally IMI Pusat. Untuk pertama kalinya, para navigator tidak bisa mencolek layar GPS modern. Mereka kembali ke format analog. Road book. Kumpulan simbol tulip yang harus dibaca dengan ketelitian seorang ahli bedah. Satu detik salah baca petunjuk di tengah gelapnya trayek dini hari, selesai sudah akurasi waktu.
Dari sudut pandang seorang event organizer, inilah taruhannya. Sebuah acara bisa kacau jika regulasi baru justru membuat peserta frustrasi. Namun DSRT dan TransTRACK membaca ini sebagai peluang. Mereka tidak hanya datang membawa mobil dan bensin. Mereka membawa sebuah misi kecil: menunjukkan bahwa teknologi dan naluri manusia bisa berjoget dalam irama yang sama.
Anggia Meisesari, Founder dan CEO TransTRACK, mungkin bukan tipe orang yang bicara ban dan kopling. Ia bicara presisi. Perusahaannya mengembangkan tracking device dan sistem monitoring berbasis telematika yang disesuaikan khusus untuk olahraga time rally. Bukan untuk kecepatan maksimal, melainkan untuk akurasi waktu dan ketepatan rute secara real-time. Alat ini menjadi pengawet keselamatan sekaligus wasit jujur di jalan.
Hasilnya tidak main-main. DSRT sukses mengamankan Juara 1 kategori Non-Seeded melalui trio Rifki Darmawan Haryanto, Muhamad Nur Faiz, dan Mochammad Fadillah Putra. Tim lainnya, Ismullah Lahsin, Bambang Feriyanto, dan Adi Wibowo, finish di posisi ketiga klasemen umum. Sementara Hongky Regina, Cailendra Budi Atmaka, dan Ariza Prawira menempel di posisi keempat. Di klasemen Team Club, DSRT duduk manis di peringkat kedua.
Namun fakta paling membanggakan sekaligus menginspirasi dari balik kemenangan ini adalah regenerasi. Sejak 2022, DSRT memiliki program pembinaan pembalap pemula. Dan kemenangan Rifki Darmawan dkk adalah bukti bahwa program itu berbuah nyata. Sebuah catatan penting bagi para stakeholder industri event bahwa sebuah acara tidak hanya berbicara event day, tetapi juga ekosistem jangka panjang.
Bambang Feriyanto, Manajer DSRT yang juga duduk di Komisi Time Rally IMI Pusat, mengakui bahwa kompetisi kali ini memiliki tingkat kesulitan ekstra. Jadwal start yang berlangsung menjelang subuh membutuhkan konsentrasi penuh. Fisik harus prima. Mata harus tajam. “Persaingan tahun ini berlangsung sangat ketat, terlebih dengan format baru yang menuntut ketelitian tinggi,” ujarnya.
Dan di sinilah puncak kehebohan yang mungkin tak terdengar oleh penonton biasa. Kemenangan tim ini bukan sekadar trofi. Bagi TransTRACK, data dari tracking device selama lomba akan menjadi bahan Research & Development (R&D). Mereka ingin menciptakan teknologi yang cocok dengan regulasi time rally, yang nantinya bisa menjadi masukan untuk IMI. Artinya, sebuah event olahraga telah bermetamorfosis menjadi laboratorium hidup.
Ada pelajaran penting bagi industri Event Organizer di sini. Sebuah acara tidak harus selalu mengejar kebisingan dan efek visual untuk menjadi viral. Kejernihan justru muncul dari detail yang tak terlihat. Dukungan TransTRACK terhadap DSRT membuktikan bahwa inovasi kreatif di dunia penyelenggaraan acara saat ini adalah kolaborasi lintas sektor antara logistik, regulasi, dan teknologi.
Mereka tidak menggebrak. Mereka melesat dengan senyap. Dan ketika mobil-mobil itu melewati garis finis di Bali, mereka tidak hanya meninggalkan jejak ban, tetapi juga sebuah cetak biru: bahwa di zaman yang serba otomatis, kesuksesan sebuah event diukur dari kemampuan manusia dan mesin untuk saling mempercayai. Satu tikungan, satu road book, satu detik pada satu waktu. |WAW-CSRI