Para Penenun Kegembiraan Kolektif. Memoar untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Industri Event
DUNIAEOJAKARTA.COM – Dalam diamnya pagi sebelum panggung digegar, sebelum lampu sorot membakar, ada sebuah pertanyaan yang kerap mengusik. Di balik gemerlap event yang memukau, di balik tepuk tangan yang menggema, adakah wajah-wajah pahlawan yang patut kita kenang? Bukan pahlawan mengenakan seragam militer yang gagah, bukan yang mengenakan jas dan dasi, melainkan para pencipta kenyataan sementara, para arsitek pengalaman manusia dalam industri event organizer.
Dunia event organizer adalah dunia yang fana. Sebuah panggung megah yang dibangun hanya untuk semalam. Sebuah kota dalam ruang yang lenyap saat matahari terbit. Dalam dunia yang begitu cair, siapa yang layak disebut pahlawan?
Mari kita tilik ke panggung global. Di sana, nama seperti David Korins mungkin tak setenar artis panggung yang ia huni. Namun dialah yang menciptakan alam panggung untuk Hamilton, pertunjukan yang mengubah wajah teater musikal. Korins bukan sekadar perancang panggung. Ia adalah insinyur emosi, perakit mimpi yang menjelma kayu dan besi. Atau kita ingat Willo Perron, sang dalang di balik konser-konser epik Beyoncé dan Rihanna. Perron memahami bahwa konser bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan perjalanan visual, sebuah ritual budaya modern.
Profesor Samuel B. Chappell dari University of North Carolina School of the Arts dalam sebuah kuliah umum pernah berujar, Event management yang hebat adalah seni yang tak terlihat. Keberhasilan sebuah event diukur dari ketidaksadaran penonton akan segala kerumitan di belakang layar. Mereka, para event organizer, adalah penenun yang karyanya menghilang dalam tenunan itu sendiri.
Lalu bagaimana dengan di tanah air? Di Indonesia, pahlawan event organizer justru lebih tak terlihat lagi. Mereka adalah para pionir yang membangun industri dari nol. Bayangkan di era 90-an, ketika teknologi tata lampu dan audio masih serba terbatas, mereka sudah berani memimpikan konser internasional. Mereka adalah para pembuka jalan, seringkali tanpa peta.
Siapa nama mereka? Mereka mungkin tak tercatat di buku sejarah. Seorang production manager yang memastikan kabel-kabel tak membahayakan penari. Seorang stage hand yang bekerja sejak subuh demi presisi satu balok panggung. Seorang koordinator acara yang menjadi ujung tombak komunikasi dengan ratusan pihak. Mereka adalah para ahli logistik yang mengatur pergerakan manusia dan peralatan dengan presisi militer. Mereka adalah negosiator ulung yang mampu meredam egosentris artis dan klien.
Saya teringat obrolan dengan salah satu pendiri sebuah perusahaan EO Indonesia, suatu sore di Jakarta. Katanya, Membuat event itu seperti mengejar bayangan sendiri. Kita selalu berusaha menciptakan momen yang sempurna, padahal kita tahu kesempurnaan itu ilusi. Keindahannya justru terletak pada perjuangan mengejar ilusi itu sendiri. Ini adalah filosofi yang dalam dari seorang pelaku yang telah puluhan tahun berkubang dalam industri.
Data dari artikel yang sempat saya menunjukkan, sebelum pandemi, industri ini mencatatkan transaksi hingga Rp 20 triliun per tahun. Angka yang fantastis yang dibangun dari keringat dan air mata para pekerja event yang kerap tak tidur 48 jam sebelum D-day. Mereka adalah mesin ekonomi yang nyaris tak bersuara.
Lalu, adakah pahlawan dalam industri event organizer? Jawabannya, mereka ada di mana-mana. Mereka adalah setiap individu yang percaya bahwa momen manusiawi layak dirayakan dengan indah. Mereka adalah para ahli yang memahami bahwa event yang sukses bukan tentang seberapa besar panggungnya, melainkan seberapa dalam kesan yang tertinggal dalam benak setiap penonton.
Pahlawan event organizer adalah mereka yang bekerja dalam bayang-bayang, membiarkan cahaya sorot menyinari orang lain. Mereka adalah penenun kegembiraan kolektif, perakit memori bersama. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, merekalah yang menyatukan kita, walau hanya untuk beberapa jam saja. Mereka mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kita perlu berkumpul, berbagi cerita, dan merayakan keberadaan kita bersama.
Maka, lain kali Anda menghadiri sebuah event yang memukau, luangkan satu detik untuk mengingat para pencipta di balik layar. Mereka mungkin tak akan pernah Anda lihat, tetapi karya merekalah yang membuat Anda berdecak kagum. Dalam kesementaraan itu, justru terletak keabadian mereka. |WAW-DEOJ