Perbankan Bertemu Seni: Mengapa Amar Bank Mendadak Jatuh Cinta pada Layar Lebar?”

 Perbankan Bertemu Seni: Mengapa Amar Bank Mendadak Jatuh Cinta pada Layar Lebar?”

Penandatanganan MoU JAFF Market | IST

Menulis Babak Baru di Balik Layar: Membuat Rupiah Menari Mengikuti Irama Cerita

DUNIAEOJAKARTA.COM – Film Indonesia sedang memasuki babak baru. Bukan sekadar soal jumlah produksi yang meningkat atau deretan judul yang membanjiri layar bioskop. Ada denyut nadi yang lebih dalam sedang berdetak di balik industri ini. Sebuah upaya kolektif untuk membangun fondasi yang selama ini rapuh.

Pada sebuah sore di penghujung Juni 2026, di ruang konferensi yang dipadati wajah-wajah familiar dari industri perfilman dan perbankan, sebuah nota kesepahaman diteken. Tanda tangan itu bukan sekadar seremonial. Ia adalah titik temu antara dua dunia yang selama ini bergerak sendiri-sendiri. Di satu sisi, para sineas dengan mimpi-mimpi besar dan keterbatasan akses pembiayaan. Di sisi lain, lembaga keuangan yang mulai sadar bahwa industri kreatif memiliki potensi ekonomi yang tak lagi bisa diabaikan.

Amar Bank bersama JAFF Market menggandeng Badan Perfilman Indonesia dan enam asosiasi perfilman dalam sebuah kemitraan strategis yang menyatukan tujuh pemangku kepentingan. BPI, APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, dan ACI kini duduk dalam satu meja. Mereka menandatangani nota kesepahaman untuk pengembangan kapasitas industri film lokal. Bukan lagi sekadar kerja sama seremonial, melainkan upaya membangun ekosistem perfilman yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Ini adalah langkah berani di tengah ketidakpastian. Di saat ekonomi global melambat, industri film Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang mengejutkan.

Angka yang Bicara
Data Cinepoint dalam laporan Industry Trends and Performance in H1 2026 mencatat fakta mencengangkan. Sebanyak 13 film Indonesia berhasil melampaui satu juta penonton sebelum semester pertama berakhir. Pencapaian ini menjadi yang tercepat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah sinyal bahwa penonton Indonesia semakin haus akan cerita-cerita lokal.

Angka itu berbicara banyak. Industri film Indonesia tidak sedang sekadar bertahan. Ia sedang merangkak naik, perlahan namun pasti, menuju tingkat kematangan yang selama ini hanya diimpikan.

Namun di balik angka-angka gemilang itu, ada kenyataan pahit yang masih menghantui. Masih banyak proyek film yang terpaksa tertunda atau bahkan batal karena minimnya akses pembiayaan. Masih banyak talenta-talenta berbakat yang kesulitan menemukan jalan untuk mewujudkan gagasan-gagasan mereka. Masih banyak industri yang berjalan secara sporadis, tanpa keterhubungan yang jelas antara satu pemangku kepentingan dengan yang lain.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menangkap kegelisahan itu. Dalam sambutannya di konferensi pers JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank, ia mengatakan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan industri film nasional. Kita tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film-film dunia, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Pernyataan itu bukan retorika kosong. Di baliknya ada kesadaran bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal. Pasar film Indonesia adalah salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Namun tanpa ekosistem yang kuat, potensi itu hanya akan menjadi angka-angka di atas kertas.

Dari Festival Menuju Pasar
JAFF Market lahir dari kebutuhan yang mendesak. Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang didirikan pada 2006 telah menjadi platform penting dalam memperkuat ekosistem sinema di Yogyakarta dan Indonesia. Namun seiring berkembangnya distribusi digital secara global, kebutuhan akan ruang pertemuan antara sineas dan industri semakin terasa.

Seiring berkembangnya distribusi digital secara global, Indonesia menjadi salah satu pasar film terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran sineas dan tenaga profesional berkualitas menjadi tuntutan yang tak terelakkan. Dari kebutuhan inilah JAFF Market dilahirkan sebagai hub industri untuk menghubungkan sineas, talenta baru, kreator konten, investor, institusi film, media, dan komunitas film.

Kini JAFF Market menjadi pasar film terbesar di Asia Tenggara. Ia bukan sekadar ajang pertemuan. Ia adalah ruang di mana proyek-proyek film menemukan mitra pendanaan, di mana talenta memperoleh peluang pengembangan, dan di mana kekayaan intelektual Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas.

Market Director JAFF Market, Linda Gozali, melihat perkembangan ini sebagai sinyal bahwa industri film Indonesia memasuki fase yang semakin matang. Menurut dia, tantangan industri saat ini tidak lagi hanya menghasilkan lebih banyak film, tetapi juga memastikan setiap proyek memiliki akses terhadap pembiayaan, pasar, serta peluang kolaborasi yang lebih luas.

Di sinilah JAFF Market mengambil peran sebagai market hub. Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap platform industri seperti JAFF Market terus meningkat, seiring semakin besarnya minat investasi dan kolaborasi di sektor perfilman.

Perbankan yang Belajar Memahami Sineas
Kemitraan Amar Bank dengan JAFF Market bukanlah yang pertama. Namun memasuki tahun kedua, kolaborasi ini mengalami perluasan makna. Dari sekadar dukungan terhadap penyelenggaraan event, kini bergeser menjadi penguatan ekosistem industri.

Presiden Direktur Amar Bank, Vishal Tulsian, berbicara dengan nada yang gamblang. Mendorong pertumbuhan sektor kreatif membutuhkan perubahan infrastruktur dalam akses pembiayaan. JAFF Market telah secara konsisten membuktikan perannya sebagai hub yang kuat dalam membangun ekosistem yang terintegrasi bagi industri film dan kreatif.

Dukungan Amar Bank terhadap JAFF Market 2026 merupakan langkah untuk mendorong ekosistem multipemangku kepentingan. Di dalamnya, para pembuat kebijakan dan pelaku industri diajak untuk berkolaborasi dalam merancang layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif.

Ada pemahaman baru yang mulai terbentuk. Industri kreatif, termasuk perfilman, memiliki model bisnis yang unik. Ia berbasis proyek, penuh ketidakpastian, namun juga sarat dengan potensi keuntungan yang besar. Model perbankan konvensional seringkali tidak cukup fleksibel untuk mengakomodasi karakteristik ini.

Dengan bergerak menuju solusi yang selaras dengan model bisnis unik industri ini, potensi kreatif dapat sepenuhnya ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar jargon bisnis. Ini adalah pengakuan bahwa film bukan hanya seni, tapi juga industri yang membutuhkan dukungan finansial yang tepat.

Menyatukan Tujuh Pemangku Kepentingan
Yang membuat kolaborasi ini istimewa adalah keterlibatan tujuh asosiasi perfilman sekaligus. Bukan hanya BPI yang merupakan badan resmi pemerintah, tetapi juga APROFI, IFDC, PILAR, INAFEd, ICS, dan ACI. Masing-masing memiliki peran dan fokus yang berbeda, namun kini duduk bersama untuk tujuan yang sama.

Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia, Fauzan Zidni, menegaskan bahwa kehadiran JAFF Market sebagai marketplace merupakan salah satu tonggak paling krusial bagi industri sinema saat ini. Platform ini menjadi ruang krusial yang mempertemukan seluruh stakeholder perfilman dari berbagai lini.

Ia juga mengapresiasi Amar Bank yang kembali menjadi mitra utama JAFF Market tahun ini. Komitmen Amar Bank untuk memahami karakteristik industri film dan mendorong lahirnya solusi keuangan yang relevan menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.

Di BPI, kata Fauzan, mereka diberikan mandat untuk memajukan ekosistem perfilman. Secara keekonomian dan pertemuan bisnis, JAFF Market telah menjadi agenda yang paling penting. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama seremonial, melainkan sebuah pengakuan bahwa industri film membutuhkan ruang yang terstruktur untuk bertumbuh.

Program yang Menyentuh Seluruh Rantai Nilai
JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank mempertahankan berbagai program utama yang mencakup seluruh rantai nilai industri. Mulai dari pengembangan proyek, peningkatan kapasitas talenta, business matching, hingga perluasan akses pasar internasional.

Program-program tersebut meliputi Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, serta JAFF IP Connection yang sebelumnya dikenal sebagai JAFF Content Market.

Setiap program dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik di setiap tahap produksi film. Bagi para pembuat film pemula, ada ruang untuk belajar dan mengasah kemampuan. Bagi para produser yang sedang mencari pendanaan, ada kesempatan untuk bertemu dengan investor potensial. Bagi mereka yang memiliki kekayaan intelektual yang ingin dikembangkan, ada jalur untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain mendorong peningkatan kompetensi pelaku industri, kemitraan ini juga membuka peluang eksplorasi inovasi, teknologi, serta pendekatan bisnis baru yang dapat memperkuat daya saing industri film Indonesia di tingkat regional maupun global.

Menatap Masa Depan
Bersiaplah untuk JAFF yang akan berlangsung pada 28 November hingga 5 Desember 2026 dan JAFF Market 2026 pada 28 hingga 30 November 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Ini bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah pernyataan bahwa industri film Indonesia sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.

Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia menunjukkan bahwa industri kreatif bisa menjadi salah satu motor pertumbuhan yang tangguh. Namun semua itu membutuhkan kerja sama, konsistensi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Kolaborasi antara Amar Bank, JAFF Market, BPI, dan enam asosiasi perfilman adalah langkah awal yang penting. Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun setidaknya, fondasi mulai dibangun. Ekosistem mulai terintegrasi. Dan harapan mulai tumbuh bahwa industri film Indonesia tidak hanya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu bersaing di panggung internasional.

Seperti yang dikatakan Menteri Fadli Zon, harapannya agar ekosistem perfilman Indonesia yang sedang tumbuh ini dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi sineas yang akan datang.

Film Indonesia sedang menulis bab baru. Dan di balik layar, ada cerita tentang kerja sama, mimpi, dan keyakinan bahwa industri ini layak untuk diperjuangkan. |WAW-DEOJ

Related post