Rasa Tokyo dalam 60 Detik
Ren & Reina – 60 Seconds to Tokyo
Ren dan Reina Mengajak Indonesia Berjalan-Jalan ke Jepang Tanpa Naik Pesawat
DUNIAEOJAKARTA.COM – Archipelago Hotels menggulirkan program 60 Seconds to Tokyo di 138 hotel. Ini bukan sekadar menu baru, melainkan strategi membidik tren wisata kuliner yang sedang memuncak.
Di sela hiruk pikuk lobi Hotel Neo Cirebon, aroma kuromitsu dan matcha bercampur dengan semangat pagi. Seorang koki melapisi puff pastry dengan krim hijau, menyelesaikan sentuhan akhir Kuromitsu Matcha Puff, hidangan penutup yang jadi salah satu senjata Archipelago Hotels dalam perang gaya hidup kali ini.
Di atas piring, ada cerita tentang kerinduan. Sosok Ren dan Reina, dua ikon fiksi yang mewakili narasi besar pengelola hotel swasta terbesar di Indonesia ini. Ren, pria berdarah campuran Indonesia-Jepang. Reina, perempuan Jepang yang tinggal di Indonesia. Mereka bukan sekadar maskot, melainkan personifikasi dari ambisi Archipelago, sebuah grup yang mengelola 45.000 kamar di lebih dari 300 hotel, menghadirkan cita rasa Tokyo ke seluruh penjuru Nusantara.
Mulai 1 Juli hingga 31 Desember 2026, sebanyak 138 unit hotel di bawah naungan Archipelago Hotels, dari Aston hingga fave, secara serentak menyajikan menu street food khas Tokyo . Program ini adalah seri terbaru dari Archipelago Global Flavours Series, sebuah inisiatif yang berganti tema setiap enam bulan. Sebelumnya, 60 Seconds to Seoul berhasil membawa cita rasa Korea dari Januari hingga Juni 2026 dan meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Hospitality Engagement Campaign .
Ada data yang mendasari langkah ini. Berdasarkan survei SiteMinder Changing Traveller Report 2025, Jepang menempati posisi pertama sebagai destinasi luar negeri favorit wisatawan Indonesia, dipilih oleh 33 persen responden. Angka ini bukan sekadar preferensi; Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat, wisatawan Indonesia ke Jepang sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai 558.900 orang, naik 26,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya . Angka itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya menyukai budaya Jepang, tetapi juga rela merogoh kocek untuk merasakannya langsung di tempat asalnya.
Archipelago membaca gelagat ini dengan cermat. CEO Archipelago Hotels, John Flood, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman autentik namun mudah dijangkau . Di sinilah letak kecerdasan strategi tersebut; mereka tidak menuntut tamu untuk terbang ke Tokyo, melainkan menghadirkan Tokyo ke meja makan tamu di hotel-hotel mereka, mulai dari Batam hingga Cilegon .
Tiga hidangan andalan menjadi pusat perhatian. Menchi Chicken Katsu, dengan kulit renyah dan daging ayam yang tetap gurih, disajikan dengan saus khas yang terinspirasi dari teknik memasak Jepang modern . Sakura Sunset menawarkan kesegaran floral yang membawa ingatan pada musim semi. Dan yang paling menarik, Kuromitsu Matcha Puff, yang memanfaatkan fenomena tingginya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap olahan matcha, mulai dari minuman hingga aneka pastry dan dessert .
Di luar tiga menu unggulan, masih ada deretan panjang hidangan yang siap menggoyang lidah: Takoyaki, Wagyu Burger, Yakimeshi Fried Rice, hingga Prawn Tempura Nori Taco . Minuman seperti Shizuku Matcha Cooler dan Hojicha Latte melengkapi pengalaman bersantap yang terasa seperti berada di sudut-sudut Tokyo.
Yang menarik, program ini tidak hanya diperuntukkan bagi tamu yang menginap. Masyarakat umum dapat menikmati sajian ini di restoran hotel, area poolside, melalui room service, maupun layanan pesan antar daring . Archipelago membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi Tokyo tanpa harus membeli tiket pesawat.
Di Cilegon, Doddy Fathurahman, Direktur PT Cilegon Properti Sejahtera, mengungkapkan antusiasmenya. “Kami ingin memberikan pengalaman kuliner yang unik dan berkesan bagi para tamu serta masyarakat Cilegon. Semoga program ini dapat menjadi pilihan menarik untuk menikmati cita rasa Jepang tanpa harus pergi ke Tokyo,” ujarnya . Hal serupa juga disampaikan di Batam, di mana Chef Brema Saragih dari Aston Batam Hotel & Residence menambahkan bahwa mereka juga menghadirkan booth bernuansa Jepang untuk pengalaman yang lebih imersif .
Momen ini menjadi menarik jika ditarik ke perspektif yang lebih luas. Di tengah kesibukan ekonomi dan keterbatasan waktu untuk liburan ke luar negeri, program ini adalah bentuk escapism yang cerdas. Archipelago tidak menjual kamar hotel semata; mereka menjual pengalaman, nostalgia, dan mimpi. Ren dan Reina adalah cerminan dari hasrat masyarakat urban yang ingin merasakan dunia tanpa meninggalkan kota.
Di sisi lain, ini adalah contoh bagaimana industri perhotelan beradaptasi. Bukan lagi sekadar tempat tidur dan sarapan, hotel kini menjadi destinasi kuliner. Dengan mengganti tema setiap enam bulan, Archipelago memastikan ada alasan bagi pelanggan untuk kembali. Seoul selesai, Tokyo hadir. Pertanyaannya, kota mana yang akan menjadi tujuan berikutnya? |WAW-DEOJ