Workshop AI Ready ASEAN: Menyulap Kelas Jadi Lab AI
Dr. Piti Srisangnam Eksekutif Direktur ASEAN Foundation, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Siswa
Ketika 500 Pelajar Bandung Berkenalan dengan Kecerdasan Buatan
DUNIAEOJAKARTA.COM – SMP Plus Muthahhari, Kabupaten Bandung, pada 26 Maret 2026 lalu, bukan sekadar menjadi ruang belajar biasa. Halaman dan ruang kelasnya berubah menjadi semacam laboratorium eksperimen sosial berskala besar. Tidak ada demo produk teknologi canggih atau pameran robotika yang biasanya memenuhi acara bertema digital. Yang terjadi justru sesuatu yang lebih fundamental. Sebanyak 500 pelajar duduk bersama, bukan untuk menghafal rumus, melainkan untuk diajak berdialog dengan sesuatu yang kini perlahan menjadi kekuatan senyap di balik layar ponsel dan komputer mereka: kecerdasan artifisial.
Peristiwa itu adalah bagian dari rangkaian workshop AI Ready ASEAN, sebuah inisiatif regional yang digagas ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org. Dari sudut pandang penyelenggara acara, gelaran ini punya kompleksitas yang menarik. Mereka tidak sekadar mengangkut 500 siswa ke dalam satu ruangan untuk mendengarkan ceramah. Tantangannya adalah bagaimana mengemas konsep yang abstrak dan berlapis, seperti kecerdasan artifisial, menjadi sesuatu yang aplikatif dan kontekstual bagi anak-anak yang kesehariannya mungkin lebih akrab dengan gawai daripada definisi algoritma.
Inovasi dari acara ini terletak pada pendekatan desain aktivitasnya. Tidak ada panggung megah dengan layar raksasa yang mendikte materi. Penyelenggara justru membagi para pelajar ke dalam sesi-sesi interaktif yang memaksa mereka berpikir. Ada sesi pengenalan konsep dasar AI yang disampaikan dengan analogi sederhana. Lalu, diskusi kelompok yang mengajak mereka memilah mana penggunaan AI yang etis dan mana yang mulai melampaui batas. Yang paling menarik adalah bagaimana mereka menghadirkan interaksi langsung yang membuat materi tersebut terasa relevan dengan keseharian. Para pelajar diajak mempertanyakan, bukan hanya menerima. Ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembangunan kesadaran.
Keunikan acara ini juga terletak pada narasi besar yang menyertainya. Workshop ini dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Kehadiran orang nomor dua di republik ini memberikan bobot kebijakan yang jarang dimiliki acara serupa. Namun, yang lebih krusial adalah penekanan yang disampaikannya. Di hadapan ratusan pelajar, Wapres tidak mempromosikan AI sebagai solusi instan. Ia justru memberi peringatan yang tegas, kemampuan berpikir kritis anak-anak harus tetap dijaga dan dipantau. “Jangan sampai semua jawaban dicari dari AI hingga menimbulkan ketergantungan,” ujarnya. Peran guru dan orang tua, lanjutnya, menjadi krusial dalam memberikan bimbingan. Pernyataan ini membalik keramaian tentang AI yang selama ini lebih banyak berfokus pada efisiensi, menjadi sorotan pada aspek etika dan pengawasan.
Kehebohan sesungguhnya dari acara ini tidak datang dari efek visual atau hiburan, melainkan dari sebuah ironi yang dihadirkan. Di tengah euforia teknologi yang kerap menggiring pada perlombaan adopsi tanpa batas, workshop ini justru mengajak anak-anak berhenti sejenak untuk mempertanyakan ketergantungan. Ini menjadi titik yang berpotensi viral karena menyentuh isu yang sedang menjadi keresahan banyak orang tua dan pendidik. Program yang telah menjangkau lebih dari 6 juta penerima manfaat di ASEAN dan melatih lebih dari 3.500 Master Trainers ini, di Bandung memilih untuk tidak memamerkan angka, melainkan menguji kesadaran.
Kunci sukses acara ini, jika dibedah dari kacamata event organizer, bukan hanya pada skala atau jumlah peserta. Ada tiga pilar yang dijalankan dengan cermat. Pertama, kolaborasi lintas sektor yang solid. ASEAN Foundation bertindak sebagai eksekutor, Google.org sebagai pendukung, pemerintah hadir untuk memberikan legitimasi kebijakan, dan sekolah sebagai tuan rumah yang memahami konteks lokal. Kedua, konten yang tidak sekadar informatif tetapi juga reflektif. Sesi diskusi tentang pemanfaatan AI secara bertanggung jawab menjadi jembatan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, pendekatan yang humanis. Dengan menekankan pada pentingnya pendampingan dari guru dan orang tua, acara ini menyadari bahwa transformasi digital tidak bisa hanya dijalankan oleh anak-anak sendirian.
Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, menegaskan visi bahwa setiap pelajar berhak mendapat kesempatan yang sama memahami kecerdasan artifisial. Baginya, transformasi digital adalah tentang membuka pintu peluang, bukan sekadar urusan teknologi. Pernyataan ini menjadi benang merah yang menjelaskan mengapa acara itu dirancang dengan penekanan pada pembangunan rasa percaya diri, bahwa anak-anak ini tidak hanya mampu mengikuti zaman, tetapi juga turut membentuk masa depan digital yang inklusif.
Pada akhirnya, workshop yang digelar di Bandung ini meninggalkan sebuah pesan yang jelas bagi para pelaku industri event dan ekosistem pendukungnya. Acara yang berdampak tidak selalu harus dibalut dengan kemewahan produksi. Namun, bisa juga hadir dari keberanian menciptakan ruang untuk refleksi. Di tengah pusaran inovasi teknologi yang melaju cepat, menyisipkan jeda untuk berpikir kritis justru bisa menjadi atraksi paling berkesan. Dan untuk 500 pelajar di Bandung itu, mereka pulang dengan kesadaran baru. Bahwa AI bisa menjadi alat yang hebat, tapi kendali tertinggi tetap berada di tangan mereka yang berani bertanya dan terus berpikir. |WAW-DEOJ