Bagaimana Dunia EO Memaknai Peringatan Hari Anak Internasional?
Industri event masa depan adalah yang menjaga keberanian berimajinasi seperti anak anak
DUNIAEOJAKARTA.COM – Dalam sebuah konferensi industri kreatif di Jakarta beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali pernah mengingatkan bahwa dunia bergerak lebih cepat daripada pola pikir yang kita pakai untuk mengelolanya. Ia menyebut pentingnya kemampuan melihat ke depan tanpa terperangkap pada rutinitas yang membius. Kata kata itu kembali terngiang setiap kali kita menyaksikan klien EO meminta sesuatu yang aman saja. Aman di sini sering berarti mengulang pola acara yang sama. Aman sering berarti tidak mengambil risiko. Aman sering berarti berhenti membayangkan.
Padahal imajinasi adalah sumber energi yang membuat industri ini hidup. Tanpa imajinasi event hanyalah serangkaian aktivitas logistik. Kursi yang diatur. Lampu yang dipasang. Panggung yang dinaikkan. Waktu yang disusun seperti lembar excel. Namun dengan imajinasi panggung menjadi ruang perjumpaan. Lampu menjadi penanda emosi. Agenda menjadi pengalaman yang dikenang.
Menurut riset World Economic Forum tahun 2023 kemampuan berpikir kreatif dan imajinatif kembali menempati daftar tiga besar keterampilan paling dibutuhkan dalam lanskap pekerjaan modern. Laporan itu mencatat bahwa inovasi tidak lagi lahir dari teknologi semata tetapi dari kemampuan manusia membayangkan kegunaan baru atas teknologi tersebut. Industri event adalah salah satu panggung uji kemampuan itu.
Saya teringat percakapan dengan seorang produser kreatif senior yang bekerja di Singapura. Ia bercerita bahwa sebagian besar proyek event berskala global kini menuntut skenario pengalaman yang imersif. Bukan lagi sekadar visual megah atau tata cahaya yang mencolok. Yang dituntut adalah bagaimana peserta merasa terlibat secara emosional. Bagaimana mereka merasa masuk ke dalam sebuah cerita. Ia menyebut contoh keberhasilan Tokyo 2020 yang tetap memprioritaskan narasi kemanusiaan meski berlangsung di tengah pandemi. Di sana kreativitas bekerja sebagai kompas yang menenangkan panik.
Psikolog perkembangan Jean Piaget pernah menyatakan bahwa anak anak memiliki kemampuan alami untuk menggunakan dunia imajinasi sebagai alat memahami kehidupan. Mereka tidak takut salah. Tidak takut terlihat aneh. Mereka bereksperimen lewat permainan. Cara berpikir semacam ini kini dianggap sebagai aset penting dalam desain pengalaman. Event bukan lagi ruang seremonial tetapi ruang bermain yang terstruktur. Ruang di mana ide bisa diuji seperti eksperimen kecil. Ruang di mana peserta tidak hanya menyaksikan tetapi ikut membentuk cerita.
Dalam sebuah kelas master branding, Yoris Sebastian mengingatkan bahwa kreativitas sering kali berhenti bukan karena kekurangan ide, melainkan karena orang dewasa terlalu cepat menilai sebuah gagasan sebagai tidak mungkin. Ia menyebut bahwa masa depan industri apapun akan bergantung pada kemampuan mempertahankan keberanian untuk menjadi lugu sesekali. Dalam lugunya anak anak tersimpan dorongan untuk mencoba. Inilah yang sering hilang ketika industri event terjebak pada aspek teknis yang kaku.
Industri event global sendiri sedang mengalami pergeseran besar. Laporan EventMB 2024 menyebut meningkatnya permintaan akan pengalaman multisensori yang memadukan unsur seni, sains, dan teknologi. Bukan sebuah perubahan yang datang tiba tiba. Di Eropa festival seni digital seperti Ars Electronica sejak lama memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas disiplin mampu menghidupkan ulang cara khalayak memandang ruang publik. Teknologi realitas campuran, instalasi interaktif, dan seni berbasis data menjadi jembatan antara pengetahuan dan imajinasi. Di sana tampak bahwa inovasi tidak lahir dari rasa takut melainkan dari rasa ingin tahu.
Di Indonesia sendiri pertumbuhan industri event pascapandemi menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Data Badan Pusat Statistik mencatat peningkatan jumlah perjalanan bisnis dan kegiatan MICE sepanjang 2023 hingga 2024. Momentum ini seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang cara kita mendesain acara. Panggung yang lebih sederhana pun mampu memberikan pengalaman mendalam jika punya ruh imajinasi yang tulus. Sebaliknya panggung besar bisa kehilangan arti jika diperlakukan hanya sebagai alat administratif.
Saya pernah menyaksikan bagaimana sebuah workshop kecil di Bandung lebih meninggalkan kesan dibanding sebuah konferensi mewah di hotel bintang lima. Di workshop itu peserta diminta menggambar ulang masa depan industri mereka masing masing. Tidak ada alat canggih. Tidak ada layar raksasa. Hanya kertas, pensil, dan keberanian membayangkan. Dalam satu jam ruangan itu berubah menjadi tempat penyemaian gagasan. Para peserta keluar dengan mata yang berbinar. Mereka merasakan kembali sesuatu yang mungkin sudah lama hilang dari kerja harian.
Inti dari semua ini bukan romantisisme pada masa kecil. Bukan glorifikasi pada permainan. Ini soal kemampuan mempertahankan ruang mental yang tidak takut untuk mulai lagi dari awal. Dalam jurnalisme sastrawi, Goenawan Mohamad sering mengajak pembacanya melihat realitas dari celah yang tidak biasa. Ia menyajikan dunia dengan sudut pandang yang membuat pembaca berhenti sejenak. Mengendapkan makna. Cara pandang itu juga dibutuhkan dalam industri event. Bukan untuk menjadi aneh anehan tetapi untuk menemukan kembali kepekaan pada detail kemanusiaan.
Di masa depan event yang berharga bukan yang paling mahal atau paling meriah. Yang berharga adalah yang berhasil membawa orang pada pengalaman yang jujur. Yang menyentuh perasaan ingin tahu. Yang membuat peserta pulang dengan pandangan yang sedikit berubah. Untuk mencapai itu kita membutuhkan keberanian seperti anak anak yang bermain tanpa takut jatuh.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya lagi. Kapan terakhir kali kita membayangkan tanpa batas. Kapan terakhir kali kita merancang acara tanpa terlebih dahulu memikirkan keterbatasan. Industri event masa depan bukan semata tentang teknologi canggih atau efek visual yang heboh. Ia adalah tentang menjaga kemampuan bermimpi yang sederhana. Kemampuan yang pernah begitu alami ketika kita masih kecil. Kemampuan yang sering hilang ketika kita mulai menghitung terlalu banyak.
Jika industri ini ingin tetap relevan, maka ia harus belajar kembali pada anak anak. Mereka yang tidak pernah ragu membangun istana dari pasir. Mereka yang menyusun langit dari potongan kertas. Mereka yang percaya bahwa satu garis kecil di kertas bisa menjadi awan. Dan mungkin memang benar. Masa depan industri event akan dimenangkan oleh mereka yang masih punya keberanian semacam itu. Mereka yang melihat panggung bukan sebagai struktur besi, tetapi sebagai ruang kemungkinan. |WAW-DEOJ