Panggung di Lantai Dasar FIF

 Panggung di Lantai Dasar FIF

Jajaran Direktur FIFGROUP, Esther Sri Harjati (kedua dari kanan) dan Julius Julianto Kusdinar (paling kanan) bersama manajemen menunjukkan dukungan nyata kepada pelaku UMKM dengan berbelanja produk kuliner di booth Niharchaniago, salah satu UMKM binaan FIFGROUP dalam FIFestival Street Food 2026.

Ketika Korporasi Belajar Merayakan UMKM Bukan Sekadar Seremonial

DUNIAEOJAKARTA.COM—Di pelataran parkir Menara FIF, Cilandak, Selasa siang itu, aroma sate lilit campur terik matahari Jakarta menciptakan simfoni tersendiri. Seorang ibu paruh baya dengan cepat melayani antrean pembeli di depan booth Roti Bakar Bandung Asbak. Tiga puluh menit kemudian, stoknya habis. Rukiyah, pemiliknya, hanya tersenyum. Baginya, tiga hari ke depan adalah kesempatan emas yang datang setahun sekali.

Inilah FIFestival Street Food 2026. Bukan pameran UMKM biasa. Ini adalah laboratorium hidup bagaimana sebuah korporasi sebesar FIFGROUP, anak perusahaan Astra dengan lebih dari 1.600 jaringan di Indonesia, belajar merangkul ekonomi kecil dari sudut paling manusiawi: perut.

Lebih dari Sekadar Bazar

Sebagai event, festival yang berlangsung 2–4 Juni 2026 ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemui dalam program CSR korporasi. Dari 28 UMKM binaan yang hadir, FIFGROUP melakukan kurasi ketat. Tidak semua peserta otomatis masuk. Sebanyak 13 UMKM dipilih berdasarkan kelancaran pengembalian dana bergulir plus kehadiran mereka di workshop pelatihan. Itu artinya: ada sistem, ada akuntabilitas, bukan sekadar bagi-bagi uang.

Namun yang membuat acara ini menarik dari sudut pandang penyelenggara adalah strategi pencampuran peserta. FIFGROUP menghadirkan empat tenant dari FINATRA, unit bisnis pembiayaan UMKM mereka, yang sudah terbukti melakukan ekspansi. Lalu ada 11 tenant dari program internal FIFpreneur, khusus karyawan dan eks-karyawan yang berbisnis mandiri. Kombinasi ini menciptakan ekosistem tertutup yang dinamis: eksternal binaan sosial, eksternal binaan kredit, dan internal inkubasi.

Seorang event organizer yang menangani festival korporat akan langsung menangkap kejeniusan sederhana di sini. FIFGROUP tidak mengundang UMKM sembarangan. Mereka membangun pipeline peserta dari program-program yang sudah berjalan. Festival bukanlah kegiatan pamungkas, melainkan klimaks dari proses pembinaan panjang.

Angka yang Bicara

Tahun lalu, gelaran serupa mencatat total transaksi Rp343 juta selama tiga hari. Rata-rata harian peserta mencapai Rp114 juta, tumbuh 22,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini faktual, tertulis dalam siaran pers, dan menjadi pijakan penting. Untuk sebuah festival street food skala korporat di area parkir kantor, angka itu menunjukkan sesuatu: kurasi yang tepat memproduksi daya beli yang nyata.

Tahun ini, dengan 28 tenant, targetnya mungkin lebih tinggi. Tapi yang lebih menarik adalah bagaimana FIFGROUP mengemas engagement pengunjung. Tidak sekadar jualan. Ada lomba karaoke, mukbang, workshop Kreasi Plastik dari Alika Najma Alex (Founder of Rue), serta talkshow FIFGROUP Aman Berlalu Lintas. Pengunjung yang mengisi saldo AstraPay mendapat cashback dan merchandise. Booth lini bisnis FIFGROUP menawarkan special rate, tukar tambah, DP 0 persen, hingga bebas biaya administrasi.

Inilah yang membedakan festival biasa dari festival yang dirancang sebagai ecosystem touch point. Setiap elemen, dari pembayaran digital hingga program kredit, disatukan dalam satu panggung.

Yang Tak Terlihat di Atas Kertas

Sekretaris Kecamatan Cilandak, Rizki Januar, hadir dalam pembukaan. Pejabat setempat datang bukan sekadar seremoni. Kehadirannya menandakan bahwa festival ini telah menjadi bagian dari denyut ekonomi warga sekitar. Tapi dari kacamata event organizer, momen paling penting justru terjadi di luar area panggung.

Esther Sri Harjati, Direktur FIFGROUP, bersama CEO Indra Gunawan, terlihat berkeliling. Mereka tidak hanya meresmikan dengan gunting pita. Mereka memakai apron, berdiri di samping UMKM, lalu berbelanja di booth Niharchaniago. Foto kedua dalam siaran pers memperlihatkan jajaran direktur membayar dan membawa pulang produk kuliner. Ini bukan sekadar photo op. Ini sinyal: direksi tidak datang lalu pergi. Mereka menjadi bagian dari transaksi.

Dalam dunia penyelenggaraan event korporat, momen seperti ini jarang terjadi. Biasanya, pejabat datang, sambutan, potong pita, lalu menghilang ke ruang VIP. FIFGROUP melakukan sebaliknya. Mereka menjadikan para petinggi sebagai walker talker yang menyatu dengan kerumunan.

Pelajaran untuk Industri Event

Apa yang bisa dipetik oleh para event organizer dari FIFestival Street Food 2026?

Pertama, festival bukanlah titik akhir. FIFGROUP membangun acara ini dari data program pendampingan yang sudah berjalan. Hasilnya, tenant yang hadir adalah mereka yang sudah teruji kelayakan dan komitmennya. Risiko kegagalan acara menjadi kecil.

Kedua, integrasi lini bisnis. AstraPay, FIFGROUP Aman Berlalu Lintas, Koperasi 2000, FINATRA, semua hadir bukan sebagai sponsor lepas, tapi sebagai ekosistem. Setiap transaksi di booth UMKM berpotensi menjadi pintu masuk layanan keuangan lain. Ini bukan sekadar festival, ini customer acquisition channel yang dikemas dalam bentuk panggung hiburan.

Ketiga, keterlibatan aparatur setempat. Kehadiran Sekretaris Kecamatan bukan formalitas. Itu adalah pengakuan bahwa ruang publik yang digunakan memiliki legitimasi sosial. Bagi EO yang kerap berurusan dengan perizinan, ini pelajaran penting: libatkan pemerintah daerah sejak awal, jadikan mereka bagian dari narasi.

Keempat, human interest yang otentik. Rukiyah dari Roti Bakar Bandung Asbak tidak dihadirkan sebagai simbol. Ucapannya dikutip apa adanya: “Kami sangat bersyukur.” Tidak ada kalimat bombastis. Dalam jurnalisme dan dalam penyelenggaraan acara, otentisitas seperti ini lebih berbobot daripada testimoni yang terlalu diatur.

Panggung yang Merata

FIFestival Street Food 2026 berada di bawah Pilar FIFGROUP Sejahtera, yang mendukung SDGs nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Tapi bagi para pelaku UMKM yang berjualan di terik Jakarta, SDGs hanyalah jargon. Yang mereka rasakan adalah antrean, uang tunai yang berpindah tangan, dan stok yang habis sebelum senja.

Dari sudut pandang event organizer, festival ini membuktikan bahwa acara korporat tidak harus megah di konvensi center. Cukup di halaman kantor, dengan tenda sederhana, tapi dengan kurasi yang cermat dan keterlibatan yang tulus. Karena pada akhirnya, ukuran sebuah festival bukan pada berapa banyak orang yang datang, melainkan pada berapa banyak pelaku usaha yang pulang dengan kantong lebih tebal dan senyum lebih lebar.

Seperti yang dilakukan Ibu Rukiyah. Setelah stok roti bakarnya habis, ia tidak buru-buru pulang. Ia berjalan ke booth sebelah, membeli es kelapa muda, lalu duduk di kursi plastik. Menikmati sisa hari pertamanya di panggung yang sesungguhnya: panggung kehormatan bagi mereka yang selama ini hanya melihat korporasi dari kejauhan. Kini, mereka berdiri di tempat yang sama.|WAW-DEOJ

Related post