Di Balik Panggung Sunyi: Pembalut dan Imunisasi Menjadi Naskah Peradaban
Sesi-Talkshow-di-acara-Press-Conference-WINGS-for-UNICEF-Bersama-Hers-Protex
DUNIAEOJAKARTA.COM – Ada semacam kegelisahan yang jarang terdengar di lorong-lorong sekolah. Bukan tentang nilai ujian atau tugas rumah, melainkan tentang sesuatu yang lebih purba, lebih intim, dan kerap disembunyikan di balik lipatan seragam putih biru. Di sebuah SMP di Kabupaten Bandung Barat, seorang siswi pernah bertanya dengan suara nyaris berbisik, “Apakah saya masih boleh ikut pelajaran olahraga nanti?”
Pertanyaan itu, yang mungkin terdengar sepele bagi sebagian telinga, sesungguhnya mewakili ribuan bahkan jutaan remaja putri di Indonesia. Mereka tumbuh dalam sunyi, menavigasi masa pubertas tanpa peta yang memadai, sementara fasilitas sekolah masih jauh dari ramah. Data Sanitasi Sekolah Menengah Pertama Tahun 2022 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat, secara nasional rasio toilet perempuan masih bertengger di angka 1:74. Belum ada satu pun provinsi yang memenuhi standar regulasi pemerintah.
Di sinilah naskah peradaban itu mulai ditulis ulang.
WINGS Group, melalui lengan sosialnya Yayasan WINGS Peduli dan produk pembalut Hers Protex, memilih untuk mendengarkan bisikan-bisikan sunyi itu. Mereka tidak datang dengan gegap gempita panggung festival, melainkan menyusup ke dalam ruang-ruang kelas di 20 Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar. Sebuah rangkaian edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi atau MKM diluncurkan, menargetkan 2.000 siswi dan 2.000 orang tua, berlangsung dari Mei hingga Juli 2026.
Di atas kertas, ini adalah program kampanye Generasi Bersih Sehat. Tapi di lapangan, ini adalah upaya membongkar tabu yang telah mengakar selama bergenerasi.
Stella Eidelina, Marketing Manager Paper Product Category WINGS Group Indonesia, memahami betul bahwa persoalan ini bukan sekadar tentang menyediakan pembalut yang tepat dan nyaman. “Kami ingin mendorong remaja putri memiliki pemahaman yang tepat mengenai manajemen kebersihan menstruasi sejak dini,” ujarnya dalam peluncuran program di IDN Global Tower Jakarta, 22 April 2026. Ada keyakinan dalam suaranya bahwa pengetahuan adalah modal paling dasar bagi seorang anak perempuan untuk berani mengangkat tangan di kelas, untuk tetap hadir di lapangan olahraga, untuk tidak menjadikan menstruasi sebagai alasan menepi.
Data UNICEF memperkuat urgensi itu. Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, mengungkapkan bahwa satu dari tujuh anak perempuan di Indonesia memilih tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih saat menstruasi. “Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi langkah penting dalam memperkuat praktik kebersihan menstruasi di lingkungan pendidikan,” katanya. Ia berbicara tentang akses, tentang dukungan lingkungan sekolah yang memadai, tentang hak belajar yang tidak boleh terhenti hanya karena tubuh seorang remaja putri menjalani siklus alamiahnya.
Apa yang dilakukan WINGS bersama UNICEF dan Hers Protex bukanlah sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan yang lahir dari rapat dewan direksi. Ini adalah jawaban atas kenyataan pahit bahwa banyak remaja putri di negeri ini masih merasa cemas saat pertama kali mengalami menstruasi. Kurangnya akses informasi yang tepat membuat mereka berjalan tanpa pegangan. dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menekankan bahwa edukasi kesehatan menstruasi sejak usia remaja berperan penting dalam membantu remaja memahami perubahan tubuhnya secara tepat. “Dukungan lingkungan sekolah yang informatif, orang tua yang siap mendampingi, penggunaan pembalut yang tepat, serta fasilitas sanitasi yang memadai juga menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan selama menstruasi,” tuturnya.
Tapi cerita ini tidak berhenti di situ.
Di belahan lain Jakarta, tepatnya di Cakung Barat, Jakarta Timur, Yayasan WINGS Peduli menulis babak berbeda dari naskah yang sama. Pada 18 April 2026, mereka meresmikan kelanjutan kampanye Generasi Bersih Sehat dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Jika di Bandung Barat dan Makassar fokusnya pada remaja putri dan menstruasi, di Cakung fokusnya melebar ke seluruh anggota keluarga.
Plt. Kepala Puskesmas Cakung, dr. Rita Anggraini, MKM, menyambut inisiatif ini dengan optimisme yang berdasar. Berdasarkan profil kesehatan warga Cakung Barat per Januari 2026, terdapat dua kasus penyakit menular tertinggi yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi, yakni campak dan TBC. Temuan ini berjalan seiring dengan masih rendahnya penetrasi vaksinasi dasar di wilayah tersebut. “Kami mendukung penuh segala bentuk kontribusi yang dapat membantu peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk membentuk generasi produktif,” katanya.
Apa yang terjadi di Cakung adalah sebuah orkestrasi kesehatan masyarakat yang jarang terlihat. Yayasan WINGS Peduli merancang kampanye ini dalam tiga babak, promotif, preventif, dan kuratif.
Pada babak promotif, mereka menghadirkan pertunjukan interaktif bertajuk “Keluarga Bersih Sehat”. Empat karakter, Ibu, Bapak, dan dua anak, diperankan oleh komunitas profesional. Mereka merepresentasikan kebiasaan sehat masyarakat Indonesia, disisipkan dengan humor dan nilai-nilai lokal. Sebuah cara yang cerdas untuk membuat edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS tidak terasa menggurui. Booth-booth edukasi interaktif turut mengenalkan produk-produk WINGS sebagai penunjang sarana PHBS sehari-hari.
Babak preventif berlangsung lebih senyap namun tak kalah kuat. Pemeriksaan kesehatan umum, imunisasi anak, pemeriksaan kanker rahim dan kehamilan, hingga pemeriksaan gigi disediakan secara gratis. Ini adalah ikhtiar mencegah sebelum mengobati, sebuah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin baru terlihat sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.
Lalu babak kuratif. Yayasan WINGS Peduli memberikan bantuan fasilitas kepada Puskesmas Cakung Barat, mulai dari pengecatan dinding, penyediaan kursi roda, hingga perbaikan toilet. Upaya ini memastikan bahwa fasilitas kesehatan sebagai benteng terakhir penanganan medis berada dalam kondisi yang layak dan siap melayani.
Seva Nefertiti, perwakilan Yayasan WINGS Peduli, menggarisbawahi filosofi yang menjiwai semua ini. “Masyarakat yang berkualitas dimulai dari keluarga yang sehat, dan kesehatan dimulai dari kebiasaan yang bersih. Melalui pilar Kesehatan, kami mengajak masyarakat melakukan tiga aksi sehat, yakni Terapkan PHBS, Lengkapi Imunisasi, dan Kunjungi Faskes,” ujarnya. Ia percaya bahwa upaya kolektif antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat adalah syarat mutlak untuk meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
Yang menarik dari kampanye ini adalah pendekatan berkelanjutannya. Setelah seremoni peresmian usai, kader “Generasi Bersih Sehat” tidak ikut bubar. Mereka justru memulai peran sebagai agen perubahan, melanjutkan sosialisasi PHBS secara rutin langsung ke lingkungan masyarakat. Bersama Puskesmas Kecamatan Cakung, kegiatan vaksinasi serta distribusi produk sanitasi akan terus digulirkan. Ini bukan program yang selesai setelah spanduk diturunkan.
Jika dilihat dari kacamata industri event dan aktivasi merek, apa yang dilakukan WINGS Group melalui dua inisiatif ini adalah sebuah kelas master tentang bagaimana sebuah korporasi dapat bergerak melampaui batas-batas pemasaran konvensional. Mereka tidak sekadar menjual pembalut atau sabun, melainkan menjual martabat, kepercayaan diri, dan masa depan. Hers Protex tidak lagi sekadar sebuah produk di rak supermarket, melainkan menjadi bagian dari narasi besar tentang remaja putri yang berani tetap bersekolah saat menstruasi. Produk-produk rumah tangga WINGS tidak lagi sekadar benda pakai habis, melainkan alat penunjang sebuah gerakan kesehatan masyarakat yang holistik.
Kunci sukses dari acara dan kampanye ini, bagi para event organizer dan pemasar, terletak pada kemampuannya menyatukan data dengan empati. Data rasio toilet sekolah yang buruk, data satu dari tujuh remaja putri bolos sekolah, data rendahnya vaksinasi dasar di Cakung, semua dijadikan fondasi. Tapi di atas fondasi itu, mereka membangun cerita yang manusiawi, yang menyentuh, yang membuat setiap penerima manfaat merasa dilihat dan didengar.
Keunikan lainnya adalah pendekatan berbasis lokalitas. Di Bandung Barat dan Makassar, program menyasar sekolah dan melibatkan orang tua. Di Cakung, program menyasar keluarga dan melibatkan kader kesehatan setempat. Tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua. Setiap wilayah mendapatkan porsi dan metode yang disesuaikan dengan karakternya masing-masing.
Inovasi ide kreatif yang paling menonjol adalah penggunaan pertunjukan interaktif “Keluarga Bersih Sehat” sebagai media edukasi. Di era digital di mana semua berebut perhatian lewat layar ponsel, Yayasan WINGS Peduli justru memilih panggung fisik, menghadirkan karakter-karakter yang bisa berinteraksi langsung dengan warga. Humor dan nilai lokal menjadi jembatan yang membuat pesan kesehatan tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai obrolan akrab di teras rumah.
Para event organizer yang mencermati inisiatif ini bisa belajar banyak tentang bagaimana merancang pengalaman yang meninggalkan jejak. Yang diadakan bukan sekadar acara, melainkan titik awal sebuah perubahan perilaku jangka panjang. Kader yang dibentuk, fasilitas yang diperbaiki, edukasi yang ditanamkan, semuanya dirancang untuk terus hidup dan berkembang bahkan setelah tim penyelenggara pulang ke kantor masing-masing.
Filosofi perusahaan yang menjadi napas dari semua ini terangkum dalam slogan “Life keeps getting better with WINGS”. Tapi slogan itu tidak hanya tercetak di materi promosi. Ia mewujud dalam toilet sekolah yang lebih layak, dalam kepercayaan diri remaja putri yang kembali naik, dalam anak-anak Cakung yang lengkap imunisasinya, dalam keluarga-keluarga yang mulai mempraktikkan PHBS dari rumah.
Di sebuah sudut SMP di Makassar, beberapa bulan dari sekarang, seorang siswi mungkin akan menghampiri gurunya dan berkata dengan suara yang tidak lagi berbisik, “Bu, saya sedang menstruasi, tapi saya tetap mau ikut pelajaran.” Kalimat itu, sederhana adanya, adalah bukti bahwa naskah peradaban yang ditulis di balik panggung sunyi telah sampai ke pemirsa yang tepat.
Dan di Cakung, seorang ibu mungkin akan tersenyum melihat anaknya yang sudah divaksinasi, sembari mengingat adegan-adegan lucu dari pertunjukan “Keluarga Bersih Sehat” yang pernah disaksikannya. Ia lalu menyapu halaman rumahnya, mencuci tangan dengan sabun, melakukan hal-hal kecil yang jika diakumulasikan ke jutaan keluarga akan menjadi fondasi Indonesia Emas 2045.
Inilah yang terjadi ketika sebuah korporasi memilih untuk tidak hanya berbicara tentang profit, tetapi juga tentang peradaban. Ketika data dijadikan dasar, empati dijadikan metode, dan keberlanjutan dijadikan komitmen. Panggung mungkin tidak bergemuruh, poster mungkin tidak seheboh iklan produk terbaru, tapi dampaknya beresonansi ke tempat-tempat yang paling membutuhkan.
Bagi para kreator acara dan aktivasi merek, kisah ini menawarkan sebuah paradigma: bahwa acara yang paling berkesan bukanlah yang paling meriah, melainkan yang paling mengerti kebutuhan audiensnya. Bahwa keberhasilan sebuah kampanye tidak diukur dari berapa banyak kamera yang meliput, melainkan dari berapa banyak kehidupan yang berubah. Bahwa di balik setiap data dan statistik, selalu ada wajah manusia yang menunggu untuk disentuh, didengar, dan dimanusiakan. |WAW-DEOJ