FAO dan UN Women Memulai Kampanye Tahun Petani Perempuan

 FAO dan UN Women Memulai Kampanye Tahun Petani Perempuan

Siaran Pers IYWF FAO | Ardila Syakriah

Kisah dari Manggarai Barat, di mana 25 petani perempuan belajar bertahan di tengah ketidakpastian cuaca dan ketimpangan akses.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah pagi yang lembap di Labuan Bajo, 7 Mei 2026, Siti Sadyatun menyerahkan secarik kertas kepada Martha Alfanita. Bukan dokumen biasa. Itu adalah rekomendasi hasil pertemuan tahunan Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri. Sebuah suara yang lahir dari kegelisahan puluhan petani perempuan yang tanahnya mulai berubah tak menentu.

Siti adalah ketua APIR Kabupaten Manggarai Barat. Ia juga petani. Dan seperti ribuan petani perempuan lainnya di Nusa Tenggara Timur, ia tahu persis bagaimana perubahan iklim bukan sekadar istilah asing. Ia adalah tamu tak diundang yang merusak musim tanam, mengaburkan perkiraan hujan, dan membuat hasil panen merosot tanpa ampun.

Hari itu, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB bersama UN Women resmi memulai kampanye Tahun Petani Perempuan. Lokasi pertama Manggarai Barat. Kemudian akan meluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia sepanjang tahun ini. PBB sendiri telah menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan, untuk menyoroti kesenjangan gender yang selama ini nyaris tak terdengar.

Data FAO menyebutkan perempuan mencakup 41 persen tenaga kerja global di sektor pangan dan pertanian. Namun kontribusi besar itu tak dibayar setimpal. Petani perempuan umumnya mengelola lahan lebih kecil dibanding laki-laki. Kesenjangan gender dalam produktivitas lahan mencapai 24 persen. Pendapatan mereka hanya 82 sen untuk setiap 1 dolar yang dihasilkan laki-laki.

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik mencatat perempuan mencakup 38 persen dari total tenaga kerja sektor pertanian. Angka itu setara 14,81 juta orang. Namun ketidaksetaraan akses terhadap lahan, pelatihan, dan layanan keuangan membuat mereka lebih rentan saat iklim berubah murka.

Ulziisuren Jamsran, UN Women Indonesia Representative, mengatakan memberdayakan petani perempuan sama dengan memberdayakan seluruh komunitas. Pengetahuan dan aksi berbasis komunitas yang mereka lakukan, ujarnya, sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan ketahanan pangan.

Pelatihan yang Bukan Sekadar Teori

Di Manggarai Barat, pelatihan tak berlangsung di ruang ber-AC. FAO dan UN Women menggandeng Yayasan Komodo Indonesia Lestari alias YAKINES. Dua puluh lima petani perempuan terjun langsung belajar pertanian berkelanjutan, pengolahan dan pemasaran bernilai tambah, literasi keuangan, hingga kepemimpinan perempuan.

Mereka tak hanya diajari cara bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan. Mereka juga didorong bicara di forum dialog kebijakan. Di situlah mereka menyampaikan apa yang selama ini tak banyak didengar para pengambil keputusan.

Maria V. Tukan, Koordinator Kecamatan Sano Nggoang sekaligus Sekretaris APIR, berbicara soal kedaulatan pangan, perubahan iklim, serta air dan hutan. Para petani perempuan itu menekankan bahwa solusi lokal seperti pangan lokal, lumbung pangan, hingga metode penyimpanan tradisional untuk benih dan hasil panen perlu diperkuat. Bukan ditinggalkan.

Mereka juga menyadari satu hal. Dampak berkelanjutan sangat bergantung pada regulasi daerah yang mendukung sistem pangan berkelanjutan. Regulasi yang berakar pada konteks lokal Kabupaten Manggarai Barat. Bukan kebijakan yang lahir dari ruang rapat yang jauh dari tanah.

Kerugian yang Tak Netral Gender

Laporan FAO berjudul The Unjust Climate mengungkap fakta mengejutkan. Rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan 8 persen lebih banyak pendapatan dibanding rumah tangga yang dikepalai laki-laki akibat cekaman panas. Total kerugian mencapai 37 miliar dolar AS per tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Banjir juga berdampak lebih buruk. Pendapatan rumah tangga yang dikepalai perempuan turun 3 persen atau sekitar 16 miliar dolar AS per tahun dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki.

Bahkan kenaikan suhu satu derajat Celsius dapat menyebabkan rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan hingga 34 persen pendapatan mereka.

Rajendra Aryal, FAO Representative for Indonesia and Timor Leste, menegaskan bahwa dampak perubahan iklim tidak netral gender. Perempuan mengalami kerugian finansial lebih besar akibat gelombang panas atau banjir. Mereka juga harus bekerja lebih panjang dibanding laki-laki.

Namun ada kabar baik. FAO memperkirakan bahwa menutup kesenjangan gender dapat meningkatkan PDB global sebesar 1 triliun dolar AS. Dan yang lebih penting, mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang.

Kunci Sukses di Akar Rumput

Ferdinandus Mau Manu, Koordinator Program YAKINES, menyebut kelompok rentan seperti perempuan, orang muda, lansia, dan penyandang disabilitas adalah yang paling terdampak perubahan iklim. YAKINES bekerja di tingkat akar rumput, memberdayakan mereka lewat solusi praktis yang adaptif.

Apa kunci sukses acara ini? Bukan hanya pelatihan. Bukan hanya dialog kebijakan. Tapi kesediaan mendengar suara yang selama ini paling bising hanya dalam hening kegelisahan para petani perempuan.

Siti Sadyatun jujur. Sebagai perempuan, katanya, mereka sangat membutuhkan informasi dan pengetahuan praktis. Langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Bukan sekadar teori.

Kampanye Tahun Petani Perempuan yang dimulai dari Manggarai Barat ini adalah pengakuan bahwa mereka yang menggenggam tanah paling lama tak bisa terus diabaikan. Mereka yang menanam benih dan memanen di tengah ketidakpastian berhak duduk di meja yang sama dengan para pembuat kebijakan.

Karena ketika satu petani perempuan bangkit bicara, yang ikut bangkit bukan hanya dirinya. Tapi masa depan pertanian yang lebih adil. Dan lebih tangguh. |WAW-DEOJ

Related post