Sambut Hari Keterampilan Pemuda Sedunia 2026

 Sambut Hari Keterampilan Pemuda Sedunia 2026

Gerakan 100.000 Sultan Muda

Canva Inisiasi Berbagai Inisiatif Berbasis Komunitas untuk Memberdayakan Generasi Muda Indonesia

DUNIAEOJAKARTA.COM Ada sebuah ironi manis yang kerap menghantui era digital saat ini. Di satu sisi, kita memiliki akses tak terbatas pada informasi dan alat. Di sisi lain, celah antara “memiliki ide” dan “mewujudkannya” sering terasa seperti jurang yang dalam. Kegagapan memulai, ketakutan akan hasil, dan kebuntuan kreatif menjadi hantu yang menghantui. Menjelang peringatan Hari Keterampilan Pemuda Sedunia pada 15 Juli, Canva, platform komunikasi visual, mengajak kita menyelami ironi ini bukan dengan retorika, melainkan gerakan komunitas yang nyata. Mereka mengemas keterampilan kreatif dan digital sebagai kunci untuk membuka pintu peluang.

Canva baru saja meluncurkan kampanye merek pertamanya di Indonesia yang berfokus pada kecerdasan artifisial, “NyatAIn di Canva”. Kampanye ini, yang menggandeng King Nassar, mengangkat analogi sederhana namun kuat: “Seperti Mati Lampu”. Sebuah sindiran halus pada momen ketika inspirasi hilang dan ide tak kunjung padam. Ini bukan sekadar tentang fitur AI, melainkan sebuah pernyataan filosofis bahwa kreativitas adalah keterampilan berharga yang perlu diasah, dan AI hanyalah mitra untuk memuluskan jalan. “Tantangan terbesar bukanlah memiliki ide, melainkan meyakini bahwa ide tersebut bisa diwujudkan,” ujar King Nassar, merangkum esensi kampanye yang dekat dengan keseharian pekerja kantoran, guru, hingga pelaku UMKM.

Semangat ini diwujudkan dalam inisiatif berbasis komunitas yang bergerak dari Semarang, Solo, hingga Surabaya melalui Roadshow NyatAIn di Canva. Dimulai pada 4 Juli, roadshow ini menawarkan lebih dari sekadar pelatihan. Ia menjadi ruang kolaborasi di mana peserta diajak praktik langsung, berdiskusi, dan membangun jejaring untuk mengubah ide menjadi peluang nyata di dunia kerja, pendidikan, dan kewirausahaan. Dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan bahwa ini bukanlah gerakan sporadis, melainkan bagian dari upaya sistematis memperkuat ekosistem talenta kreatif Indonesia.

Pendekatan ini semakin menarik saat menyentuh akar rumput. Canva memperluas gerakan melalui komunitas Canvassador di 20 kota seluruh Indonesia. Mereka adalah para duta yang mengadakan workshop, nonton bareng, dan aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari gerakan kecil yang digerakkan oleh komunitas. Ini adalah strategi organik yang membangun kepercayaan diri dan koneksi, jauh dari kesan instruksi satu arah.

Kolaborasi dengan pemerintah pun menjadi pilar penting. Kemitraan strategis dengan Kementerian Komunikasi dan Digital telah membuka akses 8.000 akun Canva Pro gratis bagi talenta kreatif dan pelaku UMKM. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut ini sebagai langkah awal yang akan terus diperluas. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah pengakuan bahwa di tengah ekonomi digital Indonesia yang diproyeksi mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030, keterampilan desain dan konten digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan pokok untuk memasarkan dan menjual produk.

Intervensi ini menjangkau wilayah di luar Jawa. Dalam program “100.000 Sultan Muda” di Sumatera Selatan, Canva hadir dengan workshop dan 1.000 voucher Canva Pro untuk calon wirausaha. Inisiatif yang menggabungkan kewirausahaan, literasi keuangan, dan keterampilan kreatif ini adalah resep yang menjanjikan bagi generasi muda Indonesia yang berjumlah lebih dari 90 juta jiwa. Mereka bukan hanya penonton, melainkan aktor utama yang sedang dibekali untuk membentuk masa depan bangsa.

Stefani Herlie, Country Manager Canva Indonesia, dengan lugas menyatakan bahwa kreativitas adalah salah satu keterampilan paling berharga saat ini. Pernyataan ini bukanlah klaim kosong. Melalui gerakan NyatAIn, roadshow, dan kolaborasi lintas sektor, Canva sedang menuliskan narasi baru tentang pemberdayaan. Cerita tentang bagaimana sebuah platform digital bisa menjadi katalis, menghubungkan ambisi individu dengan ekosistem yang mendukung, dan mengubah “mati lampu” menjadi pertunjukan cahaya yang spektakuler. |WAW-DEOJ

Related post