Indonesia Bicara Pangan di Panggung FAO

 Indonesia Bicara Pangan di Panggung FAO

Pengunjung belajar dan menikmati hidangan khas Indonesia dalam pameran kuliner bertajuk: Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma dan Kantor Perwakilan FAO di Indonesia sebagai bagian dari Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas pada Rabu (1/7). ©️FAO

DUNIAEOJAKARTA.COM— Sebuah aroma harum kunyit dan rempah tiba-tiba memenuhi ruang museum. Di sudut dapur peragaan, sesepuh dari Yoboi, Papua, tengah mengaduk Papeda, bubur sagu kental yang mengkilap. Di sisi lain, seorang pemuda dari Lumajang, Jawa Timur, memantau layar ponsel yang menampilkan kadar nitrogen tanah kebun pisangnya. Ini bukan sekadar pameran makanan. Ini adalah narasi tentang bagaimana Indonesia memainkan dua kartu sekaligus di hadapan para pemangku kebijakan pangan dunia, tradisi dan algoritma .

Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas yang berlangsung di markas FAO Roma menjadi panggung bagi pameran kuliner bertajuk Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods pada Rabu (1/7) lalu. Acara yang digagas Kedutaan Besar RI di Roma bersama Kantor Perwakilan FAO Indonesia ini bukanlah sekadar jamuan makan siang diplomatik. Ada pesan strategis yang disisipkan di balik setiap suapan Mie Sagu Goreng.

Lompatan Kuantum Sagu Yoboi

Cerita paling menarik datang dari Papua. Duta Besar Junimart Girsang menyebut, “Keanekaragaman Indonesia tercermin dalam tradisi kuliner dan pertanian kita.” Namun yang paling mencengangkan adalah data di balik tradisi itu. Di Kampung Adat Yoboi, proses produksi sagu yang secara turun-temurun memakan waktu berhari-hari berhasil dipangkas menjadi hanya sekitar lima jam .

Angka ini bukan sekadar statistik efisiensi. Bagi masyarakat adat pemegang hak kelola hutan sagu, ini adalah lompatan dari produk mentah menuju rantai nilai yang lebih tinggi. Teknologi pengolahan modern yang didukung FAO dan Kementerian Pertanian memungkinkan mereka menghasilkan produk pangan yang layak jual dan tahan simpan. Di dapur FAO, sagu disulap menjadi Mie Sagu Goreng Pedas dan hidangan penutup Eurimoo yang manis. Perubahan waktu produksi dari hari menjadi jam adalah kunci. Ini berarti mereka kini bisa bersaing di pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas .

Pertanian Presisi untuk Pisang Kirana

Tak hanya di Timur, di Lumajang, Jawa Timur, teknologi berpadu dengan komoditas lokal. Petani Pisang Mas Kirana, si pisang emas mungil yang tengah naik daun, kini dibekali sistem pemantauan tanah berbasis IoT [Internet of Things] melalui inisiatif One Country One Priority Product (OCOP) .

Sensor-sensor yang tertanam di tanah mengukur kadar N, P, K, pH, kelembaban, dan suhu. Data ini menghasilkan rekomendasi pemupukan yang presisi. Bukan lagi asal tebak, bukan lagi mengikuti kebiasaan. Ini adalah fondasi untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.

‘Petani Keren’ dan Anak Muda

Di Lampung, Sumatera, program Petani Keren mengubah stigma pekerjaan di lumpur sawah menjadi keren dan menjanjikan. Anak-anak muda didorong menggunakan rumah kaca dan pendekatan kewirausahaan untuk menanam cabai. Bahkan komunitas perikanan di Bogor bertransformasi menjadi pusat produktivitas modern selaras dengan visi Ekonomi Biru Indonesia .

Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO, Yurdi Yasmi, memberikan analogi menarik. Sama halnya makanan membutuhkan keseimbangan bumbu dan bahan, pertanian cerdas membutuhkan perpaduan seimbang antara sains, inovasi, dan pengetahuan masyarakat lokal . Pertanian cerdas adalah solusi di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi tanah, dan mahalnya pupuk .

Ketika para peserta seperti perwakilan dari Rwanda mengaku terkejut menyukai mie berbahan sagu dan peserta Jepang memuji harmoni rasa manis dan pedas, ada kemenangan kecil yang diraih. Indonesia berhasil menunjukkan bahwa inovasi tidak harus selalu meninggalkan tradisi. Terkadang, masa depan pangan justru dirajut dari kembali ke kampung halaman dan membawanya ke panggung global dengan bantuan data .

Kemitraan jangka panjang ini adalah wujud nyata menggabungkan tradisi, inovasi, dan aksi untuk mewujudkan produksi dan kehidupan yang lebih baik, tanpa meninggalkan siapa pun . |WAW-DEOJ

Related post