Canva Sulap Pembatasan Jadi Seni Merayakan Ramadan dari Pinggir Jalan

 Canva Sulap Pembatasan Jadi Seni Merayakan Ramadan dari Pinggir Jalan

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sudut Kemang, menjelang petang, tirai sebuah warung nasi goreng tak lagi sekadar penahan debu dan pandangan. Kain itu tiba-tiba menjelma kanvas, dihiasi ilustrasi dan kalimat jenaka: “Gak usah galau, yang penting sahur dulu.” Beberapa meter dari sana, di warung mi ayam Tanah Abang, tirai lain bergoyang lembut sambil berkata, “Desainnya mudah, kenyangnya nendang.” Ini bukan pameran seni di galeri mahal. Ini adalah peristiwa kecil yang sengaja diciptakan Canva, platform desain asal Australia, untuk menyambut Ramadan.

Tirai tirai itu, lebih dari sekadar hiasan, adalah metafora yang hidup.

Canva meluncurkan kampanye #DigordeninCanva, sebuah gerakan yang meminjam tradisi lokal “digordenin”, kebiasaan menutup hidangan di warung sebagai bentuk penghormatan selama puasa. Tapi alih alih sekadar menutup, mereka membuka. Dua puluh lebih warung di Jakarta, dari Kemang hingga Tanah Abang, disulap menjadi billboard hiper lokal. Sebuah langkah yang cerdas, sekaligus berani. Sebab, di tengah hiruk pikuk iklan digital yang mengejar pixel, Canva memilih untuk berbicara pada manusia di jalanan.

Tokoh sentralnya adalah Kak Jill, seorang kreator populer yang juga pengusaha gorden. Ia bukan sekadar model iklan, melainkan jembatan yang menghubungkan dunia desain dengan keseharian para pedagang. Melalui lensa kameranya, Jill menunjukkan bahwa kreativitas tak selalu lahir di ruang rapat ber AC, tapi juga di balik meja makan sederhana seorang penjual bubur.

Namun jika hanya berhenti di tirai, kampanye ini mungkin hanya akan dikenang sebagai proyek estetika musiman. Canva pun bergerak ke fase kedua: TikTok Live bersama para pemilik UMKM. Di sini, narasi dibangun bukan dari slogan perusahaan, tapi dari kisah hidup. Pedagang dipilih bukan karena omzetnya, melainkan karena cerita dan lokasinya yang unik, dari keramaian kota hingga permata tersembunyi di gang sempit.

Inilah esensi dari apa yang disebut Laura Kantor, Head of Marketing Canva untuk Asia Tenggara, sebagai “mendemokratisasi visibilitas.” Sebuah upaya untuk memberi panggung pada mereka yang biasanya hanya jadi penonton.

Sementara itu, di ranah digital, Canva meluncurkan lebih dari 33.000 template khusus Ramadan. Mulai dari undangan ngabuburit hingga menu buka puasa, semuanya dirancang dengan sentuhan lokal yang kuat. Bahkan komikus ternama Tahilalats turut menyumbang template edisi terbatas, menambahkan lapisan humor khas Indonesia yang mudah dicerna.

Kreator seperti Bang Ucup, Faiz Sadad, dan Acid juga digandeng untuk memperluas resonansi kampanye di berbagai platform. Mereka adalah penggerak opini yang akrab dengan generasi muda, memastikan pesan ini tak hanya sampai ke warung, tapi juga ke genggaman tangan.

Dari sisi bisnis, langkah ini bukan tanpa perhitungan. Indonesia kini adalah pasar terbesar ketiga Canva secara global, dan yang terbesar di Asia. Sepanjang 2025, lebih dari satu miliar desain dibuat oleh pengguna di tanah air. Dengan 360 kreator aktif dan 180 duta Canva di 34 provinsi, ekosistem kreatif ini tumbuh dari akar rumput. Kemitraan terbaru dengan Kementerian Komunikasi dan Digital juga menunjukkan bahwa Canva tak lagi sekadar alat desain, tapi telah menjadi bagian dari infrastruktur kreatif bangsa.

Stefani Herlie, Country Manager Canva Indonesia, menegaskan ambisi mereka di 2026: menjadikan Canva bagian dari keseharian masyarakat. Bukan hanya dalam bekerja, tapi dalam merayakan momen, dalam menghidupkan usaha, dalam mengekspresikan budaya.

Stefani Herlie, Country Manager - Indonesia, Canva
Stefani Herlie, Country Manager – Indonesia, Canva

Di balik semua angka dan strategi, #DigordeninCanva mengajarkan satu hal sederhana: kadang, cara terbaik menyentuh hati orang adalah dengan tidak menggurui. Cukup dengan menulis pesan di tirai warung, lalu membiarkan angin dan cerita yang berembus dari sana.

Ramadan tahun ini mungkin akan diingat bukan karena diskon besar besaran atau iklan televisi yang megah. Tapi karena di sudut sudut Jakarta, ada tirai yang tak lagi diam. Ia berbisik, tertawa, dan mengajak orang untuk ikut mencipta. |WAW-DEOJ

Related post