Dari Layar Webinar ke Panggung Inspirasi

 Dari Layar Webinar ke Panggung Inspirasi

Ketika Event Berubah Menjadi Ruang Belajar bagi UMKM Indonesia

DUNIAEOJAKARTA.COM – Pagi itu tidak ada panggung megah. Tidak ada lampu sorot. Tidak pula dekorasi spektakuler seperti lazimnya sebuah konferensi bisnis besar. Namun dari layar-layar komputer yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, sebuah pertemuan kecil justru memantik energi besar.

Di sanalah Indonesia Marketing Associations menggelar IMA Sharing Session bertajuk Kiat Sukses Pemenang IMA UMKM Award – Apa Kunci Utamanya?. Acara yang berlangsung Kamis 12 Maret itu mempertemukan pelaku usaha dari berbagai daerah dengan dua kisah UMKM yang sedang menanjak.

Bagi para event organizer yang mencermati formatnya, sesi ini menyimpan satu pelajaran penting. Sebuah acara tidak selalu harus meriah untuk menghasilkan dampak. Yang jauh lebih menentukan adalah kurasi cerita, relevansi tema, dan energi interaksi yang dibangun. Di situlah kekuatan event ini.

Event Sebagai Mesin Inspirasi

Sejak sesi dimulai, antusiasme peserta sudah terasa. Para pelaku UMKM dan anggota IMA dari berbagai chapter mengikuti acara secara daring dengan satu tujuan yang sama. Mencari peta jalan baru untuk bertumbuh.

Acara dibuka oleh Direktur Eksekutif IMA, Yulian Warman. Ia mengingatkan satu hal yang sering terlupakan oleh pelaku usaha kecil.

Produk bagus saja tidak cukup. UMKM juga harus mampu menyampaikan nilai produknya secara jelas, relevan, dan meyakinkan di mata pasar. Reputasi dan komunikasi menjadi kunci agar bisnis dapat berjalan berkelanjutan.

Pesan itu kemudian diperkuat oleh Direktur UMKM IMA Pusat, Ida RM Sigalingging. Ia merumuskan tiga kekuatan yang menentukan masa depan UMKM: Inovasi produk. Strategi komunikasi pemasaran. Kepemimpinan entrepreneur.

Format acara ini sederhana namun strategis. Alih-alih menghadirkan teori panjang, penyelenggara memilih pendekatan storytelling melalui pengalaman nyata dua pemenang IMA UMKM Award 2025.

Bagi dunia event organizer, keputusan kreatif ini menjadi inti keberhasilan acara. Konten tidak lagi berupa presentasi satu arah, tetapi kisah perjalanan yang hidup.

Dari Lahan 500 Meter ke Jaringan Pasar

Kisah pertama datang dari Anggi Bitho Lokmanto, pemilik Embun818. Perjalanannya dimulai pada 2018 ketika ia memutuskan pulang ke kampung halaman di Karanganyar, Jawa Tengah. Ia tertarik pada pertanian hidroponik dan belajar secara mandiri dari berbagai sumber.

Modal awalnya hanya sekitar Rp500 ribu. Di lahan sekitar 500 meter persegi di Palur, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, ia memulai budidaya dengan peralatan sederhana. Bahkan styrofoam digunakan sebagai media tanam.

Kangkung dan pakcoy menjadi tanaman pertama yang ia hasilkan. Pada awalnya pemasaran menjadi tantangan terbesar. Namun melalui proses percobaan berulang, usaha itu perlahan berkembang. Anggi kemudian memperkenalkan Embun818 sebagai merek sekaligus platform agregator yang menghubungkan petani mitra dengan kebutuhan pasar.

Model bisnisnya menarik perhatian banyak peserta sesi. Embun818 tidak hanya memproduksi sayuran hidroponik. Platform ini juga membangun ekosistem kerja sama dengan petani mitra yang mendapatkan akses informasi permintaan pasar, pelatihan budidaya, hingga pendampingan produksi.

Sayuran dipanen pada pagi hari dan dikirim pada hari yang sama agar sampai ke konsumen dalam kondisi segar. Strategi ini terbukti efektif.

Pada 2025 omzet Embun818 meningkat lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Setelah meraih juara dalam IMA UMKM Award, jumlah pesanan bahkan meningkat hingga tiga kali lipat.

Cerita Anggi memperlihatkan satu hal yang jarang disadari dalam sebuah forum bisnis. Cerita sederhana sering kali lebih kuat daripada presentasi bisnis yang rumit.

Lombok, Komunitas, dan Visi Ekowisata

Kisah kedua datang dari Indra Wardhani, pendiri Pilar Indonesia. Ia memulai inisiatif ini pada Januari 2018 di Lombok melalui program hibah Pemerintah Australia. Dari sekitar 600 proposal yang diajukan, hanya 25 yang terpilih.

Dengan modal awal Rp100 juta, Indra mengembangkan pariwisata berbasis komunitas melalui Pilar Indonesia. Pendekatannya berbeda. Masyarakat setempat ditempatkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan destinasi wisata. Program penguatan kapasitas diberikan kepada Kelompok Sadar Wisata agar mereka mampu mengelola dan mempromosikan potensi daerahnya sendiri.

Model ini diterapkan antara lain di Desa Wisata Bonjeruk dan Desa Wisata Lantan. Perjalanannya tidak selalu mulus. Gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter dan pandemi COVID-19 sempat mengguncang sektor pariwisata Lombok pada periode 2019 hingga 2020.

Namun Pilar Indonesia terus bertumbuh. Inisiatif ini bahkan berkembang hingga Desa Wisata Long Gie di Kalimantan Timur. Hasilnya terlihat nyata.

Desa Wisata Bonjeruk kini menerima sekitar 60 ribu wisatawan setiap tahun. Pilar Indonesia juga mengembangkan usaha ekspor kerajinan anyaman rotan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Indra merumuskan tiga kunci dalam membangun usaha: Entrepreneurial mindset. Strategic thinking. Mental and personal strength.

Pendekatan ini membawa Pilar Indonesia meraih Juara 1 kategori Wisata dalam IMA UMKM Award 2025 dan melangkah ke kompetisi tingkat internasional.

Saat ini mereka tengah mengembangkan tiga desa wisata baru di Lombok yaitu Senaru, Bayan, dan Sembalun melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga.

Ketika Event Menjadi Ekosistem

Bagi pengamat industri event, sesi ini menyimpan makna yang lebih luas. IMA tidak sekadar menggelar forum berbagi cerita. Mereka sedang membangun ekosistem pembelajaran bisnis.

Di Indonesia saat ini terdapat lebih dari 65 juta UMKM. Sektor ini menyumbang sekitar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja.

Angka tersebut menjelaskan mengapa forum seperti IMA Sharing Session menjadi penting. Menurut Vice President UMKM IMA, Erik Hidayat, program pembinaan seperti IMA UMKM Award akan terus dilanjutkan untuk mendukung pengembangan UMKM agar mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Bagi industri event organizer, format ini memberi pelajaran menarik. Sebuah event yang kuat tidak selalu diukur dari jumlah peserta atau kemegahan panggung. Yang jauh lebih penting adalah kurasi konten, relevansi narasi, dan dampak yang ditinggalkan setelah acara berakhir.

Pagi itu layar-layar komputer hanya menampilkan wajah pembicara dan peserta. Namun dari ruang virtual sederhana itu lahir dua pesan yang mengendap kuat.

Bahwa bisnis besar bisa dimulai dari lahan kecil. Dan bahwa sebuah event yang dirancang dengan cerita yang tepat dapat mengubah pengalaman belajar menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. |WAW-DEOJ

Related post