Forum NUS di Jakarta: Saat Universitas dan Dunia Bisnis Menyusuri Masa Depan di Era AI

 Forum NUS di Jakarta: Saat Universitas dan Dunia Bisnis Menyusuri Masa Depan di Era AI

NUS has retained its position as eighth in the world and first in Asia, according to results of the latest Quacquarelli Symonds (QS) World University.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Suasana Jakarta pada awal Desember 2025 menjadi sakal bisik-bisik masa depan. Di sebuah ruang forum, bukan sekadar pidato yang disampaikan, melainkan percakapan reflektif tentang nasib pendidikan tinggi ketika kecerdasan buatan mulai merambah setiap sudut ruang kelas dan laboratorium. NUS Innovation Forum (NIF) untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, tepatnya di Jakarta, dengan membawa tema berat sekaligus mendesak “Navigating the Age of AI”.

Acara ini bukan sekadar seminar biasa. Ia dirancang sebagai ruang pertemuan strategis antara akademisi, alumni, dan praktisi industri. Tujuannya jelas. Membangun jembatan kolaborasi sekaligus mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar. Bagaimana universitas tetap relevan ketika AI mampu melakukan pekerjaan yang dulu butuh miliaran tahun manusia?

Ide Kreatif di Balik Panggung

Kunci dari forum ini terletak pada format yang dibuat tidak hierarkis. Panel pertama menghadirkan empat rektor dan pemimpin universitas dari Indonesia dan Singapura dalam satu panggung. Mereka duduk sejajar, berbicara layaknya diskusi antara kolega. Moderator, Profesor Simon Chesterman dari NUS, tidak berperan sebagai pengarah, melainkan pemantik yang membuka ruang bagi perdebatan substantif.

Tidak ada slide presentasi berlembar-lembar. Yang ada adalah percakapan langsung, penuh data konkret. Presiden NUS, Profesor Tan Eng Chye, misalnya, menyodorkan contoh nyata. DeepMind, katanya, berhasil memprediksi struktur lebih dari 200 juta protein dalam satu proses. “Secara manual, ini butuh lebih dari satu miliar tahun kerja para lulusan PhD,” ujarnya. Data itu ia gunakan bukan untuk menakuti, melainkan menggugah. Bagaimana universitas harus beradaptasi dengan percepatan yang sedemikian drastis?

Di sisi lain, para rektor universitas Indonesia tidak hanya datang sebagai peserta, melainkan mitra diskusi setara. Profesor Lavi Rizki Zuhal dari ITB dengan tegas menyatakan bahwa kurikulum harus dirombak total. “Kita tidak bisa terus mengajar seperti cara kita dulu diajar,” katanya. Ia mengakui resistensi di internal, di mana banyak dosen merasa kemampuan otaknya masih cukup. Tapi, lanjutnya, itu tidak mengubah fakta bahwa mahasiswa sudah menggunakan AI. Pendidik pun harus melek.

Profesor Tang Eng Chye, President NUS

Keunikan dalam Membangun Jaringan

Yang membuat acara ini istimewa adalah integrasi yang mulus antara dunia akademik dan ekosistem startup. Panel kedua, “Ask Me Anything: Building Impactful Start-ups in an Uncertain World in the Age of AI”, menghadirkan pendiri startup seperti Adi Reza Nugroho dari MYCL, David Setiawan Suwarto dari Sinemart dan MOJI, serta Pang Xue Kai dari ForU AI. Mereka tidak bercerita tentang kesuksesan semata, melainkan tentang ketidakpastian, membangun kepercayaan, dan bagaimana memanfaatkan AI untuk memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya.

Forum ini juga menjadi panggung untuk mengumumkan ekspansi jaringan BLOCK71, inkubator bisnis NUS, yang kini mencakup 11 kota, termasuk Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Jaringan ini bukan sekadar koneksi, melainkan ekosistem yang menghubungkan founder dengan mentor, investor, dan pasar global.

Kehebohan yang Substansif

Kehebohan tidak hadir dari gemerlap panggung atau hiburan, melainkan dari ketegangan ide. Dr. Danang Sri Hadmoko dari UGM menyoroti biaya mahal riset AI. Biaya komputasi cloud saja, katanya, bisa melebihi anggaran operasional tahunan beberapa fakultas. Ia menegaskan, kolaborasi multi-pihak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Infrastruktur superkomputer bersama dan klaster riset kolaboratif harus dibangun.

Sementara itu, Profesor Hamdi Muluk dari UI mengingatkan bahaya yang lebih halus. AI, katanya, bisa merefleksikan kerentanan manusia. Ia mencontohkan kasus anak muda yang mencari dukungan emosional dari AI, berujung tragis ketika sistem berhalusinasi atau memberi saran berbahaya. “Kita harus membekali mahasiswa dengan kebijaksanaan,” tegasnya. “Dan kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa diberikan AI.”

Kesuksesan NIF Jakarta terletak pada beberapa hal. Pertama, curated audience. Peserta terdiri dari alumni NUS, pemimpin universitas, praktisi industri, dan pelaku startup. Ini menciptakan diskusi yang kaya perspektif. Kedua, tema yang diangkat bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak yang dirasakan semua pihak. Ketiga, format acara yang mendorong interaksi setara, tanpa sekat hierarki kampus atau perusahaan.

Terakhir, forum ini tidak berhenti pada pembicaraan. NUS secara aktif membangun jalan kolaborasi melalui BLOCK71 dan jejaring alumni. Acara ini adalah awal dari gerakan yang lebih besar. Sebuah upaya kolektif untuk tidak hanya mengejar, tetapi juga membentuk arah perkembangan AI di kawasan.

Sebagai penutup, NIF Jakarta meninggalkan pesan. Di era AI, manusia dan institusi harus belajar kembali. Bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang filosofi, kolaborasi, dan kebijaksanaan. Forum ini adalah langkah kecil yang bermakna besar. Sebuah percakapan yang mungkin akan terus bergema di lorong-lorong kampus dan ruang rapat startup di Asia Tenggara. | WAW-DEOJ

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *