Hari Anak Nasional 2026: Ruang Digital Harus Ramah, Bukan Sekadar Dibatasi

 Hari Anak Nasional 2026: Ruang Digital Harus Ramah, Bukan Sekadar Dibatasi

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam acara peringatan Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026) mengatakan kemajuan teknologi digital memang membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Foto: Humas Kemkomdigi

DUNIAEOJAKARTA.COM – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, Selasa (21/7) lalu, tidak sekadar menjadi seremoni seremonial. Di balik deklarasi dan pidato, ada sebuah tuntutan besar yang dilontarkan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid: dunia digital harus bertransformasi. Bukan hanya membatasi, tetapi merancang ulang ekosistem agar menjadi taman bermain yang aman bagi generasi penerus bangsa.

Pernyataan itu lahir dari sebuah kegelisahan. Kemajuan teknologi yang semestinya memudahkan, kini kerap menjadi pisau bermata dua bagi pertumbuhan anak. Risiko mengintai, mulai dari gangguan pola tidur (sleep deprivation), kecanduan gawai, hingga paparan konten negatif yang meracuni pola pikir .

“Anak-anak kita bukan anak yang nakal. Mereka adalah tunas bangsa yang hebat. Tetapi jika anak-anak yang baik terus-menerus terpapar konten negatif ketika usianya belum siap, tentu perilaku mereka bisa berubah,” tegas Meutya dalam sambutannya .

Pendekatan “Stick and Carrot” untuk Raksasa Digital

Yang menarik dari arahan Menteri Meutya adalah pendekatannya yang tidak serta-merta menghakimi. Pemerintah sadar, melarang anak mengakses dunia digital adalah hal yang mustahil. Karena itu, selain menerapkan kebijakan penundaan akses media sosial berisiko tinggi hingga usia 16 tahun, pemerintah memberikan “jalan tengah” yang cerdas .

Platform digital diberi ruang dan waktu untuk berlomba-lomba menjadi lebih ramah anak.

“Di Indonesia kita bukan sembarang melarang. Platform juga kita beri ruang untuk berlomba-lomba membuat platformnya menjadi lebih ramah anak. Kalau platform mau berubah, menghilangkan fitur kontak yang berbahaya dan memastikan hanya konten yang sesuai usia yang dapat diakses anak, maka platform tersebut bisa menjadi platform berisiko rendah dan anak-anak boleh masuk,” jelas Meutya .

Ini adalah sebuah inovasi kebijakan. Bukan sekadar menutup pintu, tetapi meminta pemilik rumah (platform digital) untuk memperbaiki interior rumah itu sendiri. Mereka didorong untuk menghapus fitur-fitur adiktif yang membuat anak sulit tidur dan berkonsentrasi, serta memperkuat moderasi konten terhadap hal-hal destruktif seperti pornografi dan judi daring .

Sekolah sebagai Benteng Pertahanan

Momentum puncak acara adalah pembacaan Deklarasi Bersama Sekolah Cakap Digital. Delapan sekolah di Jakarta, mulai dari SD Labschool FIP-UMJ hingga SMPN 216 Jakarta Pusat, menyatakan komitmennya mendukung implementasi PP TUNAS .

Deklarasi ini bukan hanya tentang menandatangani kertas. Ini adalah ikrar untuk menjadikan sekolah sebagai ekosistem yang melindungi. Mereka berkomitmen untuk menjadi warga digital yang beretika, menjaga data pribadi, dan menolak perundungan siber .

Sebuah pengingat bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan penyelenggara sistem elektronik .

Menyeimbangkan Dua Dunia

Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi, Meutya Hafid mengingatkan satu hal fundamental: anak tetaplah anak. Mereka butuh merasakan tanah, berlari di lapangan, dan bermain permainan tradisional .

“Cakap digital bukan berarti hanya hidup di dunia digital, tetapi mampu menyeimbangkan kehidupan di ruang maya dengan kehidupan nyata,” pesannya .

Peringatan Hari Anak tahun ini menjadi titik balik. Pemerintah tidak hanya berbicara tentang larangan, tetapi menuntut adanya kualitas ruang digital yang lebih baik. Kini, bola ada di tangan para pengelola platform. Akankah mereka menjadikan kebijakan ini sebagai beban, atau justru sebagai ajang inovasi untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat dan manusiawi? Waktu yang akan menjawab. |WAW-DEOJ

Related post