IKEA dan XBOX Bongkar Mitos Ruang Gaming
IST
DUNIAEOJAKARTA.COM – Bagi sebagian besar dari kita, bayangan tentang bermain game di rumah bukanlah sebuah ruangan kedap suara dengan lampu neon, kursi berbentuk kokpit, dan tiga monitor melengkung. Bayangan itu terlalu sinematik, terlalu mahal, dan terlalu jauh dari realitas. Realitasnya, kita bermain di ruang keluarga, di kamar tidur yang sama tempat kita tidur, atau di sofa yang juga digunakan untuk menonton televisi dan mengobrol dengan keluarga. Di sinilah letak ketegangan yang jarang tersentuh oleh industri perabot. Selama bertahun-tahun, furnitur gaming dirancang seolah-olah pemain game hidup di dimensi terpisah, sebuah ruang khusus yang tidak boleh ternoda oleh aktivitas domestik lainnya.
IKEA, raksasa perabot asal Swedia itu, tampaknya menyadari kejanggalan ini. Melalui koleksi terbarunya, YXSTABY, yang diluncurkan di Indonesia pada Oktober 2026, mereka tidak hanya menjual kursi atau meja. Mereka menjual sebuah pembebasan. Sebuah pengakuan bahwa bermain game adalah bagian dari hidup, bukan kehidupan itu sendiri. YXSTABY, hasil kolaborasi dengan XBOX, adalah sebuah upaya ambisius untuk mendobrak tembok imajiner antara “setup gaming” yang sakral dan “rumah” yang nyata.
Perjalanan IKEA di kategori gaming sebenarnya bukan hal baru. Pada 2021, mereka sempat mengguncang pasar dengan kolaborasi bersama Republic of Gamers (ROG) dari ASUS. Saat itu, lebih dari 30 produk dalam enam seri seperti UPPSPEL dan MATCHSPEL diluncurkan. Fokusnya adalah ergonomi dan setup PC yang serius. Namun, pendekatan itu masih terasa kaku. Kursi-kursinya masih bergaya kokpit balap, meja-mejanya masih berkesan industrial. Kemudian pada 2024, melalui koleksi BRÄNNBOLL, IKEA mulai melunak. Mereka memperkenalkan kursi santai yang bisa mengikuti gerakan tubuh, sebuah isyarat bahwa bermain game tidak harus selalu duduk tegak menghadap monitor.
YXSTABY adalah puncak dari evolusi itu. Nama YXSTABY sendiri adalah sebuah permainan kata yang cerdik, merujuk pada tombol aksi pada controller XBOX (Y, X, A, B). Namun, filosofinya jauh lebih dalam dari sekadar akronim. Koleksi ini terdiri dari enam produk yang secara diam-diam menantang definisi tradisional tentang apa itu perabot gaming. Ada Stand TV dengan roda, Kursi Santai Gaming, Bangku Thumbstick, Meja Samping dengan roda, Kotak Pajangan Controller, dan Bantal D-pad. Masing-masing membawa cerita dan fungsi yang unik.
Stand TV yang Berpindah, Sebuah Revolusi Kecil
Bayangkan sebuah televisi yang bisa Anda dorong ke mana saja. Itulah ide di balik Stand TV dengan roda. Lukas Bazle, desainer IKEA of Sweden, mengaku ide ini muncul dari pengalaman pribadinya saat bermain game di sofa. Ia merasa detail di layar akan lebih mudah terlihat jika TV bisa didekatkan. Dari situ, lahirlah sebuah stand TV yang tidak hanya berfungsi sebagai penyangga, tetapi juga sebagai alat mobilitas.
Produk ini bukan sekadar stand biasa. Di bagian belakangnya terdapat solusi pengaturan kabel yang rapi, rak untuk menampung konsol dan controller, serta kait dan baki untuk aksesori kecil. Menariknya, bentuknya sengaja tidak menyerupai perabot gaming yang mencolok. Dengan harga Rp1.799.000, baik untuk varian hitam maupun putih, stand ini terlihat seperti furniture ruang keluarga pada umumnya. Ukurannya 137 x 59.5 x 113 cm, cocok untuk TV hingga 55 inci, dengan beban maksimum rak 15 kg. Ini adalah sebuah pernyataan bahwa fungsi gaming bisa disembunyikan dalam estetika domestik yang tenang.
Jika Stand TV adalah tentang mobilitas, maka Bangku Thumbstick dan Bantal D-pad adalah tentang emosi. Kedua produk ini adalah contoh paling literal dari bagaimana bentuk controller diterjemahkan menjadi benda sehari-hari. Bangku Thumbstick, yang dirancang oleh David Wahl dari IKEA dan Elliot Hsu dari XBOX, berasal dari bentuk thumbstick pada controller XBOX. Mereka memulai dari 3D files controller asli, lalu mencari proporsi yang masih terasa seperti thumbstick tetapi sudah memiliki stabilitas dan kenyamanan sebuah bangku.
Pola berlian pada permukaan bangku mempertahankan tekstur khas thumbstick. Bagian bawahnya yang melengkung memberi kemampuan untuk bergerak dan miring, sehingga cara bangku ini bergerak sangat mirip dengan produk aslinya. Dengan harga Rp699.000, bangku ini tersedia dalam warna hitam dan hijau, terbuat dari polypropylene dengan minimum 50% material daur ulang. Ini bukan sekadar kursi, ini adalah pajangan fungsional yang mengundang decak kagum.
Sementara itu, Bantal D-pad, yang dijual dengan harga Rp149.000, adalah salah satu contoh paling sederhana dari translasi bentuk controller. Darja Nordberg, desainer tekstil IKEA, membawa pulang beberapa prototipe untuk dicoba di situasi sehari-hari. Bentuk D-pad dipertahankan sebagai bentuk X yang lembut, lalu dicoba dalam beberapa pilihan warna dan tekstur. Hasilnya adalah bantal yang bisa digunakan untuk menopang lengan saat bermain, tetapi juga berfungsi sebagai bantal sofa biasa ketika permainan selesai. Ukurannya sekitar 40 x 40 cm, terbuat dari kain dan isian polyester daur ulang.
Meja Samping dan Kotak Pajangan, Solusi untuk Kekacauan
Bermain game sering kali identik dengan kekacauan. Kabel di mana-mana, controller tergeletak sembarangan, dan camilan yang sulit dijangkau. Meja Samping dengan roda, yang dijual seharga Rp2.499.000, adalah jawaban untuk masalah ini. Meja ini menggabungkan tempat penyimpanan, pengisian daya, dan permukaan untuk camilan. Controller dapat disimpan di dalam dan mengisi daya melalui lubang yang disediakan tanpa terlihat berantakan. Pintu geser berbahan kain felt menutup area penyimpanan, menjaga estetika tetap bersih. Lukas Bazle menjelaskan bahwa tantangan desainnya adalah menemukan bentuk yang cukup persegi untuk memanfaatkan ruang, tetapi tetap memiliki sudut yang lebih lembut. Roda di bagian bawah membuat meja ini mudah dipindahkan mengikuti posisi bermain.
Lalu ada Kotak Pajangan Controller, sebuah produk yang memperlakukan controller sebagai collectible yang layak ditampilkan. Dengan harga Rp399.000, kotak ini dapat dipasang di dinding atau diletakkan di meja, baik horizontal maupun vertikal. Bagian dalamnya menggunakan cermin sehingga benda di dalam dapat terlihat dari berbagai sudut. Dudukannya dapat dilepas, membuat kotak ini juga dapat digunakan untuk memajang koleksi personal kecil lainnya. Ini adalah cara elegan untuk mengatakan bahwa controller Anda bukan sekadar alat, tetapi bagian dari identitas Anda.
Kursi Santai, Teman Setia
Kursi Santai Gaming YXSTABY, yang dijual seharga Rp1.999.000, adalah produk yang paling menonjol dari segi kenyamanan. Kursi ini dibuat untuk situasi ketika seseorang ingin bermain di depan TV tanpa mengubah seluruh ruang keluarga menjadi gaming setup. Bobotnya relatif ringan sehingga mudah dipindahkan, dan bentuk sandarannya mengikuti posisi tubuh ketika seseorang bersandar maupun condong ke depan. Di bagian bawah terdapat saku untuk controller atau remote control. Desainer Lukas Bazle dan Ryan Whitaker dari XBOX mencoba berbagai ukuran rangka dan mencari cara membungkus rangka dengan kain agar siluetnya tetap sederhana. Dengan beban maksimum 110 kg, kursi ini adalah bukti bahwa kenyamanan tidak harus mengorbankan estetika.
Para Desainer di Balik Layar
Di balik produk-produk ini, ada tiga desainer IKEA of Sweden yang namanya mungkin jarang terdengar, tetapi karyanya sudah sering kita jumpai. Lukas Bazle, desainer industri asal Jerman, sebelumnya merancang lampu KÖLVATTEN dan KUDDLAVA. David Wahl, yang bergabung dengan IKEA pada 2010, merancang kursi TEODORES dan lampu ÖDLEBLAD. Sementara Darja Nordberg, desainer tekstil lulusan Swedish School of Textiles, merancang sarung duvet SLÅNHÖSTMAL dan seri SKOGSSALLAT. Kolaborasi mereka dengan desainer XBOX seperti Carl Ledbetter dan Elliot Hsu menghasilkan sinergi yang unik, memadukan pemahaman tentang rumah dengan pengetahuan tentang gaming.
YXSTABY bukan sekadar koleksi produk baru. Ini adalah sebuah pernyataan budaya. IKEA dan XBOX memahami bahwa ruang di rumah yang digunakan untuk bermain game juga akan digunakan oleh anggota keluarga lain, atau untuk aktivitas lain setelah permainan selesai. Muhammad Yusuf Attorik, Interior Design Leader IKEA Indonesia, mengatakan bahwa perabot gaming tidak harus selalu terlihat atau terasa sangat gaming. Yang penting, saat digunakan untuk bermain, perabotnya memang mendukung aktivitas tersebut.
Dengan harga mulai dari Rp149.000, koleksi ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di pasar furnitur gaming, yaitu inklusivitas. Tidak perlu ruangan khusus, tidak perlu setup mahal. Cukup ruang keluarga yang ada, dengan sedikit sentuhan karakter gaming yang tidak mengganggu estetika rumah. YXSTABY adalah tentang bagaimana teknologi dan kenyamanan bisa hidup berdampingan dengan kehidupan sehari-hari, tanpa harus saling mengalahkan. Ini adalah masa depan furnitur gaming, dan masa depan itu sudah ada di toko IKEA terdekat. |WAW-DEOJ