Pengumumkan Pemenang HackNusa 2026: Tiga Mahasiswa Memilih Melawan Pinjol Ilegal di Tengah Tekanan 12 Jam

 Pengumumkan Pemenang HackNusa 2026: Tiga Mahasiswa Memilih Melawan Pinjol Ilegal di Tengah Tekanan 12 Jam

HackNusa 2026 Winner

HackNusa 2026 bukan sekadar kompetisi. Ia adalah cermin bagaimana generasi muda Indonesia menempatkan manusia di pusat keamanan siber, dan bagaimana sebuah tim yang berkali-kali gagal akhirnya menemukan momen kemenangannya.

CSR-INDONESIA.COM – Mereka datang bukan sebagai tim yang diunggulkan. Muhammad Aris Maulana, Nazla Azzahra Hermana, dan Ladya Kalascha sudah beberapa kali mencoba peruntungan di ajang hackathon. Kalah, mencoba lagi, kalah lagi. Bagi banyak orang, pola seperti itu biasanya berakhir dengan menyerah. Namun tiga mahasiswa yang tergabung dalam tim NexusOne+ ini memilih bertahan. Dan pada 12 Oktober 2026, di sebuah ruangan yang dipenuhi 30 tim terpilih dari seluruh Indonesia, ketiganya berdiri sebagai pemenang HackNusa 2026.

Mereka membawa proyek bernama Qerity. Sebuah platform verifikasi berbasis perangkat atau on-device yang dipadukan dengan kesadaran komunitas untuk melawan praktik pinjaman online ilegal di Indonesia. Bukan sekadar aplikasi, Qerity adalah jawaban atas luka sosial yang nyata. Pinjol ilegal telah lama menjadi momok. Bunga mencekik, penagihan brutal, dan data pribadi yang diperjualbelikan. NexusOne+ memilih masuk ke wilayah yang gelap itu, bukan dengan teknologi yang rumit, melainkan dengan pendekatan yang manusiawi.

“HackNusa 2026 mendorong kami untuk memandang keamanan sebagai masalah yang menyangkut aspek manusia terlebih dahulu,” ujar tim NexusOne+ dalam pernyataan resminya. Kalimat itu bukan retorika kosong. Dalam tenggat waktu 12 jam yang ketat, mereka membangun pembaruan data yang ditandatangani secara digital atau signed data updates. Mereka juga menyusun model ancaman tertulis. Dua hal yang terdengar teknis, namun bagi NexusOne+, justru di situlah mereka menyadari betapa besarnya ketergantungan kepercayaan pada detail-detail kecil.

Kompetisi yang digelar Kaspersky bersama Telkom University ini mengusung tema “Securing Tomorrow: Innovating Trust, Delivering Impact.” Tema itu bukan sekadar hiasan. Sepanjang 12 jam, para peserta ditantang mengubah ide menjadi solusi teknologi praktis. Kreativitas, kelayakan teknis, aspek keamanan, dan dampak nyata menjadi kriteria penilaian. Juri yang terdiri dari Defi Noftra dari Kaspersky, Prof. Ir. Ari Moesriami Barmawi, dan Dr. Fazmah Arif Yulianto dari Telkom University, harus bekerja ekstra keras. Sebab, setiap tim membawa gagasan yang tidak bisa diremehkan.

Namun di balik gemerlap kompetisi, ada cerita yang lebih menyentuh. NexusOne+ bukan tim yang lahir dari laboratorium elit atau inkubator bisnis mewah. Mereka adalah pembelajar. Mereka pernah gagal. Dan kegagalan itu justru menjadi bahan bakar. “Kita tidak pernah tahu, mungkin momen kemenangan hanya berjarak satu hackathon lagi,” kata mereka. Kalimat itu seperti bisikan yang menyelinap di antara deretan kode dan presentasi. Sebuah pengingat bahwa dalam dunia yang serba cepat, ketekunan masih punya tempat.

Hadiah utama sebesar Rp13.000.000 memang menggiurkan. Ditambah akses ke kursus Kaspersky xTraining senilai hingga USD 2.500. Namun bagi NexusOne+, hadiah terbesar mungkin bukan itu. Melainkan kesadaran bahwa mereka telah berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar. Pinjol ilegal adalah masalah nyata. Ia menyerang mereka yang paling rentan. Dan Qerity, dengan pendekatan on-device dan kesadaran komunitas, mencoba membangun benteng dari bawah.

HackNusa 2026 sendiri bukan acara biasa. Ia adalah bagian dari kerja sama antara Telkom University dan Kaspersky untuk mendorong inovasi keamanan siber serta mempersiapkan talenta teknologi yang siap menghadapi masa depan. Assoc. Prof. Dr. Kemas Muslim Lhaksmana, Dekan Fakultas Informatika Telkom University, dalam sambutannya menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi. Ia menyambut para peserta dengan pesan yang jelas. Masa depan teknologi tidak hanya bergantung pada keunggulan teknis, tetapi juga pada kemampuan berinovasi secara bertanggung jawab dan menciptakan solusi yang dapat dipercaya masyarakat.

Pesan itu seolah menemukan wujudnya dalam diri NexusOne+. Mereka tidak hanya membuat teknologi. Mereka memikirkan dampaknya. Mereka tidak hanya mengejar kemenangan. Mereka mengejar makna. Dan dalam kompetisi yang menuntut kecepatan, mereka justru memilih untuk tidak melupakan hal-hal kecil. Seperti istirahat. “Jangan biarkan hackathon hanya menjadi ajang stres dan kurang istirahat saja. Bersenang-senanglah, nikmati prosesnya, temui orang-orang baru, dan tolong, sempatkan juga untuk istirahat,” pesan mereka.

Pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah budaya kerja yang sering kali mengagungkan kelelahan, pesan itu justru radikal. NexusOne+ mengingatkan bahwa inovasi tidak lahir dari kelelahan ekstrem. Ia lahir dari pikiran yang jernih, tubuh yang bugar, dan hati yang gembira. Sebuah pelajaran yang mungkin lebih berharga dari sekadar trofi.

Kompetisi ini juga menghadirkan KIPS Competition yang berlangsung bersamaan dengan sesi presentasi bagi 10 finalis teratas. Inisiatif ini memberikan kesempatan tambahan bagi peserta yang tidak lolos ke tahap 10 besar untuk menunjukkan ide dan kemampuan mereka. Sebuah langkah inklusif yang menunjukkan bahwa HackNusa bukan hanya tentang pemenang. Ia tentang ekosistem. Tentang memberi ruang bagi setiap gagasan untuk tumbuh.

Kategori kompetisi HackNusa mencakup Secure Digital Payments & Fintech, AI vs AI: Cyber Defense, dan Human-Centric Security. Tiga kategori yang mencerminkan tantangan terkini dalam ekosistem digital Indonesia. Dari pembayaran digital yang semakin marak, hingga kecerdasan buatan yang saling berhadapan, hingga keamanan yang berpusat pada manusia. NexusOne+ memilih jalur yang mungkin paling sulit. Mereka memilih manusia.

Trishia Octaviano, Senior Manager Cyber Security Education untuk Asia Pasifik di Kaspersky, mengatakan bahwa HackNusa 2026 menunjukkan hasil nyata ketika talenta muda diberi kesempatan untuk memecahkan tantangan keamanan siber di dunia nyata dengan dukungan mentor berpengalaman dan pakar industri. “Sepanjang kompetisi, kami melihat para peserta memadukan kreativitas, keterampilan teknis, dan semangat belajar yang tinggi di bawah tekanan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini sangat penting dalam mempersiapkan generasi profesional keamanan siber masa depan.

Defi Noftra, Country Manager Kaspersky untuk Indonesia, juga memberikan apresiasi tinggi. “HackNusa lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah wadah bagi para inovator muda untuk mengubah pemahaman mereka mengenai tantangan keamanan siber menjadi solusi yang mampu memberikan dampak nyata,” katanya. Ia mengaku terkesan dengan gagasan, pola pikir teknis, dan kegigihan yang ditunjukkan oleh tim-tim peserta selama tantangan 12 jam tersebut.

Namun di antara semua pujian itu, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian. HackNusa 2026 adalah tentang keberanian. Keberanian untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Keberanian untuk memilih masalah yang sulit. Keberanian untuk tidak menyerah pada tekanan. NexusOne+ adalah wajah dari keberanian itu. Mereka bukan superhero. Mereka mahasiswa biasa. Namun mereka memilih untuk peduli.

Dan pada akhirnya, itulah yang membuat cerita ini layak untuk dikisahkan. Bukan karena mereka menang. Tetapi karena mereka bertahan. Bukan karena mereka jenius. Tetapi karena mereka manusiawi. Di tengah dunia yang semakin digerakkan oleh algoritma dan kecerdasan buatan, NexusOne+ mengingatkan kita bahwa keamanan sejati dimulai dari manusia. Dari kesadaran. Dari komunitas. Dari keberanian untuk melawan.

HackNusa 2026 telah usai. Para pemenang telah menerima hadiahnya. Namun pertanyaan yang tersisa adalah, apakah semangat itu akan terus hidup? Apakah Qerity akan benar-benar hadir di tengah masyarakat? Apakah generasi penerus inovator keamanan siber Indonesia akan terus lahir? Jawabannya mungkin tidak ada di siaran pers mana pun. Jawabannya ada di tangan mereka yang berani mencoba. Mereka yang berani gagal. Dan mereka yang berani bangkit lagi.

Sebagaimana pesan NexusOne+, “Jangan menyerah, bentuklah tim terbaik, dan yang terpenting, jangan biarkan hackathon hanya menjadi ajang stres dan kurang istirahat saja.” Pesan itu bukan hanya untuk peserta hackathon. Ia untuk kita semua. Karena hidup, pada akhirnya, adalah hackathon terpanjang yang pernah ada. Dan kemenangan sejati bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling bertahan. |WAW-CSRI

Related post