Lebih dari Sekadar Stan: Kiat PGE Curi Perhatian Dunia di Ajang Inovasi Bangkok

 Lebih dari Sekadar Stan: Kiat PGE Curi Perhatian Dunia di Ajang Inovasi Bangkok

International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 di Bangkok | IST

DUNIAEOJAKARTA.COM – Bangkok belum lama ini menjadi saksun bisu sebuah kejutan. Bukan dari deretan kios kuliner atau atraksi turis, melainkan dari sebuah ajang yang mempertemukan pikiran-pikiran paling cemerlang di planet ini. International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026, yang digelar 5-9 Januari, bukan pameran biasa. Ia adalah olimpiade bagi para inovator, diikuti 875 peserta dari 29 negara yang saling adu gebrak ide.

Di tengah hiruk-pikuk stan-stan canggih dari Kanada, Jepang, hingga Inggris, ada satu kabar yang mencuri perhatian delegasi Indonesia. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) tak sekadar datang, mereka pulang membawa tiga tropi sekaligus. Geoflowtest, alat portabel ciptaan anak bangsa untuk memproses data sumur panas bumi secara real-time, berhasil menyabet Medali Emas dari Thailand, penghargaan The Best Invention dari Iran, dan Special Award dari asosiasi inovasi dunia.

Lantas, apa resep di balik kesuksesan showcase PGE di ajang bergengsi ini? Inovasinya memang brilian, namun di sebuah panggung di mana semua orang berlomba menampilkan yang terbaik, ada strategi kurasi dan penyajian yang menjadi kunci.

Yang pertama, soal penempatan narasi. IPITEx adalah pesta inovasi, tetapi Geoflowtest tidak hanya dijual sebagai alat teknologi semata. Tim PGE berhasil mengemasnya sebagai solusi mendesak untuk transisi energi global. Di stan mereka, data real-time yang diproses alat itu diterjemahkan menjadi cerita tentang efisiensi, pengurangan emisi karbon hingga 10 juta ton per tahun, dan kontribusi nyata bagi target nol emisi Indonesia 2060. Pesannya jelas ini bukan sekadar produk, melainkan bagian dari misi penyelamatan iklim.

Keunikan kedua terletak pada elemen human interest. Di balik perangkat teknologi mutakhir, panitia IPITEx dan media internasional justru disuguhi profil sembilan insinyur dan peneliti PGE yang namanya tercantum sebagai pengembang. Dari Tumpal Parulian Nainggolan hingga Tias Umiyati, mereka adalah wajah-wajah yang membuat inovasi itu terasa hidup dan manusiawi. Penyebutan nama mereka dalam setiap sesi presentasi bukan sekadar formalitas, melainkan strategi untuk membangun koneksi emosional dan menunjukkan bahwa inovasi besar lahir dari kolaborasi tim.

Yang ketiga, momentum kurasi. Keikutsertaan PGE di Bangkok bukanlah langkah dadakan. Ini adalah bagian dari rangkaian panjang. Setahun sebelumnya, Geoflowtest sudah lebih dulu mengguncang ajang IENA di Jerman dan meraih penghargaan di Taiwan. Keberhasilan beruntun ini menjadi bahan cerita yang powerful. Di IPITEx, tim PGE tidak lagi mulai dari nol. Mereka datang dengan track record yang membuat juri dan pengunjung sudah penasaran sebelum stan mereka dibuka.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani, dalam pernyataannya, menyebut inovasi adalah pilar. Namun di lapangan, pilar itu ditopang oleh cara bercerita yang jitu. Mereka tidak hanya membawa prototipe, tetapi juga membawa bukti dampak 1.932 MW kapasitas panas bumi yang mereka kelola, setara dengan 70% kapasitas nasional.

Ajang seperti IPITEx memang tentang teknologi, tetapi pada akhirnya, ia juga tentang bagaimana sebuah ide dikomunikasikan. Kesuksesan PGE meraih tiga penghargaan berbeda dari tiga institusi berbeda membuktikan satu hal. Di dunia event internasional, kehebohan tidak hanya diciptakan oleh kecemerlangan produk, tetapi juga oleh kedalaman cerita, ketulusan menyajikan dampak, dan kemampuan menjadikan data teknis sebagai narasi yang menginspirasi.

Mungkin inilah pelajaran berharga bagi dunia event organizer. Dalam mendesain partisipasi klien di ajang global, yang perlu diutamakan bukan hanya besar stan atau kemeriahan atraksi, melainkan kedalaman pesan, ketajaman sudut pandang, dan kemampuan mengubah kompleksitas menjadi cerita yang mudah dicerna, diingat, dan dirayakan. Seperti yang PGE buktikan di Bangkok, ketika sains bertutur dengan baik, dunia akan memberi standing applause. |WAW-DEOJ

Related post