Mie Sedaap, 24 Masjid, dan Anak Muda

 Mie Sedaap, 24 Masjid, dan Anak Muda

Chef-Olivia-Tommy-ketika-ditemui-di-tenda-Cooking-For-Aksi-saat-sedang-menunjukkan-hasil-masakannya-yang-akan-dibagikan-ke-warga-di-sekitaran-masjid-saat-waktu-berbuka-puasa

Cerita EO Mie Sedaap Merangkai Kebahagiaan di 24 Masjid hingga Membuat Chef Olivia Tommy Terharu

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di serambi Masjid Agung Tarogong, Garut, jelang Magrib beberapa pekan lalu, seorang anak laki-laki berlari kecil membawa piring kertas. Di atasnya, mie goreng mengepul, aromanya bercampur dengan wangi kemenyan dari dalam masjid. Ia tak sendiri. Puluhan anak lain, juga para orang tua yang duduk di tikar pandan, sedang menikmati hidangan yang sama. Ada yang menyantap dengan lahap, ada pula yang sibuk mengaduk-aduk mie bersama potongan ayam dan sayuran. Suasana hening yang syahdu sesaat sebelum azan berkumandang berubah menjadi riuh rendah sendok garpu.

Di sudut lain, seorang perempuan muda dengan celemek tersenyum lebar. Ia adalah Olivia Tommy, finalis Masterchef Indonesia. Bersama relawan dari komunitas anak muda setempat, ia baru saja menghabiskan dua jam terakhir di tenda Cooking For Aksi, memasak Mie Sedaap varian Ayam Lada Garam dalam skala besar. “Harapanku adalah melihat senyuman di wajah mereka saat menyantap masakan aku,” ujarnya kemudian. “My heart is full.”

Pemandangan itu bukan hanya terjadi di Garut. Di Bekasi, Masjid Al-Muhajirin menjadi panggung keriaan anak-anak yang mengikuti lomba azan dan mewarnai. Di Cirebon, para ibu asyik beradu kreativitas dalam lomba masak kreasi mie. Sementara di selasar Masjid At-Taqwa, sekelompok warga justru sibuk merangkai parcel Lebaran, bukan untuk dijual, melainkan untuk belajar membuatnya. Semua gerak dan aktivitas kecil itu terangkai dalam satu kampanye bernama “Sejuntai Rasa Sedaap”.

Kampanye yang digelar di 24 masjid di Jawa dan Sumatra ini lahir dari pemikiran yang cukup sederhana, namun jarang disentuh dalam skala masif. Biasanya, aktivitas corporate social responsibility (CSR) berbentuk seremonial: bagi-bagi takjil, lalu selesai. Namun, Mie Sedaap bersama Wings Group Indonesia mencoba pendekatan berbeda. Mereka tak ingin hanya menjadi penyaji, tetapi juga perangkai tali kebersamaan. “Kami ingin memanjangkan kebahagiaan dan kebaikan yang berjuntai juntai panjangnya, sama seperti bentuk mie yang seakan tidak habis habis ketika diseruput,” kata Katria Arintya Anindyantari, Head of Marketing Noodle Category.

Kata “berjuntai” itu kemudian menjadi napas kampanye. Mereka membaginya ke dalam lima pilar kegiatan, yang semuanya berpusat di masjid sebagai titik simpul komunitas. Ada Sejuntai Aksi, yang mewujud dalam kegiatan bersih-bersih masjid dan memasak bersama. Ada Sejuntai Senyum, lewat lomba dan hiburan religi seperti marawis dan penampilan Ustad Rey. Ada pula Sejuntai Hikmah, yang mengisi waktu petang dengan tausiah. Lalu Sejuntai Bakti, yang mungkin menjadi pilar paling menarik. Di sini, mereka tak sekadar memberi, tetapi juga memberi kail. Pelatihan membuat parcel Lebaran diberikan kepada warga, sebuah pesan halus bahwa keberkahan Ramadan harus bisa berkelanjutan, tak putus sampai hari raya. Akhirnya, Sejuntai Kasih menjadi penutup, dengan santunan dan pemberian parcel pakaian serta sembako untuk para marbot.

Yang menarik, roda aktivitas ini tak digerakkan oleh mesin korporasi semata. Mie Sedaap menggandeng komunitas volunteer anak muda seperti Komunitas Berbagi, Komunitas Ayo Bareng, dan Sahabat Harapan. Mereka yang mendaftar lewat media sosial, datang, dan ikut sibuk. Willy Winarko, anggota Sedaap Squad, adalah salah satunya. Ia berkeliling dari Bekasi hingga Garut, merekam dan mewawancarai para relawan muda itu. Menurutnya, Ramadan tahun ini berbeda. “Jujur ‘ngena’ banget sih, karena menurutku Ramadan bakal terasa lebih sedaap kalau dinikmatin bareng-bareng,” katanya.

Di era di mana segala sesuatu serba instan dan digital, kegiatan berkumpul secara fisik di serambi masjid ini menjadi oase. Tak ada layar ponsel yang dominan, yang ada adalah obrolan ringan antar ibu-ibu soal resep mie, atau tawa anak-anak yang berlarian mengejar hadiah lomba. Inilah yang coba dirawat oleh kampanye ini: kehangatan yang nyaris pudar di tengah hiruk-pikuk kota.

Bagi Olivia Tommy, pengalaman menjadi juri lomba masak kreasi Mie Sedaap justru membuka matanya. “Kreatif banget! Menunya beragam dan penuh ide segar. Rasanya bukan cuma enak, tapi juga penuh usaha dan cinta,” ucapnya. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar endorse, melainkan sebuah inisiatif yang menyentuh akar: memberi makna lewat hal kecil.

Jika ditilik lebih jauh, “Sejuntai Rasa Sedaap” sejatinya adalah respons atas kerinduan kolektif. Kerinduan untuk kembali ke ruang publik yang hangat, untuk berbagi bukan dalam bentuk amplop, tapi dalam bentuk kehadiran. Kampanye ini membuktikan bahwa sebuah merek tak melulu bicara soal pangsa pasar, tetapi juga bisa menjadi perekat sosial. Di tengah maraknya konten digital yang serba cepat, kegiatan ini justru melambat. Ia berhenti, duduk, lalu makan bersama.

Di malam-malam terakhir Ramadan nanti, ketika para marbot membersihkan sajadah dan menata kembali sandal di rak masjid, mungkin mereka masih akan mengingat momen saat puluhan orang asing datang, memasak, dan berbagi. Mereka yang datang mungkin akan pulang, tapi rasa yang ditinggalkan—seperti yang diharapkan oleh kampanye ini—akan berjuntai panjang, tak habis-habis. Seperti untaian mie yang diseruput, seperti tali silaturahmi yang kembali dirajut. Karena pada akhirnya, Ramadan memang terasa lebih sedaap jika dinikmati bersama. |WAW-DEOJ

Related post