Viral! BINUS Ganti Hadiah Prestasi Pakai Logam Mulia, Warganet: “Ini Baru Berguna”

 Viral! BINUS Ganti Hadiah Prestasi Pakai Logam Mulia, Warganet: “Ini Baru Berguna”

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruangan di kampus BINUS University, para pimpinan universitas sedang menyiapkan sesuatu yang tak biasa. Bukan sekadar piagam penghargaan atau piala. Bukan pula uang tunai yang umum diberikan sebagai hadiah. Ada batangan emas seberat dua gram yang akan mereka berikan kepada mahasiswa baru berprestasi.

Keputusan ini, yang diumumkan pada 9 Maret 2026, terbilang berani di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan tinggi yang masih sibuk berebut mahasiswa dengan potongan biaya kuliah dan berbagai hadiah konsumtif. BINUS memilih logam mulia. Sesuatu yang nilainya tidak tergerus inflasi, yang bisa disimpan sepuluh atau dua puluh tahun lagi, dan yang sejak dulu menjadi simbol kekayaan yang tak lekang waktu.

Dr. Nelly, Rektor BINUS University, memberi nama program ini Beasiswa EMAS. Bukan sekadar akronim dari Empowering Achievement of Student, tapi juga literal: emas sungguhan. Para penerima beasiswa ini akan mendapat pembebasan 100 persen biaya sumbangan pendidikan atau DP3, plus logam mulia dua gram sebagai bentuk apresiasi .

“Kami ingin menghadirkan bentuk penghargaan yang memiliki nilai jangka panjang, sekaligus memberikan edukasi kepada mahasiswa mengenai pentingnya investasi sejak dini,” kata Dr. Nelly saat peluncuran di Jakarta .

Gagasan ini lahir dari kegelisahan sederhana. BINUS melihat banyak generasi muda yang masih terjebak dalam pola pikir jangka pendek. Uang saku habis untuk hal konsumtif. Hadiah ludes untuk merayakan kemenangan sesaat. Padahal, pendidikan adalah investasi paling panjang dalam hidup seseorang. Maka, mengapa tidak memberikan penghargaan yang juga bersifat investasi?

Ketika Kampus Menjadi Titik Tolak, Bukan Sekadar Tempat Belajar

Di balik pemberian emas itu, tersembunyi cerita yang lebih besar tentang bagaimana BINUS memandang pendidikan. Bukan sekadar ruang kelas tempat dosen berceramah dan mahasiswa mencatat. Tapi ekosistem yang menyiapkan anak muda untuk melompat jauh setelah lulus, bahkan sebelum ijazah di tangan.

Kampus ini merancang apa yang mereka sebut program (2+1)+1. Rumus yang mungkin membingungkan bagi orang tua yang terbiasa dengan sistem kuliah konvensional, tapi sangat masuk akal bagi mereka yang paham kebutuhan industri masa kini.

Dua tahun pertama, mahasiswa belajar di kampus seperti biasa. Lalu satu tahun berikutnya, mereka bisa merasakan atmosfer kampus BINUS di kota lain. Bandung, Malang, Semarang, Medan, atau Bekasi. Melihat Indonesia yang beragam, membangun jejaring lintas daerah. Baru di tahun terakhir, mereka menjalani Enrichment Program: satu tahun penuh magang di industri, penelitian, studi ke luar negeri, atau bahkan merintis usaha sendiri .

Bayangkan seorang mahasiswa jurusan sastra Jepang yang magang di hotel di Jepang, seperti Catherine Wijaya. Atau Kathleen Kaymora Amayatama yang belajar satu semester penuh di Shandong University of Science and Technology, China. Mereka tak hanya belajar bahasa di ruang kelas, tapi juga di jalanan, di kantin, saat ngobrol dengan teman lokal .

“Rasanya seperti belajar bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di jalanan, kantin, bahkan saat ngobrol santai dengan teman-teman,” ujar Kathleen tentang pengalamannya .

Bagi yang memilih kewirausahaan, ada jalur entrepreneurship yang didampingi dosen dan praktisi bisnis. Mereka belajar membuat perencanaan bisnis, mengembangkan usaha, sampai mengelola operasional. Untuk yang berminat di riset, ada program penelitian yang juga menjadi persiapan menyusun skripsi atau tugas akhir .

Tahun terakhir yang biasanya menjadi masa cemas mencari kerja, bagi mahasiswa BINUS justru menjadi tahun membangun fondasi karier. Mereka sudah punya pengalaman industri, portofolio, bahkan tawaran kerja sebelum wisuda.

Belajar Lintas Jurusan: Ketika Anak Desain Belajar Masak

Inovasi lain yang tak kalah menarik adalah Minor Program. Program ini memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar jurusan mereka. Seorang mahasiswa Desain Komunikasi Visual bisa belajar Culinary atau Digital Business. Mahasiswa Ilmu Komputer bisa mengambil Cross Cultural Communication atau Sustainable Development .

Delapan pilihan minor tersedia: Designpreneur, Digital Ecosystem, Culinary, Human Capital in Digital Workplace, Digital Business, Virtual Services, Sustainable Development, dan Cross Cultural Communication. Mahasiswa semester tiga hingga lima bisa mendaftar, sebelum akhirnya masuk ke tahun enrichment .

Tujuannya sederhana. BINUS ingin lulusannya punya perspektif luas. Seorang desainer grafis yang paham bisnis akan lebih mudah menjual jasanya. Seorang programmer yang bisa berkomunikasi lintas budaya akan lebih mudah bekerja di perusahaan multinasional. Seorang calon pengusaha kuliner yang belajar desain bisa membuat restonya lebih menarik secara visual.

Dunia kerja masa depan tidak lagi hitam-putih. Batas antarprofesi mulai kabur. Yang bertahan adalah mereka yang bisa beradaptasi dan punya keterampilan lintas bidang.

Jendela ke Dunia yang Terbuka Lebar

Jaringan global BINUS juga bukan sekadar pajangan di brour. Lebih dari 170 universitas mitra di 40 negara siap menerima mahasiswa Indonesia untuk belajar. University of Canberra di Australia, Boston University di Amerika Serikat, Beijing Institute of Technology di China, Inha University di Korea Selatan. Nama-nama ini bukan sekadar daftar panjang, tapi pintu yang benar-benar bisa dimasuki .

Mahasiswa bisa mengikuti program study abroad, pertukaran mahasiswa, magang internasional, program musim panas, hingga double degree. Mereka yang ikut program ini tak hanya mendapat pengetahuan akademik, tapi juga pengalaman hidup: tinggal di negara orang, beradaptasi dengan budaya baru, membangun pertemanan internasional.

Dr. Rini Setiowati, Vice Rector for Collaboration & Global Collaboration, menyebut pengalaman ini sebagai bekal penting untuk berkiprah di skala global . Seorang mahasiswa yang pernah tinggal di luar negeri akan punya mindset berbeda. Ia lebih percaya diri, lebih mudah beradaptasi, dan punya jejaring yang bisa membantunya di masa depan.

Kisah Nyata dari Penerima Beasiswa

Di balik program-program itu, ada cerita-cerita manusia yang membuktikan bahwa pendidikan bisa mengubah nasib. Gavriel Satrio Widjaya, misalnya. Lahir dari keluarga sederhana, ia sempat ragu bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan finansial. Tawaran beasiswa 70 persen dari kampus lain datang, tapi hatinya berkata tunggu BINUS. Keputusan yang menurutnya mengubah hidup .

Gavriel akhirnya mendapat Widia Scholarship, beasiswa penuh dari BINUS. Di sana ia tak hanya kuliah, tapi juga berkembang. Tahun 2023, ia meraih medali emas di World Skills ASEAN untuk kategori IT Software Solution for Business. Prestasi internasional yang membanggakan. Kini ia bercita-cita menjadi mentor dan juri, mendampingi generasi penerus berlaga di kompetisi global .

“Kesempatan itu harus diambil, hasil bisa belakangan. Yang penting adalah proses, pengalaman, dan pembelajarannya,” kata Gavriel .

Ada pula nama-nama seperti Juliana Cen yang kini berkarier di HP Indonesia, Garry Liwang di Visinema, Peter Lydian di Meta Indonesia, dan Olivia Valentina di Deloitte. Mereka adalah alumni Beasiswa BINUS yang kini bekerja di perusahaan-perusahaan besar, membuktikan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan biaya, tapi investasi jangka panjang yang berbuah manis .

Medan: Panggung Baru Pendidikan Digital di Sumatera

Pada Agustus 2025, BINUS membuka kampus di Medan. Sumatera Utara, kata para pimpinan BINUS, tumbuh menjadi poros baru ekonomi berbasis teknologi. Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia, gerbang perdagangan dan logistik yang terhubung dengan pasar global. Tapi tantangannya, sumber daya manusia unggul di bidang teknologi dan kewirausahaan digital masih perlu ditingkatkan .

BINUS @Medan hadir dengan konsep 2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier. Fasilitasnya modern: Digital Creative Hub, Export-Import Lab, Digiart Zone, Podcast Studio, dan International Corner. Mahasiswa tak hanya belajar teori, tapi langsung bersentuhan dengan peralatan dan suasana yang akan mereka temui di dunia kerja .

Stephen Wahyudi Santoso, President of BINUS Higher Education & Professional Services, menyebut Medan sebagai hub strategis. Potensi generasi mudanya besar untuk menjadi pelaku perubahan di era digital. Setelah Medan, BINUS sudah memetakan beberapa kota lain untuk ekspansi berikutnya .

Menabung Masa Depan, Sekarang

Kembali ke soal emas dua gram yang menjadi tanda tanya banyak orang. Mengapa logam mulia? Mengapa bukan uang tunai yang lebih fleksibel?

Jawabannya mungkin terletak pada filosofi yang lebih dalam. Pendidikan adalah investasi. Maka, apresiasi atas prestasi pun sebaiknya berbentuk investasi. Emas tak lekang inflasi, tak habis untuk membeli barang konsumtif, dan bisa disimpan untuk kebutuhan masa depan yang lebih penting: modal memulai usaha, biaya melanjutkan studi, atau sekadar tabungan jaga-jaga.

Dr. Nelly menyebut ini sebagai edukasi finansial sejak dini. Mahasiswa diajarkan bahwa pencapaian mereka hari ini bisa menjadi aset yang terus tumbuh nilainya di masa depan .

Di tengah hiruk-pikuk promosi kampus yang saling menawarkan diskon dan hadiah instan, langkah BINUS ini terasa berbeda. Seperti bisik lembut di tengah riuh pasar: pendidikan bukan soal hari ini, tapi soal dua puluh tahun ke depan. Dan emas dua gram itu, bagi mahasiswa yang menerimanya, mungkin akan menjadi pengingat bahwa prestasi mereka hari ini adalah investasi yang akan terus bersinar. |WAW-DEOJ

Related post