MIFB 2026: Tetra Pak Ajak Pengusaha F&B Bermimpi Tanpa Ragu
Malaysian International Food & Beverage (MIFB) Trade Fair
DUNIAEOJAKARTA.COM – Dua puluh lima tahun sudah pameran dagang makanan dan minuman kebanggaan Malaysia, Malaysian International Food & Beverage (MIFB) Trade Fair, menjadi panggung bagi para pemain industri untuk saling sapa. Namun di tahun 2026, yang berlangsung 15-17 Juli lalu di Kuala Lumpur Convention Centre, ada denyut berbeda yang terasa di Hall 4. Bukan hanya sekadar pameran mesin atau kemasan, tetapi sebuah tawaran untuk berani memulai, bahkan dari nol.
Di tengah hiruk-pikuk pengunjung dan deretan booth, kehadiran Tetra Pak Malaysia bukan sekadar pamer teknologi. Mereka datang dengan jargon yang terdengar seperti sebuah janji: ekosistem ujung-ke-ujung. Bagi para pelaku usaha kecil dan menengah yang seringkali mengeluh tentang mahalnya biaya produksi dan rumitnya uji coba produk, janji ini seperti angin segar.
Bayangkan, sebuah merek minuman baru ingin meluncurkan produk, misalnya minuman protein nabati. Biasanya, mereka harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli mesin, menyewa laboratorium, dan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk trial and error. Tetra Pak, melalui infrastruktur lokal dan jaringan co-packing regional, menawarkan jalan pintas yang cerdas. Produsen kini bisa menguji dan menyempurnakan produk di pusat pengembangan yang telah bermitra dengan mereka, bahkan dalam jumlah yang sangat kecil. “Mengembangkan formulasi butuh beberapa kali percobaan sebelum benar-benar pas,” ujar John Jose, Marketing Director untuk kawasan Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia, dalam sesi diskusi di MIFB. Pendekatan ini, menurutnya, secara signifikan menekan biaya modal di awal dan mempercepat waktu peluncuran ke pasar. Sebuah strategi yang elegan untuk meredakan ketakutan terbesar para pengusaha: gagal di tengah jalan karena biaya.
Kejutan lain datang dari sebuah prototipe minuman berbasis biji bunga matahari. Di tengah gempuran produk plant-based yang berbasis kedelai atau almond, Tetra Pak hadir dengan alternatif yang konon lebih ramah alergi dan bersahabat di kantong. Angka yang disebutkan mencengangkan: komposisi protein 50% dan tingkat kecernaan mencapai 98% . Jose bahkan menambahkan bahwa rasanya netral sehingga cocok dicampur dengan kopi atau teh. Temuan ini bukan sekadar inovasi produk, tetapi sebuah sinyal bahwa perlombaan di segmen kesehatan dan kebugaran akan semakin ketat dan beragam.
Namun, yang tak kalah menarik adalah narasi tentang kemasan. Tetra Recart, kemasan berbasis karton untuk makanan stabil, mereka sodorkan sebagai “pahlawan” keberlanjutan. Mereka mengklaim kemasan ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 85% dibandingkan kaleng atau botol kaca di seluruh rantai pasok . Sebuah klaim besar, tapi jika melihat data logistik yang mereka paparkan, bukanlah omong kosong belaka. Dikatakan bahwa kemasan karton ini memungkinkan 10-20% lebih banyak paket muat per truk dan menghemat 25-40% ruang rak. Bagi distributor, ini adalah angka yang berbicara tentang uang dan efisiensi.
Semua inovasi ini terintegrasi dalam sebuah misi besar yang dibawa pulang dari MIFB: mematangkan industri F&B Malaysia menghadapi regulasi lingkungan yang semakin ketat dan selera konsumen yang berubah cepat. Tetra Pak menunjukkan, bahwa inovasi bukan lagi tentang siapa yang punya uang paling banyak, tetapi siapa yang paling cerdas membaca peluang dan berkolaborasi. Mereka tidak hanya menjual mesin, mereka menjual ekosistem, wadah, dan strategi untuk bertahan dan tumbuh. |WAW-DEOJ