Panggung Kecil, Mimpi Selangit: Open Mic Jadi Jembatan Emas
Mastercard Luncurkan Artist Accelerator di Indoneisa
Mastercard dan SoundOn Meramu Jalan Sukses bagi 10 Musisi Muda Indonesia
DUNIAEOJAKARTA.COM – Industri musik Indonesia sedang berada di titik panas. Data menyebutkan, proyeksi pertumbuhan tahunan industri ini mencapai 3,57 persen hingga 2030, dengan nilai pasar musik digital yang diperkirakan tembus 276 juta dolar AS. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah denyut ekonomi kreatif yang mulai diakui sebagai tulang punggung budaya sekaligus peluang bisnis menjanjikan. Namun di balik gemerlap angka, ada celah besar yang kerap luput. Musisi lokal, terutama yang baru merangkak naik, masih berjuang mengubah bakat menjadi karier berkelanjutan.
Mastercard, perusahaan teknologi pembayaran global, bersama SoundOn yang merupakan bagian dari ekosistem TikTok, memutuskan tidak hanya menjadi penonton. Pada 22 Mei 2026, mereka mengumumkan peluncuran Mastercard Artist Accelerator SEA di Indonesia. Program ini bukan sekadar ajang bakat. Ia adalah ruang mentoring, panggung live showcase, dan jembatan digital yang menghubungkan musisi dengan penggemar secara autentik. Untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, program ini dimulai dari Indonesia dan Thailand.
Sepuluh musisi muda dari berbagai genre terpilih sebagai angkatan perdana. Nama mereka Jingga Arshabidari, Chintana Jo, Nadine Makalew, Farrel Nugroho, Tama Yuri, Saphira Adya, NDGJ, Alahad, Rimaldi, dan Gavendri. Bukan sekadar daftar. Mereka adalah wajah-wajah baru yang akan menjalani proses pengembangan kurasi ketat. Ada mentorship dari para pelaku industri musik ternama, kesempatan tampil langsung di atas panggung, edukasi musik digital, hingga strategi memperluas jaringan penggemar.
Dheeraj Raina, Senior Vice President Head of Marketing & Communications Southeast Asia Mastercard, menyebut musik di Asia Tenggara bukan sekadar konsumsi. Musik adalah cara masyarakat mengekspresikan identitas dan nilai-nilai mereka. Namun menurutnya, banyak musisi masih terjebak dalam hambatan struktural. Program ini hadir untuk menjawab itu dengan pendekatan yang membumi. Bukan sekadar pelatihan, tetapi ekosistem yang memungkinkan penggemar dan musisi saling mendekat.
Yang membuat program ini menarik adalah keterlibatan para juri dan mentor yang namanya sudah mentas di industri. Ada Rendy Pandugo, musisi dan produser yang duduk sebagai juri. Sarah Deshita, festival head We The Fest dan Djakarta Warehouse Project, juga menjadi juri. Sementara Dimasz Joey, CMO MAD HAUS, bertindak sebagai mentor. Kamga Mo, vocal director dan produser musik, juga turun langsung membimbing para peserta.
Rangkaian acara dirancang bertahap. Empat sesi Open Mic akan digelar di Krapela pada 24 Mei, 31 Mei, 7 Juni, dan 14 Juni 2026. Puncaknya adalah Final Showdown pada 12 Juli 2026. Bagi penggemar yang tak bisa hadir langsung, seluruh sesi Open Mic disiarkan live di akun TikTok @artistacceleratorsea. Ini langkah cerdas. Platform digital menjadi perluasan panggung, sekaligus alat ukur seberapa jauh jangkauan seorang musisi baru.
Hadiah utama bagi pemenang dari Indonesia dan Thailand adalah kesempatan memproduksi satu single kolaboratif. Mereka akan dibimbing langsung Kamga Mo, dengan dukungan penuh dari SoundOn. Single itu juga akan dilengkapi video musik sebagai paket strategis untuk memperluas jangkauan. Bukan sekadar lagu. Ini adalah paket luncuran yang dirancang agar musik dan kisah mereka bisa menembus skala lebih besar.
Tom Chou, Head of SoundOn Southeast Asia, menegaskan bahwa SoundOn hadir untuk membantu musisi di setiap tahapan karier. Kolaborasi dengan Mastercard, menurutnya, adalah upaya mengubah momentum kreatif menjadi kesuksesan jangka panjang. TikTok sebagai platform membuka peluang bagi musisi untuk terhubung dengan komunitas global pencinta musik. Bukan sekadar viral, tetapi membangun hubungan yang berkelanjutan.
Pemegang kartu Mastercard mendapatkan akses eksklusif ke pengalaman program ini melalui issuer kartu dan para pemangku kepentingan yang berpartisipasi. Ini bukan sekadar benefit transaksional. Mastercard ingin menciptakan jalur emosional antara brand, penggemar, dan musisi. Sebuah strategi yang mengubah pemegang kartu dari sekadar konsumen menjadi bagian dari ekosistem dukungan bagi talenta lokal.
Sepanjang program, konten regional akan mengalir deras di TikTok dan kanal media sosial lainnya. Perjalanan setiap musisi dari raw talent menuju pengakuan yang lebih luas akan diabadikan. Para penggemar bisa mengikuti momen di balik layar, pencapaian penting, dan proses kreatif yang biasanya tertutup dari publik. Ini adalah bentuk transparansi sekaligus cara membangun kedekatan.
Mastercard Artist Accelerator SEA bukan sekadar program akselerasi. Ia adalah pernyataan bahwa ekonomi kreatif tidak bisa tumbuh hanya dengan angka. Dibutuhkan ruang, akses, dan koneksi yang nyata. Dengan panggung open mic di Krapela, siaran langsung di TikTok, serta mentoring dari nama-nama besar, program ini seperti menjemput mimpi para musisi muda lalu menempatkannya di pusat perhatian. Bukan sekadar didengar. Tapi dirayakan. |WAW-DEOJ