SANF dan Mitra Netra Bukukan Literasi Inklusif untuk Tunanetra
SANF-Luncurkan-Audiobook-Inklusif-untuk-Tunanetra-di-Hari-Kartini
DUNIAEOJAKARTA.COM — Di sudut Saung Yayasan Mitra Netra, Rabu siang yang rintik itu, ada 120 pasang telinga yang menyimak dalam diam. Bukan suara hujan yang mereka tangkap, melainkan getaran kalimat dari sebuah buku audio yang baru pertama kali diluncurkan. Namanya “Amazing Love Story – Cerita Cinta 48 Bulan Pertama Bintang Kecilku”. Bukan sekadar peluncuran. Ini adalah panggung kecil bagi sebuah lompatan besar, bagaimana sebuah acara korporat bisa berubah menjadi ruang inklusi yang hangat.
PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF) mengemas program tanggung jawab sosialnya di Hari Kartini bukan dengan cara seremonial biasa. Mereka memilih panggung literasi untuk tunanetra. Bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, SANF menghadirkan “SANF Cerdas: Semangat Kartini, Semangat Literasi untuk Semua”. Uniknya, acara ini tidak hanya meluncurkan buku audio, tetapi juga merancang sebuah pengalaman kolektif: sesi booktalk interaktif yang melibatkan langsung penulis buku, Rury Winarto, serta para sahabat netra dari yayasan.
Dari sudut pandang industri event organizer, inilah kunci sukses acara: kolaborasi yang autentik. Tidak ada panggung megah atau lampu berlebihan. Yang ada adalah meja bundar, mikrofon terbuka, dan ruang di mana para penyandang tunanetra menjadi pusat diskusi, bukan sekadar penerima bantuan. Para peserta terdiri dari tunanetra, perwakilan Mitra Netra, serta tamu undangan. Mereka duduk bersama, mendengarkan potongan cerita yang dibacakan langsung oleh penulisnya, lalu berdiskusi tentang pentingnya akses bacaan yang setara.
Kehebohan acara ini tidak terletak pada riuh rendah suara, melainkan pada sebuah kejutan yang menginspirasi: sang penulis buku, Rury Winarto, membacakan sendiri karyanya untuk diubah menjadi buku audio digital. Aria Indrawati, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, mengungkapkan apresiasinya. “Semoga ada lebih banyak penulis yang mengikuti jejak Rury,” ujarnya. Di sanalah letak keistimewaan. Seorang penulis yang rela menjadi narator bagi karyanya sendiri, menciptakan kedekatan emosional yang tidak bisa digantikan oleh suara sintetis mana pun.
Davin Susanto, Corporate Strategy and Governance Division Head SANF, dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Kartini adalah pengingat tentang akses pendidikan yang setara. “Melalui dukungan terhadap audiobook ini, kami berharap dapat turut memperluas akses pengetahuan dalam bentuk yang lebih inklusif,” katanya. Bagi para EO, ini adalah pelajaran: dukungan korporat tidak harus selalu berbentuk pemasangan spanduk atau goodie bag. Tahun 2026, bentuk dukungan paling berkesan adalah menghadirkan akses. SANF memilih jembatan literasi.
Lantas, apa inovasi ide kreatif di balik acara ini Bukan sekadar peluncuran audiobook, tetapi pemilihan momentum Hari Kartini sebagai simbol emansipasi. Kartini dikenal sebagai pejuang akses pendidikan bagi perempuan. Di tangan SANF dan Mitra Netra, emansipasi itu diperluas menjadi emansipasi disabilitas. Mereka mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana jika seorang ibu tunanetra tidak bisa membaca buku parenting untuk anaknya “Amazing Love Story” yang bertema pengasuhan ini menjadi jawaban konkret. Selama 48 bulan pertama, banyak orang tua belajar membesarkan si bintang kecil. Kini, para orang tua tunanetra pun bisa belajar dengan cara yang sama.
Fakta lain yang kuat dari siaran pers: Yayasan Mitra Netra sudah memiliki Pustaka Mitra Netra yang menyediakan koleksi buku dalam format audio dan EPUB. Namun, kehadiran audiobook dari penulis yang membacakan sendiri tetap langka. Dan SANF memilih untuk mendukung diskusi buku ini sebagai “perkenalan awal perusahaan dengan Yayasan Mitra Netra dan para tunanetra”. Jadi, acara ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah pintu masuk sebuah hubungan jangka panjang.
Dari sisi teknis penyelenggaraan acara, ada tiga hal yang membuatnya patut dicermati para EO profesional. Pertama, pemilihan venue yang inklusif. Saung Yayasan Mitra Netra sudah pasti ramah disabilitas. Kedua, alur acara yang tidak berisik. Tanpa kata sambung bertele-tele, tanpa hiburan musik keras. Fokus pada suara, pada booktalk, pada interaksi. Ketiga, penguatan narasi pasca acara. SANF tidak sekadar menggelar lalu pulang. Mereka merilis siaran pers yang kaya data, menyertakan kontak jelas Teguh Ariyanto dari Corporate Strategy & Affairs Department, serta tautan ke media sosial @sanf_official. Ini sirkulasi narasi yang terencana.
Apa yang bisa viral dari acara ini Bukan karena ada artis atau panggung spektakuler. Viral karena ia menyentuh kebutuhan diam banyak orang: buku parenting dalam format audio yang dibacakan penulisnya sendiri. Viral karena ia menunjukkan bahwa sebuah acara perusahaan bisa sederhana, tidak mahal, tetapi berdampak besar bagi komunitas yang selama ini tak terlihat. Di era konten instan, momen di Saung Mitra Netra itu adalah bentuk perlawanan yang sunyi: bahwa membaca, mendengar, dan belajar adalah hak semua orang, tanpa kecuali.
Dengan 17 kantor cabang dan jaringan nasional di 12 kota besar, SANF membuktikan bahwa perusahaan pembiayaan pun bisa menjadi fasilitator literasi. Melalui empat pilar CSR mereka: SANF Cerdas, SANF Sehat, SANF Kreatif, dan SANF Hijau. Kali ini, SANF Cerdas menjadi yang paling berwarna, karena ia tak hanya mencerdaskan, tetapi juga merangkul.
Bagi Yayasan Mitra Netra yang berdiri sejak 14 Mei 1991, acara ini menambah satu lagi bukti: bahwa tunanetra bisa cerdas, mandiri, dan bermakna. Dan bagi para event organizer yang membaca ini, ada satu pesan yang tak perlu ditulis tebal: acara terbaik bukanlah yang paling mewah, melainkan yang paling membuka ruang.
Selamat bagi penyandang tunanetra. Kini ada satu buku audio baru yang menunggu di Pustaka Mitra Netra. Isinya bukan sekadar cerita cinta seorang ibu pada bintang kecilnya. Isinya adalah sebuah pernyataan: suaramu, hakmu, setara. |WAW-DEOJ