Setiap Kayuhan, Sejuta Makna: Ketika Balap Sepeda Menjadi Katalisator Perubahan di Yogyakarta

 Setiap Kayuhan, Sejuta Makna: Ketika Balap Sepeda Menjadi Katalisator Perubahan di Yogyakarta

Dua hari di Yogyakarta pada akhir November 2025 menceritakan sebuah kisah yang utuh tentang transformasi. Cerita itu tidak dimulai dari garis start sebuah balapan, melainkan dari tanah di Desa Sendangsari, di mana 350 bibit pohon produktif mulai ditanam. Narasinya kemudian bergerak seiring deru 750 sepeda dari lima negara, dan berakhir bukan hanya di podium, tetapi di sebuah fasilitas pengelolaan sampah yang mengubah limbah jadi berkah. Ini adalah kisah Maybank Cycling Series Il Festino 2025, sebuah event yang dengan sengaja merajut prestasi, pariwisata, dan keberlanjutan menjadi sebuah warisan nyata.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Jika dilihat dari kacamata event organizer konvensional, Maybank Cycling Series Il Festino 2025 sudah memenuhi semua kotak kesuksesan. Event yang digelar di Yogyakarta dengan start dan finish di Ramada by Wyndham Hotel itu mencatat partisipasi 750 pesepeda, terbagi dalam 498 peserta Gran Fondo 135 KM dan 252 peserta Medio Fondo 84 KM. Mereka datang dari Jerman, Spanyol, Thailand, Jepang, Malaysia, dan berbagai penjuru Indonesia.

Daftar pemenangnya pun berbicara tentang kompetisi kelas tinggi. Nama-nama seperti Nimal Magfiroh dan Rachmad Noka Wibisono mendominasi beberapa kategori, dari General hingga Sprint dan King/Queen of Mountain. Total hadiah Rp62 juta diserahkan, menyemarakkan semangang sportivitas. Race Director Daryadi Sadmoko menegaskan, peningkatan kualitas pada aspek keselamatan, fasilitas, dan pengalaman peserta adalah fokus utama yang terus dikejar setiap tahun.

Namun, bagi Project Director Widya Permana, momentum sesungguhnya terletak di luar sirkuit balap. “Dengan tema Cycling with a Purpose, kegiatan ini menunjukkan bagaimana olahraga menjadi ruang untuk memperkuat sport tourism,” ujarnya. “Tujuan” yang dimaksud bukanlah slogan kosong. Ia adalah sebuah blueprint operasional yang dieksekusi dengan cermat.

Sebelum para pesepeda mengayuh, sebuah kegiatan keberlanjutan telah lebih dulu digelar. Ini adalah bagian dari program “Gowes Ke-BIKE-an” Maybank Indonesia. Donasi diserahkan kepada dua mitra filantropi, Yayasan Benih Baik Indonesia dan Yayasan Plan International Indonesia, untuk mendukung pelestarian lingkungan, pemberdayaan UMKM lokal, serta mitigasi bencana.

Aksi nyata lainnya adalah penanaman 350 pohon buah mangga, nangka, dan alpukat di Desa Sendangsari, Kulon Progo. Menurut Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank Indonesia, penanaman ini dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ketersediaan air, erosi tanah, dan ketahanan pangan lokal sekaligus bernilai ekonomi.

Keunikan dan inovasi event ini terletak pada kemampuannya menciptakan ekosistem yang menutup siklusnya sendiri. Sampah yang dihasilkan selama acara tidak menjadi beban. Ia dikelola melalui fasilitas pengelolaan sampah organik milik Maybank Indonesia di Dusun Petung, Bangunjiwo, yang telah beroperasi sejak event tahun 2024. Sampah dipilah dan diproses menjadi produk turunan yang bernilai guna.

Di sisi partisipasi, UMKM lokal tidak sekadar jadi penjual. Mereka dihadirkan sebagai bagian integral dari acara dengan produk-produk berkelanjutan, memperkuat multiplier effect ekonomi dan mendukung sport tourism yang ramah lingkungan. Edukasi gaya hidup sehat dengan bersepeda juga diberikan kepada pelajar sekolah menengah pertama di Yogyakarta, menanamkan benih kebiasaan baik untuk generasi mendatang.

Kunci sukses Maybank Cycling Series Il Festino 2025, jika dirangkum, adalah integrasi yang visioner. Event ini berhasil menyatukan olahraga prestasi berstandar tinggi dengan program keberlanjutan yang berdampak langsung. Ia tidak hanya menyuguhkan pengalaman bersepeda kelas dunia, tetapi juga memastikan setiap kayuhan meninggalkan jejak yang terukur, dari pohon yang ditanam, sampah yang terkelola, komunitas yang terdampak positif, hingga ekonomi lokal yang bergerak.

Saat acara ditutup dan para pesepeda pulang, yang tersisa di Yogyakarta bukan hanya kenangan akan balapan yang seru. Yang tertinggal adalah sebuah cetak biru tentang bagaimana sebuah event besar dapat berfungsi sebagai katalisator perubahan, membuktikan bahwa dalam industri event organizer, kesuksesan sejati adalah ketika pesta usai, warisannya justru mulai bertumbuh. |WAW-DEOJ

Related post