Bagaimana Microsoft Elevate Merajut Semangat Kartini di Dua Dunia Berbeda

 Bagaimana Microsoft Elevate Merajut Semangat Kartini di Dua Dunia Berbeda

Garuda Impact Summit 2026

DUNIAEOJAKARTA.COM — Cobalah bayangkan menjadi seorang guru yang harus menyewa pesawat kecil jenis Pilatus dengan kapasitas tujuh penumpang, membayar puluhan juta rupiah sekali jalan, hanya untuk sampai ke tempat mengajar. Tidak ada jaringan seluler. Tidak ada listrik. Penerbangan reguler pun tidak tersedia. Ory Mangiri menjalani itu selama hampir delapan tahun di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

Di ruang kelas yang teramat sunyi dari hiruk-pikuk teknologi itu, Ory justru menemukan suara paling lantang. Murid-muridnya tetap datang. Antusiasme mereka tidak pernah pudar meski fasilitas nyaris tidak ada. Namun tantangan lain menanti. Pernikahan dini masih lazim. Beberapa murid kelas tiga sudah dipersiapkan orang tua mereka untuk menikah.

Setiap Minggu selepas ibadah di gereja, Ory berdiri di hadapan jemaat. Ia menyampaikan pesan yang sama, berulang-ulang, dengan konsisten. “Anak-anak ini sedang membangun masa depannya. Tolong beri mereka waktu untuk belajar dan menentukan hidupnya sendiri. Kesempatan ini tidak akan terulang lagi.”

Pesan itu perlahan menggugah. Para orang tua mulai memberi kesempatan anak-anak mereka melanjutkan sekolah lebih lama, setidaknya hingga jenjang SMP.

Kisah Ory adalah satu dari dua wajah yang dihadirkan Microsoft Elevate dalam rangkaian peringatan Hari Kartini tahun ini. Wajah lainnya datang dari Sherlita Ratna Dewi Agustin, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. Dua perempuan dari panggungan yang berbeda. Satu bergulat dengan keterbatasan infrastruktur paling ekstrem di timur Indonesia. Satu lagi memimpin birokrasi digital di provinsi dengan populasi terbesar kedua di Tanah Air.


Menemukan Angle Viral dari Dua Kutub yang Berbeda

Bagi para pelaku industri event organizer, kisah semacam ini mengandung pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah program bisa menjangkau audiens dari dua ekstrem sekaligus. inovasi ide kreatif dari Microsoft Elevate tidak terletak pada kemewahan produksi acara atau kemasan seremonial yang gemerlap. Justru sebaliknya. Mereka memilih untuk menyoroti praktik baik dari titik paling sunyi di peta Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat rata-rata lama sekolah perempuan secara nasional baru mencapai 8,79 tahun. Di Papua Pegunungan, angka itu anjlok drastis menjadi hanya 3,6 tahun. Artinya, sebagian besar perempuan di sana bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Di sisi lain, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat kesenjangan pemanfaatan internet antara laki-laki (72,07 persen) dan perempuan (66,35 persen).

Dua angka ini menjadi fondasi cerita. Ory mewakili mereka yang berjuang di wilayah dengan akses paling minim. Sherlita mewakili mereka yang berjuang memastikan teknologi tidak melahirkan kesenjangan baru di tengah kelimpahan infrastruktur.

Keunikan yang Ditawarkan

Program Microsoft Elevate yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini tidak berhenti pada seremoni. Mereka merancang pelatihan berjenjang yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ekosistem. Bagi Ory yang bertugas di pedalaman, pelatihan AI for Educators bersama Biji-Biji Initiative menekankan pada cara berpikir dan perancangan pembelajaran, bukan sekadar penggunaan alat. Ory mempelajari dasar-dasar kecerdasan buatan bagi pendidik, pendekatan pembelajaran abad ke-21, serta cara memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Ia bahkan menyelesaikan uji sertifikasi Microsoft Certified Educator.

Di tangan Ory, Microsoft Copilot bukan lagi sekadar perangkat lunak canggih. Ia berubah menjadi asisten mengajar yang membantu menyusun rencana pembelajaran sesuai durasi dua kali 35 menit, mencari ide aktivitas belajar yang kreatif, hingga menyederhanakan materi agar selaras dengan pemahaman murid. Hasilnya nyata. Murid-murid menjadi lebih aktif bertanya. Mereka mulai mencari informasi tambahan secara mandiri. Kepercayaan diri, rasa ingin tahu, dan kemandirian belajar tumbuh secara bertahap.

Sementara itu, Sherlita mengikuti program GARUDA AI pada sesi AI Policy Lab for Leaders bersama BINAR. Pendekatannya juga berjenjang. AI Fundamentals membangun pemahaman dasar. Applied AI Tools mengajarkan penggunaan praktis. Responsible AI, Governance, and Security Awareness menekankan etika, tata kelola data, dan implikasi keamanan di lingkungan pemerintahan.

Di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Sherlita memanfaatkan Microsoft Copilot untuk analisis data dan penyusunan laporan, komunikasi publik yang lebih terstruktur, serta persiapan kebijakan melalui riset awal. Sepanjang tahun 2025, sekitar 1.113 Aparatur Sipil Negara Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berpartisipasi dalam program Gerakan Cerdas Digital (Cerdig) yang mencakup berbagai pelatihan literasi digital dan AI.

Kunci Sukses Acara

Apa yang membuat kampanye ini berpeluang viral dan menjadi pusat perhatian publik? Jawabannya terletak pada keberanian mengambil POV yang tidak biasa. Alih-alih menampilkan panggung megah dengan pembicara-pembicara nasional yang sudah sering terdengar, Microsoft Elevate memilih untuk memberi ruang pada kisah-kisah dari akar rumput. Ory Mangiri, yang pada 2024 dianugerahi sebagai Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan dari Kementerian Pendidikan, adalah sosok yang mudah mengundang empati sekaligus kekaguman. Ia tidak menunggu listrik menyala di Nduga. Ia justru memanfaatkan apa yang ada, termasuk pelatihan AI, untuk menciptakan perubahan dari titik nol.

Kehebohan acara ini juga datang dari momen Women at Microsoft Indonesia yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini. Kehadiran Veronica Tan sebagai Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara menambah bobot. Veronica Tan menegaskan bahwa akses dan keadilan yang setara adalah kunci agar perempuan dapat mewujudkan potensi dan mimpinya. “Jika kita berhenti menyuarakan bahwa perempuan memiliki hak yang setara untuk bermimpi dan meraihnya, maka kesempatan itu bisa terlewat,” ujarnya.

Sherly Tjoanda menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan di daerah yang didukung infrastruktur dan pengembangan kapasitas inklusif. “Dukungan dari pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan sangat krusial. Pelatihan Microsoft Copilot untuk UMKM dan ASN membantu membuka pemahaman tentang AI sebagai alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing.”

Apa yang Bisa Dipelajari Event Organizer

Bagi para pelaku industri event organizer, ada setidaknya tiga pelajaran dari penyelenggaraan program ini. Pertama, kekuatan cerita tidak selalu membutuhkan produksi mahal. Kisah Ory yang mengajar di Nduga dengan segala keterbatasannya, atau Sherlita yang memastikan 1.113 ASN Jawa Timur melek AI, memiliki daya tular yang lebih kuat daripada sekadar deretan sponsor atau artis papan atas.

Kedua, pengemasan pelatihan berjenjang seperti yang dilakukan Microsoft Elevate, BINAR, dan Biji-Biji Initiative, menjadi nilai tambah yang membedakan program ini dari sekadar seminar biasa. Pendekatan bertahap dari fundamental hingga implementasi etis menunjukkan kematangan perencanaan.

Ketiga, pemilihan waktu yang tepat. Merayakan Hari Kartini dengan menghadirkan kisah nyata tentang bagaimana teknologi membantu perempuan mengakses pendidikan dan kepemimpinan adalah strategi yang cerdas. Ia tidak terasa memaksakan koneksi, melainkan organik dan relevan.

Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, menutup dengan catatan penting. “Di era AI, peran pemimpin diharuskan berevolusi. Bukan hanya mengarahkan pekerjaan, tetapi menetapkan visi yang membuat teknologi bekerja untuk tujuan yang jelas. Kepemimpinan yang visioner memastikan AI dimanfaatkan secara aman dan bertanggung jawab, sehingga tim dapat bekerja lebih fokus, lebih produktif, dan tetap selaras dengan arah organisasi.”

Ory Mangiri mungkin tidak memikirkan semua itu saat ia berdiri di hadapan jemaat gereja di Nduga, menyampaikan pesan yang sama setiap minggu. Ia hanya ingin murid-muridnya mendapat kesempatan belajar lebih lama. Namun dari langkah kecil itulah semangat Kartini di era AI dirawat. Tidak harus dengan panggung megah. Tidak harus dengan teknologi tercanggih. Cukup dimulai dari satu sekolah, satu guru, dan satu ruang kelas yang perlahan berubah.

Di Papua Pegunungan, perubahan itu telah dimulai. Di Jawa Timur, perubahan itu terus digulirkan. Dan di ruang-ruang serupa di seluruh Indonesia, kisah ini diharapkan menjadi undangan bagi lebih banyak perempuan untuk tidak berhenti bermimpi. |WAW-DEOJ

Related post