IIMS 2026: Mazda Meminta Jurnalis Mencari “Jiwa” di Balik Bodi

 IIMS 2026: Mazda Meminta Jurnalis Mencari “Jiwa” di Balik Bodi

Mazda Journalist Reels Competition

Di IIMS 2026, booth Mazda tak cuma memamerkan kilap cat dan teknologi hybrid. Ada lomba Instagram Reels yang meminta pengunjung menjawab pertanyaan sederhana tapi rumit: jika mobil ini jadi manusia, siapa dia?

DUNIAEOJAKARTA.COM – JAKARTA, Di tengah riuh pameran, Hall C3 B11 terasa sedikit berbeda. Di sana, Mazda tidak hanya menjajalkan spesifikasi mesin atau keunggulan plug-in hybrid. Mereka membawa pertanyaan yang lebih personal.

If Mazda Were a Person.

Itulah tema kompetisi IG Reels yang digelar Mazda Indonesia bersama ORVYN selama IIMS 2026, 6 14 Februari. Sekilas, ini hanya lomba konten biasa. Ada hadiah jutaan rupiah, enam pemenang, dan sederet aturan teknis. Tapi di balik itu, terselip satu inovasi kecil yang sebenarnya besar: meminta jurnalis dan pengunjukarya untuk berhenti sekadar mengagumi objek, lalu mulai membayangkan jiwa di dalamnya.

Ini bukan sekadar lomba foto mobil. Ini upaya personifikasi merek yang dikemas dalam format Reels, medium yang biasanya hanya lari sekian detik lalu lenyap digulung algoritma. Tapi Mazda menambatkannya di stan pameran, di lokasi fisik, di IIMS yang ramai. Mereka ingin konten digital lahir dari ruang nyata.

Tokoh, Bukan Sekedar Kiasan

Dalam dokumen perlombaan yang diterima peserta, tertulis jelas: peserta harus menganalogikan satu dari tiga model, Mazda CX-80, The New Mazda CX-60 Sport, atau Mazda CX-30 sebagai seorang tokoh.

Bukan sekadar sifat. Tokoh. Sosok. Nama. Contoh yang diberikan panitia cukup menarik. The New Mazda CX-60 Sport dianalogikan sebagai Irfan Bachdim. Aktif, percaya diri, tapi tetap relevan untuk mobilitas sehari-hari. Bukan kebetulan mereka memilih pesepakbola keturunan yang dikenal gaul, fotogenik, dan punya penggemar lintas usia. Ini adalah kode: mereka ingin analogi yang membumi, bukan jargon abstrak.

Di sinilah letak inovasi kreatif acara ini. Mazda tidak meminta peserta menulis esai panjang tentang filosofi Jinba Ittai. Mereka minta peserta menulis nama orang. Lalu menjelaskan, dalam durasi Reels yang pendek, kenapa CX-30 bisa jadi seperti tokoh itu.

Dengan begitu, pesan merek dikomunikasikan lewat pintu belakang: pintu budaya pop, pintu imajinasi kolektif.

Tiga Karakter, Tiga Jiwa

Mazda memberikan tiga produk dengan tiga kepribadian berbeda:

CX-80 disebut sebagai SUV premium tiga baris dengan filosofi human centric. Kabin luas, bisa diatur fleksibel, cocok untuk keluarga. Tapi bukan sekadar mobil besar. Mazda menyematkan kata Graceful Toughness untuk konsep desainnya. Kuat, tapi anggun.

CX-60 Sport datang dengan Noble Toughness. Proporsi solid, kemudi intuitif, cocok untuk urban yang ingin sensasi berkendara lebih hidup. Mereka menyebutnya sebagai pilihan rasional untuk kemewahan dan performa.

CX-30 adalah crossover kompak. Desain KODO, filosofi Jinba Ittai, dan semangat kesatuan pengemudi dengan kendaraan. Urban, aktif, presisi.

Tiga produk, tiga arketipe. Tugas peserta hanya satu: menemukan tokoh yang mewakili masing-masing.

Ini bukan sekadar teknik pemasaran. Ini riset kolektif. Ketika ribuan peserta mulai membandingkan CX-80 dengan kepala keluarga yang tenang, atau CX-30 dengan seniman yang lincah, Mazda diam-diam sedang memetakan persepsi publik. Tanpa survei. Tanpa kuesioner. Cukup lewat tagar #MazdaIIMS2026.

Kolaborasi, Bukan Sekadar Juri

Yang menarik, kompetisi ini tidak digarap sendiri oleh Mazda. Mereka menggandeng ORVYN, rumah kreatif yang kerap menangani proyek otomotif. Lalu ada akun @mazdaid.mediacorner, kanal khusus untuk jurnalis dan media.

Ekonomi acara hari ini tidak lagi linier. EO bukan hanya penyewa booth dan pengatur lalu lintas pengunjung. Mereka adalah kurator pengalaman. Di IIMS 2026, Mazda menunjukkan bahwa stan bukan sekadar etalase, tapi studio. Peserta tidak hanya datang melihat, tapi memproduksi.

Dari sisi teknis, panitia juga memberi ruang untuk nilai tambah: adegan test drive. Hanya lima persen dari bobot penilaian, tapi ini sinyal. Mereka ingin konten yang dibuat tidak hanya indah di layar, tapi juga jujur pada pengalaman.

Dan kepatuhan terhadap aturan teknis—akun tidak privat, tag ke @mazdaid, hashtag resmi—diberi bobot sepuluh persen. Bukan sekadar formalitas. Ini cara mengajar publik bahwa konten yang baik juga harus terukur.

Viral yang Direncanakan

Media sosial sering dianggap liar. Tapi Mazda mencoba menjinakkannya lewat struktur. Mereka tidak pasrah pada algoritma. Mereka mendesain konten yang layak viral.

Buktinya ada di detail. Akun tidak boleh privat. Tag wajib. Follow akun resmi. Ini adalah teknik distribusi terkontrol dalam ekosistem yang cair.

Dengan hadiah total yang tidak terlalu besar—Rp3 juta untuk juara pertama, dan lima pemenang lainnya dengan nilai lebih kecil—Mazda sebenarnya tidak sedang membeli pengaruh. Mereka sedang membangun perpustakaan narasi. Setiap Reels yang masuk adalah satu bab baru dalam buku besar tentang bagaimana orang memandang Mazda.

Inilah keistimewaan IIMS 2026 versi Mazda. Mereka tidak sibuk berteriak soal tenaga kuda atau efisiensi bahan bakar. Mereka membiarkan pengunjung yang bicara. Dengan syarat: bicaralah dalam bentuk tokoh.

Yang Tak Tertulis di Brosur

Jika diperhatikan, di seluruh dokumen perlombaan, Mazda tidak pernah menyebut kata “terjual” atau “pembelian”. Tidak ada insentif bagi mereka yang membawa bukti pemesanan. Kompetisi ini murni apresiasi terhadap karya, bukan transaksi.

Ini langkah yang cukup berani di tengah pameran otomotif yang biasanya dihitung dari angka penjualan.

Namun justru di sinilah letak humanisme acara. Mazda memperlakukan jurnalis dan pengunjung sebagai kreator, bukan prospek. Mereka membayangkan bahwa relasi jangka panjang tidak dimulai dari nota, tapi dari kesan.

Dan kesan paling kuat lahir ketika seseorang bisa berkata: Mobil ini seperti teman saya.

Suara dari Stan

Sore hari di hari kelima pameran, beberapa peserta masih terlihat merekam ulang adegan di depan CX-80. Ada yang membawa papan kecil berisi nama tokoh, ada pula yang sekadar bicara spontan di depan kamera ponsel.

Salah satu peserta, jurnalis dari media otomotif lokal, mengaku sempat bingung. “Awalnya saya pikir harus cari artis terkenal. Tapi makin dipikir, makin cocok kalau CX-30 ini seperti pegiat seni rupa. Ringkas, ekspresif, nggak banyak tingkah.”

Di sudut lain, seorang kreator konten sedang mengatur sudut pengambilan gambar untuk CX-60 Sport. Ia membawa boneka kecil bergaya pesepakbola. Mungkin itu Bachdim versi mini.

Di dunia yang semakin dipadati iklan, narasi yang paling efektif adalah narasi yang lahir dari kepala sendiri.

Mazda hanya menyediakan panggung. Orang lain yang menyebutkan nama.

Koda

Di akhir dokumen perlombaan, ada satu baris kecil: Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Tapi sebelum keputusan itu turun, ribuan narasi sudah bertebaran. Masing-masing membawa versi Mazda-nya sendiri. Ada yang gagah, ada yang kalem, ada yang energetik.

Dan ketika pameran tutup, booth Mazda boleh dibongkar. Tapi di Instagram, tagar #MazdaIIMS2026 masih akan terus muncul. Bukan karena paksaan iklan. Tapi karena orang masih asyik membayangkan: jika mobil ini jadi manusia, siapa dia?

Jawabannya mungkin tidak akan pernah tunggal. Dan Mazda sepertinya memang tidak menginginkan itu. |WAW-DEOJ

Related post