IIMS 2026: Kia Jadikan Panggung Bukan Sekadar Alas Mobil
KIA Sonet
Mereka Merayakan Kehadiran, Bukan Sekadar Peluncuran
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di area seluas hampir seribu meter persegi, lampu sorot Jakarta Convention Center jatuh persis di atas permukaan panggung berputar. Sebuah Kia Sonet warna Pewter Olive meluncur pelan, ditemani bias cahaya biru yang sengaja direkayasa agar membias ke seluruh penjuru hall. Di detik itu, tidak ada yang sekadar memandang mobil.
Mereka sedang menyaksikan bagaimana sebuah pameran berubah menjadi panggung persepsi.
Indonesia International Motor Show 2026 baru berjalan tiga jam ketika ribuan pasang mata mulai mengarahkan gawai ke arah booth Kia. Bukan semata karena mobil. Tapi karena apa yang dilakukan Kia terhadap mobil itu. Sonet, yang tahun lalu hanya tersingkir di sudut hall, kini ditempatkan di pusat rotasi. Bukan cuma soal garis bodi atau lampu LED. Ini soal kurasi ruang.



Di industri event organizer, pelajaran paling mahal adalah memahami bahwa pengunjung tidak datang untuk melihat benda. Mereka datang untuk merasakan kehadiran. Dan Kia, lewat tangan dingin tim kreatifnya, sepertinya paham betul.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan dalam siaran pers, tapi terasa kuat di lapangan: tempo. Booth Kia di IIMS tahun ini tidak terburu-buru. Mereka tidak memasang layar raksasa yang berteriak. Tidak ada host dengan mikrofon bernada tinggi. Sebagai gantinya, sound system menyala pada volume yang justru membuat orang ingin mendekat. Ini strategi ruang yang berani, karena di tengah hiruk pikuk pameran, keheningan adalah barang mewah.
Para event planner yang hadir di hari pertama pembukaan mencatat satu hal: Kia menggunakan pendekatan theatre-in-the-round. Panggung bundar tanpa penghalang. Artinya, tidak ada sudut terbaik. Semua sudut adalah depan. Pesannya terang, Sonet tidak punya sisi belakang. Ini pendekatan yang menguntungkan secara dramatik sekaligus komersial. Dalam waktu singkat, antrean untuk masuk ke kabin Sonet mencapai dua puluh menit.
Tapi yang lebih menarik terjadi di area belakang booth. Biasanya, area ini hanya dipenuhi kardus dan kabel. Namun kali ini, Kia menyulapnya menjadi ruang obrolan tidak resmi. Beberapa influencer otomotif terlihat duduk lesehan di karpet abu-abu, memegang kopi, berdiskusi tentang fitur ADAS. Suasana intim seperti ini jarang ditemukan di pameran berskala nasional. EO yang terlibat rupanya belajar dari pola open house Skandinavia, di mana kepercayaan tumbuh bukan dari presentasi, tapi dari percakapan.
Data menyebutkan Sonet memiliki sunroof dan Bose Premium Sound System. Tapi apa arti fitur tanpa konteks? Di booth, tim kreatif justru tidak langsung membicarakan spesifikasi. Mereka memutar daftar putar yang dikurasi oleh musisi lokal, diputar melalui speaker Bose yang terpasang di mobil dengan pintu terbuka. Pengunjung tidak diberi brosur. Mereka diberi pengalaman mendengar. Ini adalah bentuk literasi produk yang halus. Tidak menggurui, tapi merangkai hubungan emosional.
Puncak dari pendekatan ini adalah momen ketika Aviandra Pradipta, Head of Product Kia Sales Indonesia, naik ke panggung. Tidak ada teleprompter. Tidak ada skrip kaku. Ia duduk di kursi pengemudi Sonet, membuka kaca sunroof, lalu berbicara tanpa pengeras suara berlebih. Audiens mendekat. Ruang menyusut. Itu adalah adegan yang tidak tertulis di dalam press release, tapi justru menjadi denyut nadi acara.
Dari perspektif event organizer, keberhasilan pameran tidak diukur dari berapa banyak mobil terjual di tempat. Itu urusan bagian penjualan. Ukuran sesungguhnya adalah apakah pengunjung pulang dengan cerita. Dan cerita yang lahir dari booth Kia bukan tentang angka Rp289 juta hingga Rp339 juta. Cerita itu adalah tentang bagaimana sebuah mobil kecil bisa terasa besar karena cara ia dirayakan.
Mungkin inilah standar baru yang dimaksud dalam siaran pers mereka. Bukan hanya standar mobil urban. Tapi standar menghadirkan produk dengan hormat, tanpa kegaduhan. Di IIMS yang penuh gebyar, Kia memilih bicara pelan. Dan orang-orang justru mendengar.
Di akhir hari, seorang pengunjung muda bertanya pada petugas booth, Mas, ini pameran atau pesta kecil? Petugas itu tersenyum. Tidak menjawab. Tapi mungkin itu justru jawaban paling jujur.
Di pameran motor terbesar Indonesia, Kia datang tidak untuk berteriak. Mereka datang untuk didengar. Dan dunia EO mencatat: kadang, panggung terbaik bukan yang paling terang, tapi yang membuat orang rela mendekat. |WAW-DEOJ