Setengah Hari di Fairmont, Masa Depan Energi Dikandangkan

 Setengah Hari di Fairmont, Masa Depan Energi Dikandangkan

Energy Forward Forum Attendees

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di lantai mezzanine Fairmont Hotel Jakarta, dua belas hari Februari kemarin, tidak ada dekorasi meriah atau musik membahana yang lazim memekakkan telinga di acara korporat. Suasana di ruang sidang itu justru hening, serius, tapi terasa hangat. Sekelompok orang duduk melingkar, sesekali menunjuk layar presentasi, sesekali mengangguk-angguk. Di sudut lain, seorang pria mencatat dengan saksama. Tidak ada yang sibuk dengan ponsel.

Itulah potret Energy Forward Forum, gelaran perdana Mitsubishi Power di Indonesia. Sebuah acara yang hanya berdurasi setengah hari, tapi menyedot perhatian para pemangku kebijakan energi negeri ini. Di tengah tren event yang semakin hingar-bingar dengan instalasi seni dan karpet merah, Mitsubishi Power justru memilih jalan sunyi: membuat forum yang terasa seperti ruang diskusi tertutup, namun isinya terang-benderang untuk publik.

Yang membuat forum ini istimewa bukan sekadar deretan nama besarnya. Ahmad Amiruddin, Direktur Aneka Usaha Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, duduk bersebelahan dengan Evy Haryadi dari PLN dan Kenji Enoshita, Minister Ekonomi Kedubes Jepang. Di kursi lainnya, tampak Bernadus Sudarmanta dari PLN Indonesia Power, Fazil Alfitri dari Paiton Energy, hingga Hendra Tan dari Barito Renewables. Mereka semua berkumpul bukan untuk seremoni seremonial, tapi untuk mengikuti alur diskusi yang dirancang seperti aliran listrik: fokus, terarah, dan produktif.

Inilah inovasi tersembunyi dari Energy Forward. Di tengah industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang berlomba membuat acara spektakuler, Mitsubishi Power justru menghadirkan kembali format lama yang hampir punah: forum pakar yang intim. Tidak ada keynote speech membosankan yang dibacakan dari kertas. Sebagai gantinya, mereka menyusun sesi panel bernada Towards Sustainable Energy Supply dan solusi segmen teknis yang memaparkan pengalaman nyata dari lapangan. Moderatornya bukan sekadar pembawa acara, melainkan penguji konsep: Sacha Winzenried dari PwC Indonesia.

Kehebohan dalam forum ini bukan dari tepuk tangan riuh, melainkan dari pengakuan jujur para pemain lama. Dalam diskusi, terungkap bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti batu bara dengan angin atau surya. Ada peran gas yang masih strategis untuk menjaga stabilitas jaringan. Ada peluang hidrogen dan carbon capture yang menunggu teknologi matang. Ada pengakuan bahwa optimasi aset eksisting juga sama pentingnya dengan membangun pembangkit baru.

Namun yang paling menarik adalah bagaimana Mitsubishi Power membingkai perannya. Mereka tidak datang sebagai penjual turbin. Mereka datang sebagai mitra diskusi. Daichi Nakajima, Executive Vice President Mitsubishi Power, bahkan mengingatkan kembali proyek Muara Karang yang diselesaikan di tengah pandemi Covid-19. Sebuah pengingat bahwa mereka sudah teruji dalam krisis. Bukan sekadar pemasok, tapi bagian dari solusi.

Dari sudut pandang penyelenggara, kunci sukses acara ini justru pada kurasi peserta yang ketat dan desain agenda yang padat tapi renggang. Setengah hari dipilih bukan karena anggaran terbatas, tapi agar energi peserta tidak terkuras. Setiap sesi dibuat untuk memancing respons, bukan sekadar menyerap informasi. Hasilnya, diskusi tidak berhenti di ruang sidang. Sesi kopi sore menjadi perpanjangan negosiasi, dan jabat tangan di lobi menjadi awal kerja sama baru.

Tidak ada siaran langsung di YouTube. Tidak ada tagar yang digembar-gemborkan di media sosial. Yang ada adalah komunike pers sederhana yang dirilis dua hari kemudian. Tapi di dunia yang serba bising, pendekatan diam-diam seperti ini justru menjadi terobosan. Mitsubishi Power tidak sedang membuat pameran, mereka sedang membangun ekosistem.

Energy Forward Forum mungkin tidak akan viral di linimasa. Tapi di meja-meja diskusi kementerian, di ruang rapat direksi IPP, dan di bilik-bilik Fairmont yang sunyi itu, percakapan tentang masa depan energi Indonesia tengah dirumuskan. Dan kadang, dari ruang setengah hari itulah, arah kebijakan sepuluh tahun ke depan bisa lahir.

Itulah kekuatan event yang dirancang dengan saksama. Bukan sekadar mengumpulkan orang, tapi memastikan mereka pulang dengan gagasan baru. Dan di dunia energi yang sedang berubah cepat, gagasan adalah komoditas paling mahal. |WAW-DEOJ

Related post