Jaringan Takjil Raksasa Aice: Reseller Jadi Juru Bagi Serentak di Ribuan Masjid

 Jaringan Takjil Raksasa Aice: Reseller Jadi Juru Bagi Serentak di Ribuan Masjid

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah masjid kampung di pinggiran Surabaya, tiga puluh menit menjelang azan Magrib, seorang pemilik warung kelontong menyusuri saf jemaat sambil membawa kantung plastik kecil berisi es krim mochi. Ia bukan bagian dari tim corporate social responsibility perusahaan besar. Ia adalah mitra Aice, yang tiap hari menjual es krim itu di etalasenya. Tapi di bulan puasa ini, etalase itu berpindah fungsi: dari tempat jualan jadi lumbung berbagi.

Pemandangan serupa terjadi di ribuan titik lain. Ada di masjid besar kota, di musala kampung, hingga permukiman padat yang warganya berbuka dengan duduk lesehan beralas koran. Dari Bandung ke Medan, dari desa di Jawa sampai pesisir Sumatra, jaringan berbagi itu bekerja. Ini bukan soal es krim semata. Ini adalah mesin sosial raksasa yang digerakkan oleh ekonomi mikro.

Aice, merek es krim yang sepuluh tahun terakhir gencar membangun jaringan distribusi hingga ke warung-warung pinggir rel, merayakan Ramadan dengan cara yang tak biasa. Program “Maniskan Momen Ramadhan” yang sudah menginjak usia satu dekade itu melibatkan ratusan ribu reseller. Mereka adalah para pemilik warung yang selama ini menjadi ujung tombak distribusi produk. Di bulan puasa, mereka berubah peran: dari pedagang menjadi penyebar takjil atas nama perusahaan.

Skenarionya sederhana namun strategis. Alih-alih perusahaan mendistribusikan takjil langsung dari pusat, Aice memanfaatkan jaringan warung yang sudah terbentuk. Ratusan distributor di berbagai provinsi memasok produk ke para pemilik warung. Para pemilik warung inilah yang kemudian membagikannya ke masjid-masjid di lingkungan mereka. Mereka juga berkolaborasi dengan pengurus masjid dan kepala desa agar takjil sampai ke tangan yang tepat.

Pendekatan ini membuat distribusi takjil tidak terpusat di satu lokasi, tapi menyebar ke ribuan titik. Alih-alih menimbun satu masjid dengan ribuan paket, di setiap masjid dibagikan 100 hingga 500 bingkisan. Jumlah yang pas untuk menciptakan momen kebersamaan tanpa membuat siapa pun merasa berlebihan.

Produk yang dibagikan pun bukan sekadar es krim batangan. Aice memilih varian yang punya sensasi berbeda: Aice Mooochii, dengan kulit mochi kenyal dan isian es krim, termasuk varian baru rasa mangga dengan kejutan jelly bits di dalamnya. Juga Aice Crispy Balls, dua varian cokelat malt dan cookies n’ cream, yang teksturnya renyah. Produk-produk ini, yang sudah mengantongi sertifikasi HACCP, BPOM, dan ISO 9001:2008, dikemas sebagai “festive dessert”: hidangan penutup yang menyegarkan setelah menu takjil berat seperti kolak dan gorengan.

Di luar distribusi fisik, ada cerita lain yang membuat program ini lebih hidup. Aice menghadirkan kreator konten di beberapa kota untuk ikut membagikan takjil. Di Bandung, ada eJ Peace. Di Medan, Arif Muhammad hadir dengan karakter Mamak Bety yang terkenal itu. Di Jakarta, acara puncak melibatkan Arvino, yang dikenal sebagai Gubernur Blok M. Mereka tidak sekadar foto lalu pergi. Mereka melakukan live streaming di TikTok, berinteraksi dengan audiens, dan membagikan hadiah. Satu sesi live bersama Arvino dan Phoni misalnya, tidak hanya menonton mereka berbagi, tapi juga memberi kesempatan penonton untuk mendapat bingkisan.

Strategi ini memperluas jangkauan. Jika distribusi fisik menjangkau jemaat masjid dari generasi tua hingga anak-anak, aktivasi digital menjaring generasi muda yang mungkin tidak ke masjid, tapi tetap ingin merasakan euforia berbagi Ramadan. Perpaduan offline dan online membuat program ini tidak eksklusif, tapi inklusif dengan cara yang berbeda.

Dari sisi event organizing, skema Aice menunjukkan bagaimana sebuah program berbagi bisa dirancang tanpa membangun infrastruktur baru. Mereka memanfaatkan apa yang sudah ada: jaringan warung, distributor, dan relasi sosial di tingkat komunitas. Biaya logistik ditekan karena distribusi berjalan dari titik-titik yang sudah tersebar alami. Yang dilakukan perusahaan adalah memicu, mengoordinasi, dan memberi muatan emosional melalui kehadiran figur publik serta kemasan produk yang relevan dengan momen.

Di sinilah letak inovasi ide kreatifnya. Bukan pada produk baru, tapi pada penggunaan jaringan distribusi sebagai kanal kebaikan. Para pemilik warung, yang biasanya menjadi tujuan akhir rantai distribusi, justru dijadikan titik awal berbagi. Mereka yang paling tahu siapa di lingkungannya yang membutuhkan, masjid mana yang rutin menggelar buka puasa bersama, dan berapa banyak jemaat yang datang.

Hasilnya, jutaan paket takjil berpindah tangan selama Ramadan 2026. Angka itu bukan sekadar statistik. Di setiap paket ada cerita tentang pemilik warung yang bangga bisa berbagi, tentang anak-anak yang berebut es krim mochi setelah azan, tentang jemaat yang tersenyum karena buka puasanya ada sedikit kejutan manis. Dan semua itu terjadi serentak, di ribuan titik, dengan satu merek yang sama: Aice.

Sylvana Zhong, Senior Brand Manager Aice Group, menyebut Ramadan sebagai momentum mempererat silaturahmi. Tapi yang dilakukan perusahaannya lebih dari sekadar wacana. Mereka merancang program yang memberi peran nyata kepada mitra usaha kecil, menghormati struktur sosial lokal, dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas dampak. Dalam bahasa yang lebih sederhana: mereka membuat berbagi menjadi mudah, karena jalannya sudah ada. Tinggal dimanfaatkan.

Ke depan, Aice berjanji akan terus menghadirkan inisiatif serupa. Jika konsisten, mereka tidak hanya membangun loyalitas konsumen, tapi juga semacam ekosistem berbagi yang bisa dihidupkan setiap tahun. Dan di tengah maraknya program CSR yang seremonial, pendekatan Aice ini layak dicatat: sebuah program besar tidak selalu butuh panggung raksasa. Kadang, cukup dengan ribuan warung kecil yang bergerak serempak, dan ribuan masjid yang menerima dengan tangan terbuka. |WAW-DEOJ

Related post