Hybrid Event Berbuah Dokumen Politik
Dari kiri ke kanan: Dr. Rizal Edwin Manansang, Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK; Dr. Hassan Wirajuda, Rektor Universitas Prasetiya Mulya; Dita Aisyah, Director of BINAR; dan Arief Suseno, AI Skills Director, Microsoft Indonesia menghadiri acara GARUDA AI Regional Summit I di Universitas Prasetiya Mulya, Banten.
Rahasia ‘Technical Run’ GARUDA AI Summit yang Sukses Memaksa 800 ASN Berhenti Jadi Penonton
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di ruang auditorium Universitas Prasetiya Mulya, Banten, Kamis (2/4) lalu, tak ada panggung megah atau sekadar seremonial. Yang ada adalah tegangan berbeda. Delapan puluh Aparatur Sipil Negara duduk dalam lingkaran kerja, bukan sebagai peserta pasif, melainkan perumus kebijakan. Di layar, 700 wajah lain memenuhi ruang daring dari berbagai penjuru Indonesia.
Mereka datang bukan untuk mendengar khotbah tentang kecerdasan buatan. Mereka datang untuk menulis draf kebijakan yang akan dibawa ke Jakarta pada Juni 2026. Inilah GARUDA AI Regional Summit I. Dan untuk pertama kalinya, sebuah provinsi di Indonesia—Banten—berani mengangkat isu kesiapan tenaga kerja berbasis AI dari tingkat daerah langsung ke panggung kebijakan nasional.
Banten dipilih bukan tanpa alamat yang jernih. Provinsi ini memiliki infrastruktur digital paling siap, termasuk KEK ETKI yang menjadi pusat inovasi dan regulasi teknologi. “Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana pemerintah menyiapkan program transformasi tenaga kerja yang terstruktur dan melekat langsung ke dalam SOP kerja ASN, bukan pelatihan sekali lalu selesai,” tegas Dr. Rizal Edwin Manansang, Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK. Angka pertumbuhan ekonomi Banten yang mencapai 5,37 persen, tertinggi pasca pandemi, menjadi modal sekaligus alarm. Pertumbuhan setinggi itu harus ditopang tenaga kerja yang adaptif terhadap pergeseran profesi. World Economic Forum sudah memprediksi lonjakan kebutuhan di bidang AI dan Machine Learning.
Summit ini adalah buah kolaborasi tiga kekuatan: BINAR, Microsoft Indonesia, dan Badan Kepegawaian Negara. Mereka menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Provinsi Banten, serta Universitas Prasetiya Mulya sebagai academic collaborator. Program ini bernama Microsoft Elevate, sebuah program AI skilling nasional yang menolak pendekatan setengah hati. Bukan pelatihan sekali lalu selesai. Ada sertifikasi. Ada struktur. Ada target aplikasi nyata dalam pelayanan publik.
Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, membingkai misi ini dengan kalimat yang mengiris sekat kekhawatiran publik. “Microsoft Elevate hadir untuk memastikan AI digunakan untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya.” Maka sesi panel dibuat tidak biasa. Peserta didorong merumuskan solusi dalam tiga tahap yang membumi: mendefinisikan problem statement nyata dari lapangan sebelum menyentuh teknologi, membangun AI literacy agar ASN mampu mengevaluasi output AI secara kritis termasuk mendeteksi halusinasi data, lalu mengintegrasikan AI langsung ke alur kerja sehari-hari.
Hasilnya bukan angan. Empat kelompok kerja paralel menghasilkan blueprint tata kelola data, kerangka kesiapan kerja berbasis AI, indikator kinerja dampak sosial ekonomi, hingga rancangan proyek percontohan AI di sektor daerah. Semua itu dirangkum dalam satu dokumen penting: Draft Regional Policy Recommendations on AI-Enabled Job Readiness and Workforce Development.
Dokumen ini tidak berhenti di meja panitia. Ia akan dibawa ke AI National Summit di Jakarta pada Juni 2026 sebagai masukan resmi perumusan kebijakan AI nasional. Inilah keistimewaan yang membuat acara ini berbeda dari forum manapun. Bukan sekadar tempat berdiskusi, melainkan mesin produksi kebijakan yang menyambungkan suara daerah dengan agenda nasional.
Program GARUDA AI sendiri sudah mencatatkan capaian yang sulit diabaikan. Sejak Oktober 2025, lebih dari 100.000 ASN dari 30 provinsi dan 100 instansi pemerintah telah dilatih. Lebih dari 800 ide inovasi lahir dari hackathon nasional. Target akhirnya adalah 145.000 ASN dan 5.000 AI Policy Makers tersertifikasi.
Dr. Hassan Wirajuda, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, menyoroti satu fakta yang tak nyaman: Indonesia masih tertinggal dalam adopsi AI dibandingkan negara ASEAN lain. Maka summit ini bukan sekadar acara. Ia adalah sinyal bahwa daerah tidak lagi menunggu instruksi dari pusat. Banten telah melompat lebih dulu.
Setelah Banten, rangkaian summit akan berlanjut ke empat kota besar lainnya. Semuanya akan bermuara di Jakarta dengan satu visi besar: menjadikan Indonesia sebagai pusat talenta digital di ASEAN. Di ruang auditorium itu, para ASN tak lagi sekadar mencatat. Mereka menulis draf masa depan. Dan dari Banten, suara itu mulai bergema ke panggung nasional. |WAW-DEOJ