Saat Microsoft Gelar Pelatihan AI di Pesantren, Sorotan Justru Tertuju pada Satu Guru Tua
Hasan Basri Presentasi Penggunaan Microsoft Copilot
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang kelas Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Hasan Basri duduk tenang di hadapan para santrinya. Siang itu, seperti biasa, satu per satu santri maju menyetorkan hafalan Alquran. Hasan menyimak setiap pelafalan, mengoreksi tajwid yang keliru, memastikan tidak ada huruf yang meleset dari makhrajnya.
Proses ini, selama bertahun-tahun, selalu memakan waktu. Dalam satu sesi, bisa puluhan santri bergiliran. Hasan harus teliti, sebab kesalahan sekecil apa pun dalam bacaan Alquran bisa mengubah makna. Ia sadar, mengajar di pesantren bukan sekadar menyampaikan ilmu, tapi menjaga otentisitas.
Namun, belakangan ini, sesuatu berubah di kelas itu.
Hasan mulai membuka laptopnya. Bukan untuk meninggalkan cara lama, tapi untuk memperkuatnya. Ia menggunakan Reading Progress di Microsoft Teams Learning Accelerators, sebuah fitur yang membantunya menganalisis pelafalan santri secara lebih terukur. Teknologi memberinya data tambahan tentang ketepatan tajwid, struktur bacaan, hingga tanda baca. Bukan menggantikan perannya sebagai guru, tapi memperkuat penilaiannya.
Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Hasan, yang sejak 2016 mengajar Bahasa Arab dan Teknologi Informasi di pesantren, sebenarnya sudah lama akrab dengan teknologi. Ia pernah menggunakan animasi pembelajaran sejak 2018. Tapi soal kecerdasan buatan, ia masih ragu. Apakah AI cocok masuk ke pesantren? Apakah tak akan menggeser nilai-nilai tradisi?
Keraguan itu mulai luntur setelah ia mengikuti AI Teaching Power, program pelatihan kolaborasi Microsoft Elevate dan NUCare Global by LAZISNU. Program ini dirancang khusus bagi pendidik di lingkungan Kementerian Agama, termasuk pesantren. Bukan sekadar pelatihan teknis, tapi juga menekankan nilai Spiritual Intelligence: tujuan, empati, dan kerendahan hati dalam menggunakan teknologi.
Di sinilah letak keunikan acara tersebut. Biasanya, pelatihan AI identik dengan ruang-ruang korporat modern, peserta berdasi, dan bahasan seputar efisiensi bisnis. Tapi di sini, pesertanya justru para guru ngaji, kiai, dan pendidik pesantren. Mereka datang dengan sorban, peci, dan kitab kuning. Mereka belajar membuat agent AI, mendesain pembelajaran abad ke-21, tapi tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren.
Inilah inovasi yang ditawarkan. Bukan sekadar transfer teknologi, tapi integrasi nilai. Pelatihan itu tak hanya mengajarkan cara menggunakan Microsoft Copilot untuk menyusun materi, tapi juga bagaimana menjadikannya alat untuk memperkuat pembinaan akhlak.
Hasan merasakan langsung dampaknya. Dulu, ia kewalahan dengan pekerjaan administratif: menyusun silabus, membuat materi, mengoreksi tugas. Waktu habis untuk dokumen. Kini, dengan bantuan Copilot, pekerjaan itu bisa diselesaikan lebih cepat. Waktu luangnya bertambah. Dan waktu itulah ia gunakan untuk lebih dekat dengan para santri, membina akhlak, mendengarkan persoalan mereka.
“Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pembinaan akhlak para santri,” ujarnya.
Bagi para event organizer di balik acara ini, tantangan besarnya adalah bagaimana membuat teknologi terasa manusiawi. Mereka tidak ingin AI menjadi momok yang menakutkan atau sekadar gimik. Maka pendekatan yang dilakukan adalah dengan menyentuh sisi keseharian guru. Bukan membahas algoritma dan kode program, tapi bagaimana AI bisa membantu menilai bacaan Alquran, membantu santri berlatih percakapan Bahasa Arab lewat AI Conversation Practice, dan memudahkan guru memantau perkembangan murid dari jarak jauh.
Kehebohan justru muncul dari hal-hal kecil. Saat para guru pesantren itu pertama kali melihat bagaimana Microsoft Teams bisa mendeteksi kesalahan tajwid secara otomatis, mereka tercengang. Ada yang bertanya, apakah ini bisa menggantikan peran guru? Tapi kemudian mereka paham, ini hanya alat bantu. Seperti halnya kacamata yang membantu melihat lebih jelas, AI membantu menilai lebih teliti.
Kunci sukses acara ini, menurut saya, bukan pada teknologinya, melainkan pada pendekatannya yang tidak memaksakan. Microsoft dan NU Care Global paham bahwa pesantren punya budaya dan tradisi yang kuat. Mereka tidak datang dengan jargon disruptif, tapi dengan semangat kolaborasi. Mereka mendengar dulu apa yang dibutuhkan guru, baru menawarkan solusi.
Hasilnya, transformasi digital yang terjadi di kelas Hasan tak terasa seperti revolusi. Ia berlangsung organik, perlahan, dan menyentuh akar rumput. Santri kini bisa berlatih membaca Alquran kapan saja, bahkan saat guru berada di luar kota. Latihan percakapan Bahasa Arab bisa dilakukan mandiri lewat simulasi AI. Tapi saat berbicara soal makna, tafsir, dan nilai, guru tetap menjadi rujukan utama.
Menjelang Ramadan, ketika tradisi pesantren meningkatkan intensitas pengajian, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Santri bisa berlatih mandiri di luar jam kelas, sementara guru tetap memantau perkembangan mereka. Jika ada yang perlu dikoreksi secara mendalam, mereka bisa bertemu langsung atau melalui pertemuan daring.
Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, mengatakan, “AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan setara. Ketika pendidik dibekali keterampilan dan pemahaman yang tepat, mereka dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan berdampak bagi generasi masa depan.”
Pada akhirnya, yang terjadi di Pondok Pesantren Cipasung bukanlah cerita tentang kecanggihan teknologi. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah pelatihan yang dirancang dengan hati bisa mengubah cara pandang. Ini tentang guru tua yang tak lagi takut pada mesin, karena ia sadar, mesin tak akan pernah bisa menggantikan perannya sebagai pendidik akhlak.
Dan di balik semua ini, ada tim event organizer yang bekerja diam-diam, merancang pelatihan yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menenangkan. Mereka membuktikan bahwa even yang baik bukan sekadar yang ramai dan heboh, tapi yang meninggalkan jejak perubahan, sekecil apa pun, di hati para pesertanya. |WAW-DEOJ