Bagaimana Aice Ciptakan Panggung Baru untuk Es Krim
Ribuan Orang Hadir di Acara Korean Krispy Pop Noraebang | ist
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di tengah riuhnya konser virtual dan hiruk pikuk media sosial, sebuah fenomena terjadi pada pertengahan Juni lalu. Bukan sekadar peluncuran produk baru, tetapi sebuah perayaan sensasi yang berhasil menyedot perhatian lebih dari 2,3 juta pasang mata dalam satu waktu. Angka itu bukanlah rekor penonton konser musik, melainkan jumlah penonton yang membanjiri siaran langsung peluncuran es krim terbaru dari Aice, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi sebuah perubahan fundamental dalam cara industri makanan dan minuman berinteraksi dengan konsumennya.
Perubahan perilaku konsumsi, terutama di kalangan Gen Z, telah menjadi katalis utama. Makanan tidak lagi semata-mata soal rasa, melainkan sebuah pengalaman multisensori yang utuh. Aice, dengan pangsa pasar sebagai merek es krim nomor satu di Indonesia versi Euromonitor untuk tahun 2023 dan 2024, menangkap gelombang ini dengan presisi. Mereka meluncurkan Aice Crispy Balls Shine Muscat, sebuah produk yang lahir dari observasi tajam terhadap popularitas budaya Korea yang terus melambung.
“Ini bukan sekadar es krim baru. Ini adalah jawaban atas keinginan generasi muda akan produk yang interaktif dan berkesan,” ujar Sylvana Zhong, Senior Brand Manager Aice Group, dalam siaran pers yang diterima redaksi.
Produk ini adalah sebuah arsitektur tekstur yang kompleks. Di dalam satu stik es krim, terdapat perpaduan empat sensasi yang dirancang untuk memberikan kejutan di setiap gigitan. Ada crispy balls yang renyah, popping candy yang meledak-ledak di mulut, es krim rasa Shine Muscat yang creamy dan segar dengan sentuhan aroma melati, serta nata de coco yang kenyal. Konsep ini, yang terinspirasi dari tren Korean Krispy Pop, bertujuan menciptakan momen “Jinjja Massiseo!”, atau “Sangat Enak!”, yang menjadi representasi kepuasan total.
Peluncuran produk ini menjadi sebuah studi kasus yang menarik tentang bagaimana membangun hype di era digital. Aice tidak hanya mengandalkan siaran pers atau iklan televisi. Mereka menciptakan sebuah ekosistem acara yang terintegrasi, dimulai dari panggung digital. Acara Korean Krispy Pop Livestream pada 13 Juni lalu bukanlah sekadar sesi promosi. Dengan menghadirkan pembawa acara Ummi Quary dan Kenzy Taulany, serta penampilan spesial dari StarBe, acara tersebut dikemas sebagai sebuah pertunjukan hiburan. Nuansa Korea diperkuat dengan penampilan host yang mengenakan Hanbok, sementara interaksi dengan penonton melalui berbagai permainan dan pembagian hadiah total puluhan juta rupiah berhasil menciptakan rasa kebersamaan yang inklusif.
Angka 2,3 juta penonton adalah bukti nyata dari keberhasilan strategi ini. Ini menunjukkan bahwa konsumen saat ini tidak hanya ingin diberi tahu tentang produk baru, tetapi juga diajak untuk merasakan dan menjadi bagian dari sebuah perayaan. Mereka menjadi saksi dan peserta dari sebuah momentum, yang kemudian memperkuat ikatan emosional dengan merek.
Keseruan tidak berhenti di layar. Untuk memberikan pengalaman langsung yang tak terlupakan, Aice menggelar acara Noraebang di Taman Elektrik, Tangerang. Acara offline ini menjadi jembatan bagi konsumen untuk merasakan langsung sensasi “Crispy POP” yang selama ini hanya dilihat melalui siaran digital. Ribuan pengunjung hadir, mencoba produk dan merasakan atmosfer pesta yang dirancang langsung oleh tim kreator.
Di balik gemerlap acara, terdapat strategi jangka panjang yang cerdas. Rangkaian peluncuran Aice Crispy Balls Shine Muscat ini menjadi pintu pembuka bagi program unggulan mereka selanjutnya. Aice Got You! Panggung Crispymu! Season 2, sebuah panggung bagi bakat dari berbagai generasi dan latar belakang di Indonesia, akan kembali hadir. Konsepnya adalah memberikan ruang inklusif bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri, sebuah semangat yang sejalan dengan karakter produk baru Aice: berani tampil berbeda dan penuh kejutan.
Lebih dari sekadar strategi pemasaran, rangkaian acara ini adalah sebuah narasi tentang bagaimana merek dapat menjadi bagian dari gaya hidup konsumen. Aice tidak hanya menjual es krim, tetapi juga menjual momen, cerita, dan partisipasi. Mereka telah membuktikan bahwa inovasi tidak hanya tentang bahan baku atau rasa baru. Inovasi juga tentang cara berbicara dengan pasar, menciptakan ruang untuk berbagi, dan pada akhirnya, menjadi bagian dari kebahagiaan sehari-hari konsumen.
Langkah ini tentu akan menjadi catatan penting bagi para pelaku industri event organizer dan stakeholder di dalamnya. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sebuah peluncuran produk kini adalah sebuah produksi besar yang membutuhkan perencanaan matang, eksekusi kreatif yang lintas kanal, dan pemahaman mendalam tentang psikologi konsumen modern. Ini bukan lagi soal menyampaikan pesan, tetapi menciptakan sebuah gerakan budaya. |WAW-DEOJ