Dari Layar ke Lantai Mal: Bagaimana Data & “Retailtainment” Ubah Squid Game Jadi Mesin Uang di Jakarta
Pink Guards at Agora Mall, Jakarta (Horizontal)
DUNIAEOJAKARTA.COM — Sorak sorak dan teriakan mencekam dari “Squid Game” kini tak lagi terbatas pada layar kaca. Sebuah gelombang baru tengah menyiapkan pendaratan di jantung ibu kota, mengubah mal mewah menjadi arena permainan hidup-hidupan. Ini bukan sekadar tentang menghadirkan acara; ini tentang bagaimana sebuah ide diubah menjadi “retailtainment” yang siap mengguncang Asia Tenggara.
Di balik hingar bingar pembukaan 16 Oktober 2026 di Agora Mall, Thamrin Nine, sebuah orkestrasi strategis tengah dimainkan. SideQuest Worlds , sang operator lokal yang merupakan bentukan dari raksasa media 8Infini, Adhya Group, dan StickEarn , tidak hanya mengandalkan popularitas serial Netflix. Mereka menunjuk Alpha Story Indonesia sebagai nahkoda komunikasi, memastikan bahwa gema pesta ini terdengar hingga ke Singapura dan Malaysia.
“Ini adalah tentang memberi audiens Indonesia cara baru untuk terlibat dengan cerita global yang mereka kenal,” ujar Rea Qinthara, Marketing & Commercial Lead SideQuest Worlds. Angkanya fantastis. 1.900 meter persegi arena interaktif, enam ruang bertema, dan kapasitas untuk mengantarkan pengunjung pada pengalaman 75 menit yang imersif. Namun, sebagai seorang event organizer, yang paling menarik adalah bagaimana mereka mengemas “ketegangan” menjadi sebuah produk komersial yang rapi.
Inovasi ide kreatif di sini bukan hanya terletak pada replikasi set drama, melainkan pada strategi positioning. Mereka tidak menggelar pameran, melainkan pengalaman kompetisi. Ini adalah langkah cerdas untuk menjawab tren “retailtainment” yang diidentifikasi CBRE, dimana pusat perbelanjaan berevolusi dari tempat transaksi menjadi destinasi pengalaman.
Keunikan yang ditawarkan adalah kemasan lokal dari produk global. Kingsmen Xperience, sang desainer, memastikan set dan elemen interaktif akurat secara sinematik, namun SideQuest Worlds yang membawanya ke konteks lokal. Ini adalah kolaborasi antara presisi global dan pemahaman pasar lokal. Kuncinya adalah bagaimana mereka memanfaatkan data.
Alpha Story tidak datang dengan pola PR lama. Mereka membawa Alpha Echo, sebuah platform kecerdasan buatan yang bertindak sebagai radar. Alat ini memonitor percakapan media dan sosial 24 jam untuk mendeteksi perubahan sentimen dan mengidentifikasi peluang yang “tidak segera terlihat”. Bagi pelaku industri EO, ini adalah terobosan. Kunci sukses yang diusung adalah perpaduan antara skala global dan ketajaman analitik lokal.
“Sebuah IP hiburan global membutuhkan cerita lokal yang dapat dipahami dan dihubungkan oleh masyarakat,” jelas Leighton Cosseboom, Country Lead Alpha Story Indonesia. “Kami menerjemahkan skala dan kegembiraan Squid Game ke dalam strategi yang selaras dengan audiens lokal”.
Dengan harga tiket mulai Rp 299.000 hingga paket VIP, acara ini telah menargetkan pangsa pasar yang jelas: pencari sensasi dan penggemar setia . Lebih dari itu, ini adalah studi kasus tentang bagaimana event organizer modern memenangkan pertarungan, bukan hanya dengan tiket yang terjual, tetapi dengan narasi yang terukur. |WAW-DEOJ