Beyond the Runway, Beyond the Likes: Ketika Slay Menjadi Sebuah Gerakan
Tuesday, 14 October 2025
Beyond the Runway, Beyond the Likes: Ketika Slay Menjadi Sebuah Gerakan
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang workshop di Jakarta, puluhan perempuan berdiri tidak sekadar untuk berpose. Mereka hadir untuk membongkar mitos. Mitos bahwa percaya diri adalah warisan genetik, bahwa tubuh harus kurus untuk disebut menarik, bahwa slay hanya milik mereka yang berani tampil sempurna di layar.
Di situlah Femmy Fyber menancapkan benderanya. Bukan dengan jargon kosong, melainkan dengan sebuah gerakan bertajuk Ready, Set, Slay. Sebuah kompetisi yang berhasil menarik lebih dari 800 perempuan dari seantero Indonesia untuk unjuk gigi di TikTok dan Instagram Reels. Mereka tidak hanya menampilkan gaya runway yang berani dan ekspresif, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah narasi yang lebih besar.

Narasi bahwa slay bukan tentang ukuran baju.
“Kami ingin perempuan memaknai cantik bukan cuma dari satu bentuk tubuh, tapi dari keberagaman dan tubuh yang sehat,” jelas Fanny Kurniati, President Director PT. Bintang Toedjoe, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.
Baginya, slay adalah sebuah akronim. Sebuah filosofi. Self-love, Learning, Attitude, dan You must be confident. Empat pilar yang menjadi napas setiap tahapan kompetisi ini.
Dari ratusan karya yang penuh energi dan keotentikan, terpilih lima nama yang dianggap paling berhasil mengejawantahkan filosofi tersebut. Mereka adalah Rahma Tyas Ayu Fairuztika dari Jakarta, Dheviana Benawar dari Depok, Grace Bersyeba Martha Haba dari Tangerang, Oessella dari Jakarta, dan Angie Levina Wijaya dari Surabaya. Sebuah apresiasi atas keberanian dan kreativitas mereka bukan datang dalam bentuk piala semata, melainkan sebuah perjalanan ke Jepang pada November mendatang.
Namun, perjalanan mereka bukanlah tentang menjadi pemenang. Melainkan tentang proses menjadi.
Ajang ini dengan sengaja merangkul komunitas Menjadi Manusia untuk menyelenggarakan workshop pengembangan diri. Di sanalah para semifinalis belajar merajut kembali konsep kecantikan mereka. Mereka menggabungkan fashion, beauty, dan self-confidence training, mengubah arena kompetisi menjadi ruang aman untuk saling menyemangati dan bertumbuh.
Karina Nadila, Putri Indonesia Pariwisata 2017 yang hadir sebagai juri dan pemateri, menyoroti hal ini. “Berani tampil sesuai identitas diri di media sosial itu bukan hal mudah,” ujarnya. “Tapi Ready, Set, Slay memberi ruang aman bagi perempuan untuk saling mendukung.”
Gerakan ini adalah bagian dari kampanye besar Every Body Slay. Sebuah perlawanan terhadap standar kecantikan sempit yang sering memicu diet ekstrem dan kegelisahan tak berujung. Kampanye ini menegaskan, setiap tubuh itu unik, dan keindahan justru terletak pada perbedaan itu. Cantik dan percaya diri bukan lagi soal bentuk, melainkan tentang kesehatan dan keseimbangan.
Dan kesehatan, menurut Femmy Fyber, dimulai dari dalam. Dari pencernaan yang terjaga. Di tengah kesibukan dan pola makan serba instan, asupan serat sering terabaikan. Femmy Fyber hadir sebagai suplemen minuman serat rendah kalori, mengandung psyllium husk, ekstrak buah dan sayur, serta stevia, untuk membantu menjaga tubuh tetap kuat dan segar dari dalam.

“Melalui Ready, Set, Slay, kami ingin menginspirasi perempuan Indonesia untuk terus berdaya, kreatif, dan percaya diri menampilkan versi terbaik dirinya,” tambah Fanny. “Karena pesona sejati dimulai dari dalam.”
Pada akhirnya, Ready, Set, Slay lebih dari sekadar kampanye pemasaran. Ia adalah seruan. Sebuah panggilan bagi setiap perempuan untuk berhenti membandingkan diri dan mulai merayakan keberadaannya. Seperti simpul Fanny, setiap tubuh berhak untuk slay, dengan caranya sendiri-sendiri.
Lima perempuan itu akan berangkat ke Jepang, membawa bukan hanya koper, tapi sebuah keyakinan baru. Bahwa di atas semua filter dan like, percaya diri yang paling abadi adalah yang lahir dari tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, dan hati yang telah menemukan nilainya sendiri. |WAW-DEJ
