ISF 2025, Dari Panggung Gagasan Menuju Aksi Nyata Investasi Hijau
Tuesday, 14 October 2025
ISF 2025, Dari Panggung Gagasan Menuju Aksi Nyata Investasi Hijau

DUNIAEOJAKARTA – Pertengahan Oktober 2025 kemarin suasana di Jakarta International Convention Center (JICC) bukan sekadar hiruk-pikuk acara biasa. Di sini, di bawah tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World”, denyut nadi masa depan Indonesia berdetak lebih kencang. Lebih dari 12.500 peserta dari 61 negara memadati ruang-ruang diskusi. Mereka hadir bukan hanya untuk mendengar, tetapi untuk bergerak.
Forum Internasional tentang Keberlanjutan Indonesia (ISF) 2025 resmi dibuka pada Jumat, 10 Oktober 2025. Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, membuka forum dengan pesan yang tegas. “Keberlanjutan bukan lagi beban, melainkan fondasi utama pertumbuhan jangka panjang Indonesia,” ujarnya. Di sisinya, Rosan P. Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi, dan Anindya Novyan Bakrie dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menyaksikan sebuah babak baru kolaborasi.
Dua hari berselut, pada Sabtu, 11 Oktober 2025, forum itu ditutup dengan sebuah pernyataan yang tak terbantahkan. Komitmen investasi senilai Rp278,33 triliun, setara dengan USD17,4 miliar, mengeras dalam bentuk tiga belas nota kesepahaman dan tiga Letter of Intent. Angka itu bukan sekadar deretan digit. Ia adalah napas baru bagi ekonomi hijau Indonesia.

“Komitmen ini adalah hasil sinergi lintas sektor,” ucap Nurul Ichwan, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, dalam pidato penutupnya. Ia menegaskan, ini tentang arah baru pembangunan yang lebih hijau, inklusif, dan tangguh. Sebagian besar investasi itu akan diwujudkan dalam proyek energi hijau, pengembangan rantai pasok berkelanjutan, dan inisiatif dekarbonisasi industri.
Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar dan Ketua Pelaksana ISF 2025, menyoroti esensi forum ini. Bagi dia, ISF 2025 adalah bukti komitmen Indonesia di garda depan pembangunan berkelanjutan global. “Ini bukan sekadar wadah berbagi gagasan, tapi ajang memastikan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menghasilkan langkah nyata,” tegasnya.
Antusiasme peserta dari puluhan negara mencerminkan besarnya perhatian dunia terhadap langkah Indonesia. Mereka menyaksikan langsung bagaimana diskusi tingkat tinggi menjelma menjadi aksi.
Salah satu proyek yang menyita perhatian adalah Waste to Energy yang akan diluncurkan di 33 kota. Proyek ambisius ini telah menarik minat 192 perusahaan global. Sebuah sinyal bahwa Indonesia tak kekurangan peminat ketika berbicara tentang energi terbarukan.

Rosan, dalam sesi pembuka, telah mengungkap potensi besar yang masih terpendam. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hampir 3.700 gigawatt. Dari tenaga surya yang mendominasi 3.294 GW, angin 155 GW, air 95 GW, hingga panas bumi 23 GW. Namun, pemanfaatannya masih di bawah satu persen. “Ini peluang investasi yang sangat menarik,” serunya.
Dunia usaha pun tak tinggal diam. Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Umum Kadin, menegaskan bahwa sektor swasta adalah motor transformasi hijau. “Investasi hijau memperkuat pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memberdayakan UMKM,” katanya.
Anindya Novyan Bakrie, yang akrab disapa Anin, telah mengingatkan di hari pertama. Untuk mencapai Net Zero, Indonesia membutuhkan investasi senilai 3,8 triliun dolar AS. “Ini bukan sekadar visi, tapi peta jalan nyata,” ujarnya. Empat hal penting harus dilakukan swasta. Berinovasi, menggerakkan pembiayaan hijau, memanfaatkan pasar karbon, dan membangun talenta masa depan.
Di balik kesibukan panel discussion dan high-level dialogues, Science Corner yang diisi universitas ternama seperti UI, ITB, IPB, ITS, dan UGM, menampilkan inovasi anak bangsa. Sesi High-Level CEO Dialogue yang difasilitasi World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) dihadiri lebih dari 30 CEO global.
Di balik layar, forum ini disokong oleh kekuatan kolaborasi nyata. Sinarmas, Pertamina, Astra International, Standard Chartered Bank, hingga DBS Bank dan Siemens Energy hanyalah sebagian dari nama-nama besar yang menjadi mitra strategis. Dukungan media dari ANTARA, RRI, TVRI, hingga Liputan6 dan The Jakarta Post memastikan gaung ISF 2025 terdengar hingga ke sudut-sudut dunia. Tak kurang dari 187 jurnalis meliput perhelatan bersejarah ini.
ISF 2025 mungkin telah berakhir. Namun, gaungnya baru saja dimulai. Komitmen yang ditandatangani, jaringan yang terbentuk, dan percakapan yang terajut, semua mengarah pada satu hal. Indonesia tidak hanya bicara tentang keberlanjutan. Indonesia sedang membangunnya, satu proyek, satu investasi, dan satu kolaborasi pada satu waktu. Dalam dua hari yang padat, Indonesia tak sekadar menjadi tuan rumah forum. Ia menegaskan diri sebagai pusat gravitasi baru untuk kolaborasi, inovasi, dan investasi berkelanjutan di kawasan. Langkah nyata menuju masa depan yang tangguh, berkelanjutan, dan sejahtera telah diayunkan. Kini, waktunya menjalankan. |WAW-DEJ
