Event dengan Impact Tinggi, Budget Terukur

 Event dengan Impact Tinggi, Budget Terukur

Panel diskusi bertajuk “Dari Pengalaman ke Data: Pengalaman Perempuan dalam Aksi Iklim” tentang pengalaman komunitas di Nusa Tenggara Barat & Nusa Tenggara Timur, serta diskusi baseline data gender dalam perubahan iklim dari Aceh Climate Change Initiative (ACCI) di Jakarta, 4 Februari 2026. Photo: UN Women/Putra Djohan

Case Study EO: Strategi Membangun Forum Nasional yang Hubungkan Suara Perempuan Desa ke Meja Kebijakan Jakarta

DUNIAEOJAKARTA.COM – Kisah itu datang dari sebuah desa di Nusa Tenggara Timur. Di sana, saat mata air mulai menyurut, sekelompok perempuan bergerak. Mereka menanam pangan lokal, mengkonservasi sumber air, dan menghijaukan lereng dengan pohon endemik. Tangan-tangan mereka yang setiap hari mengurus keluarga, ternyata juga sedang menahan tanah longsor, mengembalikan debit mata air, dan menulis ulang narasi tentang siapa sebenarnya aktor utama pertahanan iklim.

“Kami bekerja berkelompok, berusaha menanam sayur, pangan lokal, dan melakukan konservasi mata air,” tutur Imakulata F. Jedia dari Kelompok Tani Mandiri NTT. “Di saat kami melihat debit air berkurang, kami menanam beragam jenis pohon lokal, supaya debit air bertambah.”

Kisah Imakulata dan rekan-rekannya di NTT, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh bukan lagi cerita heroik di pojok desa. Pada 4 Februari 2026 di Jakarta, suara mereka menjadi poros utama sebuah forum nasional bertajuk “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak. Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim.” Forum yang diselenggarakan UN Women dan Women’s Research Institute (WRI) ini bukan sekadar diskusi panel biasa. Ini adalah ruang temu strategis di mana pengetahuan dari lapangan berbenturan dan bersinergi dengan kebijakan di tingkat nasional.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 2025 terjadi 3.233 kejadian bencana di Indonesia. Banjir mendominasi dengan 1.652 kejadian, disusul cuaca ekstrem 714 kali. Dampaknya tidak netral gender. Data UN Women dan UN DESA memproyeksikan, dalam skenario terburuk, perubahan iklim dapat mendorong 158,3 juta perempuan dan anak perempuan di dunia ke dalam kemiskinan ekstrem. Mereka yang paling merasakan derita ketika air bersih menghilang dan sumber pangan menipis.

Namun forum ini memilih angle yang berbeda. Bukan tentang perempuan sebagai korban, melainkan sebagai solusi. “Perempuan bukan hanya kelompok yang paling terdampak. Perempuan adalah aktor kunci perubahan,” tegas Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia. “Jika kita ingin solusi iklim yang transformatif, perempuan harus diberdayakan sebagai pemimpin komunitas, pengelola pengetahuan, dan berada di meja pengambilan keputusan.”

Pesan itu bergema kuat dalam pembukaan forum oleh Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan perempuan, tidak hanya dalam menyusun kebijakan, tetapi juga dalam memastikan implementasinya di lapangan. Komitmen pemerintah, menurutnya, telah dituangkan dalam kebijakan seperti Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI).

Keunikan forum ini terletak pada desainnya yang membalik logika piramida. Bukan narasi makro yang turun ke bawah, melainkan praktik baik dari tapak yang diangkat ke meja strategis nasional. Inovasi ide kreatifnya ada pada pendekatan storytelling berbasis data. Panel diskusi bertajuk “Dari Pengalaman ke Data” menjadi ruang di mana testimoni penjaga mata air dari NTT bertemu dengan baseline data gender perubahan iklim yang dihimpun Aceh Climate Change Initiative (ACCI). Cerita menjadi bukti, dan bukti memperkaya cerita.

Kunci sukses acara ini terletak pada ekosistem kolaborasi yang dibangun. Forum merupakan bagian dari proyek regional “EmPower. Women for Climate-Resilient Societies” yang didukung Pemerintah Jerman, Selandia Baru, Swedia, dan Swiss. Di Indonesia, UN Women bermitra dengan konsorsium WRI yang melibatkan Gema Alam, Yayasan Komodo Indonesia Lestari, dan ACCI. Kolaborasi multipihak ini yang menurut Sita Aripurnami, Direktur Eksekutif WRI, adalah kunci menjawab tantangan skalabilitas. “Krisis iklim tidak dapat diselesaikan oleh 1 organisasi atau 1 sektor,” ujarnya.

Acara ini pun tidak berakhir dengan deklarasi semata, melainkan dengan penyusunan agenda bersama untuk tindak lanjut kolaborasi. Ini adalah langkah konkret menuju transisi energi dan keadilan iklim yang tidak meninggalkan separuh populasi negeri.

Di balik kesan seremonial sebuah forum nasional, jantung acara ini berdenyut pada sebuah realisasi. Bahwa di tengah krisis iklim yang mencekam, solusi paling tangguh justru tumbuh dari kebun-kebun kecil di NTT, dari hutan-hutan komunitas di Aceh, dan dari kepemimpinan perempuan-perempuan yang setiap hari memilih untuk menanam, merawat, dan memperjuangkan kehidupan. Forum ini hanyalah penguatan suara. Sementara aksinya, sudah lama bergulir di tangan mereka. |WAW-DEOJ

Related post