“Event” Nasional di Tangan Kemenag dan British Council: Guru Madrasah dan Jembatan ke Dunia

 “Event” Nasional di Tangan Kemenag dan British Council: Guru Madrasah dan Jembatan ke Dunia

(ki-ka) Prof. Dr. H. Suyitno, M. Ag (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI), Seema Malhotra MP (UK Minister) Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. (Menteri Agama RI), Summer Xia (Country Director Indonesia and Director Southeast Asia, British Council), Dominic Jermey CVO, OBE (Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste) menyadari peran strategis guru madrasah dapat menjadi penjaga nilai sekaligus jembatan dialog antarperadaban di tengah dunia yang terus berubah.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang kelas di Jombang, Ni’matus Zahroh berdiri di hadapan murid-muridnya. Ia tersenyum, lalu mengajak mereka bermain peran dalam bahasa Inggris. Beberapa siswa tampak malu-malu, yang lain tertawa kecil. Tapi perlahan, suara-suara lirih itu mulai terdengar jelas. Mereka bercakap dalam bahasa yang selama ini terasa asing, sejauh pelajaran dari kitab kuning dan kajian sore di surau.

Momen kecil ini adalah sebuah revolusi diam-diam. Ni’matus adalah guru MTsN 15 Jombang, salah satu dari 613 guru madrasah yang baru saja menyelesaikan program pengembangan keprofesian berkelanjutan atau Continuing Professional Development (CPD) yang digelar Kementerian Agama RI bersama British Council. Selama delapan pekan, mereka mengikuti pelatihan daring terstruktur, didampingi e-moderator, menghadiri sesi langsung mingguan, hingga akhirnya bertemu dalam lokakarya tatap muka di Jakarta pada akhir Februari 2026. Program ini adalah buah dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani kedua lembaga pada November 2025, dan menjadi salah satu pilar kerja sama pendidikan dalam Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Keir Starmer Januari lalu .

Yang menarik, program ini tak sekadar mengajarkan tata bahasa atau cara mengucapkan kata dengan benar. Lebih dari itu, ia menyentuh metodologi dan pedagogi. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, penguasaan bahasa Inggris bagi guru madrasah bukan sekadar soal kemampuan linguistik. Ini tentang membuka pintu dunia bagi siswa, tentang memberi mereka keberanian untuk berdialog dengan peradaban lain tanpa kehilangan akar. Bahasa, kata Nasaruddin, tak bisa dilepaskan dari budaya. Memahami Inggris berarti juga memahami kultur di balik bahasa itu .

Ambisi program ini memang besar. Dengan jumlah guru madrasah mencapai 41.833 orang tersebar di seluruh Indonesia, dampaknya bisa sangat luas . Summer Xia, Country Director British Council untuk Indonesia dan Asia Tenggara, menyebut pendekatan berbasis data menjadi fondasi utama. Pemetaan kompetensi dilakukan di awal untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran bahasa Inggris para guru MTs dan MA. Hasilnya, gambaran objektif tentang kebutuhan pengembangan guru mulai terpetakan. Dari sana, program percontohan dirancang, dieksekusi, dan dievaluasi. Tingkat kepuasan peserta nyaris seratus persen, dan delapan puluh persen guru melaporkan peningkatan signifikan dalam kemampuan bahasa Inggris dan pedagogik mereka, terutama dalam berbicara dan menyimak .

Tapi angka-angka itu hanya satu sisi cerita. Sisi lainnya adalah perubahan di ruang kelas. Afid Alfayed, guru MTsN 2 Aceh Timur, mengikuti pelatihan ini di tengah keterbatasan akibat bencana ekologis di Sumatera. Meski begitu, ia mengaku modul yang diberikan begitu kaya dan mudah diaplikasikan. Semua aspek kemampuan bahasa tersaji dalam satu paket utuh. Di kelasnya, ia mulai menerapkan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa. Interaksi jadi lebih hidup, murid-murid lebih percaya diri .

Program ini sejatinya adalah awal. Dari 2.760 guru yang mendaftar, hanya 720 yang lolos seleksi ketat dua tahap, verifikasi dokumen dan tes melalui aplikasi EnglishScore . Mereka yang terpilih lalu mengikuti pelatihan, dan 613 di antaranya berhasil menuntaskannya hingga akhir . Jumlah ini memang masih jauh dari kebutuhan nasional. Tapi sebagai proyek percontohan, ia membuka jalan. Model yang sudah teruji ini bisa direplikasi, diperluas, dan diperkuat. Summer Xia menyebut komitmen bersama untuk membangun sistem yang terukur dan berdampak menjadi kunci agar program ini tak berhenti sebagai proyek sesaat, tapi tumbuh menjadi gerakan berkelanjutan .

Di tangan para guru madrasah, bahasa Inggris bukan lagi momok atau simbol westernisasi. Ia menjadi alat, jembatan, dan kendaraan mobilitas sosial. Seperti dikatakan Ni’matus, program ini menginspirasinya untuk terus belajar demi menghasilkan generasi yang beriman dan berakal . Iman dan akal, nilai lokal dan wawasan global, madrasah dan dunia. Di persimpangan itulah mereka berdiri, menjembatani masa lalu dan masa depan, tanpa perlu kehilangan satu sama lain. |WAW-DEOJ

Related post