Industri Event Organizer, Dukung Toleransi Nol Terhadap Kekerasan
25 companies signed Zero Tolenrace for Gender-Based Violence and Harassment (GBVH) Pledge
DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang pertemuan di Jakarta, lebih dari 20 perusahaan terkemuka dari sektor manufaktur, elektronik, tekstil, alas kaki, hingga kelapa sawit, tidak membahas target kuartal atau strategi pemasaran. Mereka berkumpul untuk menandatangani Ikrar Toleransi Nol terhadap Kekerasan dan Pelecehan Berbasis Gender. Acara bertajuk Leaders’ Gathering ini diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE) pada 11 Desember, bertepatan dengan kampanye global 16 Hari Aksi Melawan Kekerasan Berbasis Gender.
Data ILO menyodorkan fakta pahit lebih dari 70% pekerja di Indonesia pernah mengalami kekerasan atau pelecehan di tempat kerja. Angka itu bukan sekadar statistik, tapi nyawa, harga diri, dan produktivitas yang terkikis. Dalam industri event organizer (EO), di mana kerja tim, tekanan deadline, dan interaksi intens dengan klien adalah menu harian, isu ini seperti bom waktu.
Event Ini Bukan Seminar Biasa, Tapi Pertanda Perubahan Budaya
Apa yang membuat acara ini istimewa? Ini bukan sekadar seremonial. Ikrar yang ditandatangani adalah komitmen konkret untuk menerapkan Konvensi ILO No. 190 tahun 2019, perjanjian internasional pertama yang mengakui hak universal atas dunia kerja bebas kekerasan. Perusahaan peserta berjanji membangun mekanisme pelaporan yang aman, promosi budaya inklusif, dan penyesuaian kebijakan internal.
Myra Hanartani dari Apindo menegaskan, “Komitmen dunia usaha untuk menjadikan pencegahan kekerasan sebagai tata kelola perusahaan adalah kekuatan yang mempercepat perubahan.” Sementara Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, menambahkan bahwa langkah ini melampaui kepatuhan semata, “Ini tentang menciptakan tempat kerja yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.”
Di Mana Posisi Industri Event Organizer?
Industri EO sering dianggap sebagai “panggung hiburan”, tapi di balik layar, dinamika kerjanya rentan konflik. Tenggat waktu yang ketat, hubungan hirarkis yang kaku, dan kondisi lapangan yang tak terprediksi bisa menjadi pemicu ketegangan. Jika 70% pekerja Indonesia mengalami kekerasan atau pelecehan, bisa dipastikan angka serupa mengintai di belakang panggung acara-acara megah.
Keunikan acara ILO-IBCWE ini justru terletak pada pendekatannya yang mengajak bisnis sebagai bagian dari solusi. Dalam sesi diskusi interaktif yang dimoderatori Wita Krisanti dari IBCWE, perwakilan perusahaan berbagi praktik baik. Misalnya, upaya mengintegrasikan kebijakan nol toleransi ke dalam standar operasional. Ini pelajaran berharga bagi EO bahwa keselamatan psikologis tim adalah fondasi keberhasilan event.
Kunci Sukses Acara yang Patut Ditiru EO
Data sebagai Penggerak Aksi, ILO tidak sekadar berangkat dari asumsi. Survei yang menunjukkan 70% korban kekerasan kerja menjadi landasan argumen yang tak terbantahkan. EO perlu mulai mendata konflik internal untuk merancang protokol yang efektif.
Kolaborasi Multi-Pihak, Acara ini menggandeng ILO (lembaga global), IBCWE (koalisi bisnis), Apindo, serta perusahaan dari beragam sektor. Dalam konteks EO, kemitraan dengan asosiasi profesi, psikolog industri, dan lembaga hukum bisa menjadi model pencegahan.
Komitmen Terukur, Ikrar ditandatangani bukan untuk arsip, tapi untuk diimplementasikan. IBCWE, misalnya, telah memfasilitasi 153 rencana aksi kesetaraan gender di perusahaan anggota. EO perlu membuat “pakta etik” tim yang diterapkan dari level crew hingga manajer.
Narasi yang Membumi, Diskusi menampilkan pembicara dari tingkat praktisi, seperti Intan Permata Hati dari Adis Dimension Footwear, yang berbicara tentang integrasi kebijakan di tingkat operasional. Dalam EO, kisah nyata dari stage manager atau logistic coordinator bisa lebih menggugah daripada presentasi teori.
Apa Arti Semua Ini bagi Masa Depan EO?
Industri event berada di persimpangan. Di satu sisi, tekanan untuk menghasilkan acara spektakuler makin tinggi. Di sisi lain, isu keberlanjutan dan etika kerja mulai menjadi pertimbangan klien korporat. Komitmen terhadap lingkungan kerja yang aman bisa menjadi competitive advantage yang tak terduga.
Bayangkan jika EO mulai memasukkan klausul “zero tolerance for harassment” dalam kontrak kerja dengan vendor dan crew. Atau, menyediakan modul pelatihan tentang kesetaraan gender bagi panitia event. Itu bukan hanya mengurangi risiko konflik, tapi juga menarik talenta terbaik yang mencari lingkungan kerja yang sehat.
Seperti kata Simrin Singh dari ILO, ini tentang “menciptakan tempat kerja yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.” Di industri yang dibangun dari kreativitas dan kolaborasi, mustahil ada inovasi tanpa rasa aman.
Ikrar yang ditandatangani di Jakarta hari itu mungkin belum langsung mengubah semua perusahaan. Tapi ia menyulut percikan bahwa bisnis yang bertanggung jawab adalah bisnis yang peduli pada manusia di balik angka-angka. Dan bagi EO, manusia itu adalah nyawa setiap acara. |WAW-DEOJ