Konser Protes VIP, Fandom G-Dragon Serukan Hana Bank Setop Pendanaan Batu bara di Indonesia
DUNIAEOJAKARTA.COM – Pesan itu muncul di antara riuh update konser dan teaser comeback. Bukan tentang tiket atau merchandise, melainkan sebuah ajakan untuk menandatangani petisi. “Hana, Bring K-pop, Not Coal,” begitu bunyi tagar yang mulai menyebar di timeline penggemar K-pop Indonesia, terutama di kalangan FAM dan VIP, fandom milik G-Dragon BigBang. Mereka tidak sedang merencanakan proyek dukungan untuk idolanya, melainkan menyiapkan surat terbuka untuk Hana Bank, perusahaan yang justru baru menunjuk G-Dragon sebagai brand ambassador.
Surat itu resmi dikirim pada 10 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia dan Hari Hak Asasi Hewan Sedunia. Isinya satu tuntutan jelas dari KPOP4PLANET dan para penggemar. Hentikan pendanaan untuk proyek nikel yang digerakkan PLTU batu bara di Pulau Obi, Maluku Utara.


Data yang menjadi dasar gerakan ini berasal dari laporan organisasi lingkungan. Laporan Recourse 2024 mengungkap, PT Korea Exchange Bank (KEB) Hana Bank Indonesia, bersama beberapa bank lain, menyediakan pinjaman total 530 juta dolar AS kepada PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) pada 2022. HJF adalah anak perusahaan Harita Nickel di Pulau Obi. Selain itu, catatan Market Forces menunjukkan sejak 2018, Hana Bank telah mengucurkan pembiayaan 84 juta dolar AS ke Grup Harita.
Ini ironi yang menurut Nurul Sarifah, Juru Kampanye KPOP4PLANET Indonesia, harus diluruskan. “Banyak penggemar senang saat Hana memilih idola kami sebagai brand ambassador, tetapi kami belum melihat kolaborasi positif ini di Indonesia. Sebaliknya, Hana justru membiayai proyek-proyek yang membahayakan komunitas lokal dan lingkungan kami,” ujarnya.
Bahaya yang dimaksud memiliki angka dan wajah. Laporan Keberlanjutan Harita 2024 mencatat emisi perusahaan sebesar 10,87 juta ton setara CO2 per tahun. Market Forces menghitung angka itu setara hampir 1% dari total emisi Indonesia pada 2023. Di lapangan, laporan Climate Rights International 2025 mengungkap dampak operasi nikel terhadap hak masyarakat atas tanah dan proses relokasi yang dipaksakan. Sementara laporan Gecko Project menemukan kandungan logam berat berbahaya dalam ikan tangkapan di perairan sekitar proyek, sebuah risiko kesehatan akut terutama bagi anak-anak.


Di sinilah kampanye ini menemukan keunikan dan kekuatannya. Ini bukan sekadar aksi protes dari LSM lingkungan. Ini adalah gerakan yang digerakkan oleh konsumen muda, melek digital, dan sangat terorganisir. Mereka adalah nasabah potensial dari bank digital Hana Bank, Line Bank, yang menurut data 2024 telah memiliki lebih dari 1,2 juta nasabah.
Strateginya pun memanfaatkan kekuatan fandom dengan cermat. Tujuh basis penggemar resmi telah menandatangani surat terbuka yang dikirim ke kantor pusat Hana Bank di Seoul. Dukungan massa lebih luas digalang melalui aksi daring di Instagram dan X, mengumpulkan lebih dari 161.000 tanda dukungan untuk menandai akun media sosial Hana Bank Korea. Sebuah penggemar dengan akun @istri.jidi menyuarakan konflik batin yang mungkin mewakili banyak orang, “Aku bangga melihat GD menjadi brand ambassador Hana. Tapi aku kecewa saat tahu pembiayaan Hana merugikan masyarakat dan lingkungan Pulau Obi.”
Kampanye ini menunjukkan evolusi dalam industri event dan kampanye publik. Kunci suksesnya terletak pada penyatuan tiga elemen yang jarang bersatu, data riset yang solid dari lembaga keuangan dan lingkungan, narasi hak asasi manusia dan ekologi yang kuat, serta mesin mobilisasi massa yang dimiliki oleh komunitas penggemar K-pop yang loyal dan tersambung secara global.
Mereka tidak menggelar konferensi pers dengan podium kaku. Mereka membanjiri timeline dengan fakta-fakta yang telah diverifikasi, menggunakan bahasa dan estetika yang akrab di generasi muda. Mereka mengubah kesetiaan pada seorang idol menjadi tuntutan akuntabilitas pada sebuah korporasi besar.

Pada akhirnya, surat terbuka itu lebih dari sekadar dokumen protes. Ia adalah pertanda pergeseran kekuatan. Bahwa di era sekarang, stakeholder sebuah perusahaan tidak hanya ada di ruang rapat atau dalam laporan tahunan. Mereka juga ada di balik layar ponsel, dengan jutaan suara yang terhubung, yang mampu mengubah dukungan fanatik menjadi tekanan yang terinformasi dan sulit diabaikan. Hana Bank mungkin mendapat brand ambassador yang populer, tetapi mereka juga mendapatkan pengawas yang sama-sama gigih. Para pengawas yang datang dengan playlist lagu K-pop di satu tangan, dan laporan emisi karbon di tangan lainnya. | WAW-DEOJ