Menyalakan Lokal, Menyala Bersama Global: Strategi Event 80 Tahun PBB di Indonesia

 Menyalakan Lokal, Menyala Bersama Global: Strategi Event 80 Tahun PBB di Indonesia

Tuesday, 28 October 2025

Menyalakan Lokal, Menyala Bersama Global: Strategi Event 80 Tahun PBB di Indonesia

DUNIAEOJAKARTA.COM – Cahaya senja mulai memudar di Magelang. Langit kelam di atas Candi Borobudur perlahan-lahan disergap oleh semburat biru yang lembut. Batu-batu vulkanik berusia lebih dari seribu tahun itu, biasanya tampak gagah dalam balutan abu-abu gelap, kini berubah menjadi kanvas bagi cahaya kebiruan. Mereka berpendar, diam-diam namun penuh makna, menyampaikan sebuah pesan harapan yang bergema hingga ke seluruh penjuru dunia.

Pada malam yang sama, di ibu kota, Monumen Nasional (Monas) dan Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta juga berselimutkan cahaya yang sama. Biru, warna resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatukan ketiga ikon Indonesia ini dalam sebuah simfoni visual yang bisu. Mereka adalah bagian dari gerakan global #UNBlue, merayakan 80 tahun Piagam PBB mulai berlaku pada 24 Oktober.

Ini bukan sekadar pertunjukan lampu biasa. Di balik pancaran biru yang instagenik itu, terselip sebuah narasi panjang tentang komitmen dan warisan peradaban.

Yang membuat perayaan tahun ini begitu istimewa adalah partisipasi Candi Borobudur. Situs Warisan Dunia UNESCO ini bukanlah bintang tamu yang sering muncul. Terakhir kali candi Buddha terbesar di dunia ini bersinar biru adalah satu dekade lalu, tepat pada peringatan 70 tahun PBB di tahun 2015. Keikutsertaannya kembali pada usia ke-80 PBB bagaikan sebuah pertemuan kembali dua raksasa sejarah yang sama-sama mewakili ketekunan dan cita-cita umat manusia.

Miklos Gaspar, Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta, menyatakan bahwa partisipasi Indonesia ini lebih dari sekadar simbol. “Dengan ikut menyinari landmark ikoniknya dalam warna biru PBB, Indonesia menunjukkan kebanggaannya terhadap warisan budayanya, sekaligus perannya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian serta persatuan dalam keberagaman,” ujarnya.

Kampanye #UNBlue sendiri, yang pertama kali dicanangkan pada 2015, telah bertransformasi menjadi tradisi tahunan yang menyatukan ratusan landmark dunia. Dari Piramida Giza di Mesir, Menara Eiffel di Paris, hingga Gedung Opera Sydney, semua bersatu dalam warna yang sama. Mereka adalah titik-titik biru di peta dunia, sebuah jejaring visual yang mengingatkan akan pentingnya multilateralisme di tengah riuh rendah geopolitik global.

Kunci sukses dari acara simbolis semacam ini terletak pada kemampuannya mentransformasi konsep diplomatik yang kerap terasa abstrak menjadi sesuatu yang nyata, terjangkau, dan dapat dialami publik. Inovasinya terletak pada pendekatan glocal global dan lokal. Meski merupakan instruksi global, eksekusinya sangat lokal dengan melibatkan simbol-simbol kebanggaan nasional yang paling dalam.

Keunikan acara ini adalah penciptaan momen bersama yang bersifat personal sekaligus kolektif. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka diajak untuk mengunjungi lokasi, mengabadikan momen, dan membagikannya. Borobudur, Monas, dan Bundaran HI bukan lagi sekadar bangunan, melainkan latar belakang bagi foto dan video warga negara biasa yang turut menjadi bagian dari narasi global tentang perdamaian.

Dengan menyulap situs warisan dunia dan monumen nasional menjadi medium pesan, acara ini mencapai tingkat kedalaman yang jarang terlihat. Borobudur, yang dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 oleh Dinasti Syailendra, adalah monumen tentang pencapaian manusia, spiritualitas, dan seni. Hari ini, di bawah cahaya biru, ia bercerita tentang hal yang sama dengan bahasa yang berbeda, sebuah bahasa tentang harapan dan ketahanan untuk 80 tahun ke depan.

Dan di seberang lautan, dari Roma hingga Rio, dari Nairobi hingga New York, ratusan landmark lain melakukan hal yang sama. Mereka semua berpendar dalam biru yang sama, mengingatkan kita bahwa dalam kegelapan malam, masih ada cahaya harapan yang menyala bersama-sama. |WAW-DEJ

Related post