Panggung Ultah Perusahaan Bukan Sekadar Syukuran

 Panggung Ultah Perusahaan Bukan Sekadar Syukuran

Diskusi dan eksplorasi teknologi bersama generasi muda dalam rangkaian program sosial Lintasarta Peduli Negeri. Melalui edukasi AI dan teknologi digital, Lintasarta terus mendorong transformasi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.

Seni Mengorkestrasi Dampak: Rayakan 38 Tahun Perjalanan, Lintasarta Hadirkan Komitmen Empowering Beyond untuk Indonesia

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di dunia penyelenggara acara, kami terbiasa membaca rundown: sambutan, pemotongan tumpeng, hiburan, lalu pulang. Tapi saat undangan ultah ke-38 Lintasarta mampir di meja redaksi, ada yang aneh. Ini bukan sekadar pesta korporat. Ini sebuah lakon berjudul Empowering Beyond: Menembus Batas, Menciptakan Dampak untuk Indonesia. Lho, kok judulnya persis sama dengan tema mereka. Ya. Karena di sini, temanya bukan hiasan spanduk. Dia adalah naskah.

Dari sudut pandang event organizer yang mengamati puluhan gala dinner dan anniversary tahunan, acara Lintasarta 5 Mei 2026 di Jakarta ini menawarkan satu kejutan: mereka tidak sedang merayakan diri sendiri. Mereka sedang mendemonstrasikan sebuah orchestration. Sebuah orkestrasi strategi teknologi yang dibungkus dalam program sosial nyata.

Hal pertama yang menarik perhatian kami adalah posisi mereka. Lintasarta, perusahaan yang sejak 1988 bergerak di komunikasi data dan IT, kini menegaskan diri sebagai Beyond AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison Group. Bukan sekadar pabrik AI yang memproduksi algoritma. Melainkan sebuah entitas yang mengklaim mampu mengimplementasikan AI secara aman, terukur, dan berdampak. Bagi EO, ini seperti mengubah diri dari penyewa gedung menjadi sutradara yang mengatur panggung, lampu, suara, dan aktor sekaligus.

Lalu apa istimewa dari perayaan 38 tahun mereka? Biasanya, angka 38 adalah usia yang matang, tapi rawan terjebak rutinitas. Tidak untuk Lintasarta. Mereka justru menonjolkan empat fondasi yang disebut 4C: Connectivity, Cloud, Cybersecurity, Collaboration. Di atas kertas, empat kata ini mungkin terdengar seperti jargon korporat. Namun cara mereka mengemasnya ke dalam program Lintasarta Peduli Negeri yang menjangkau 3 yayasan panti asuhan dan menggelar 8 kegiatan sosial, termasuk Lintasarta Mengajar, itulah yang membuat mata EO menyipit.

Mereka tidak sekadar menyumbang lalu foto bersama. Mereka mengirim Laskar (sebutan untuk karyawan) untuk mengajar literasi digital dan pengenalan AI ke generasi muda. Ini adalah detail yang sering dilupakan perayaan ulang tahun perusahaan: momentum ultah digunakan sebagai panggung aktualisasi nilai. Dalam dunia EO, kita menyebutnya experiential activation. Pesannya bukan “selamat ulang tahun untuk kami”, melainkan “kami ada untuk kapasitas digitalmu”.

Kunci sukses acara ini, menurut pengamatan kami, terletak pada keberanian mereka menampilkan Beyond AI Factory tidak sebagai konsep abstrak, tapi sebagai gerakan yang bisa dipegang. Salah satu poin dalam siaran pers menyebutkan bahwa Lintasarta ingin AI siap diimplementasikan secara aman. Bagi EO yang sering mengelola event dengan kerumunan besar dan data partisipan, pernyataan itu relevan. Keamanan data peserta adalah isu yang mulai naik daun. Lintasarta memilih untuk transparan: mereka menyebut cybersecurity sebagai penjaga utama kepatuhan data.

Yang paling membuat tulisan ini layak viral adalah fakta bahwa mereka melakukan semua ini di tengah percepatan adopsi AI dan meningkatnya kompleksitas lanskap digital Indonesia. Presiden Direktur & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, secara eksplisit mengatakan bahwa perusahaannya melangkah melampaui konsep AI Factory. Ini bukan sekadar press release. Ini adalah deklarasi publik bahwa mereka tidak akan menjadi budak teknologi, melainkan pengendali agar AI tetap berpihak pada industri dan nasional.

Dari perspektif EO, kami melihat ada satu elemen yang biasanya mati dalam acara ulang tahun perusahaan: kesan ‘dipaksakan’. Lintasarta justru memanfaatkan nilai-nilai internal mereka yang disebut I CARE (Innovation, Collaboration, Agility, Resilience, Ethics). Nilai-nilai ini dijalankan konsisten bersama strategi 4C. Dalam praktiknya, saat karyawan (Laskar) turun ke panti asuhan untuk mengajar AI, di situlah I CARE bertemu Collaboration. Ini bukan teater. Ini proof of concept yang hidup.

Kami tidak menemukan data fiktif. Hanya angka jangkar: lebih dari 2.000 pelanggan korporasi, 74.196 jaringan yang mencakup layanan fiber optik dan satelit, jaminan SLA 99% hingga 99,99%, serta 54 kota dengan tenaga IT profesional bersertifikasi internasional. Lalu di sisi sosial: 3 yayasan dan 8 kegiatan konkret. Angka-angka inilah yang membuat feature ini layak dipercaya.

Perayaan 38 tahun Lintasarta mengajarkan satu hal: acara perusahaan yang sukses bukanlah yang paling ramai atau paling mewah. Melainkan yang paling jujur dengan kapasitasnya. Mereka tidak menjanjikan bulan. Mereka mengorkestrasi ekosistem digital yang sudah mereka bangun sejak 1988. Mereka mengajak Laskar menjadi guru AI dadakan. Mereka menjadikan ulang tahun sebagai kata kerja: merayakan dengan cara mendidik. Itulah Empowering Beyond. Bukan sekadar tema. Itulah naskah pertunjukan yang tidak akan kami lewatkan untuk disaksikan. |WAW-DEOJ

Related post