Pawai Piyama dan Ranjang Beroda di Lapangan Merdeka

 Pawai Piyama dan Ranjang Beroda di Lapangan Merdeka

Ribuan anak muda Kota Medan meramaikan Extrajoss Ultimate Takeover Medan (Dok. Extrajoss Ultimate)

DUNIAEOJAKARTA.COM – Mereka datang sebelum matahari terlalu tinggi. Ribuan anak muda memenuhi Lapangan Merdeka, Sabtu pagi itu, dengan sesuatu yang tak biasa: piyama. Bukan karena mereka baru bangun tidur. Piyama itu sengaja dikenakan sebagai simbol. Mimpi, kata mereka, tak cukup hanya dihela di atas kasur. Mimpi mesti diarak ke jalanan.

Maka berjalanlah ribuan manusia berpiama itu mengelilingi rute sepanjang dua kilometer. Di barisan depan, pesepatu roda meliuk. Para pemain skateboard dan BMX bergantian pamer trik. Komunitas cosplay datang dengan kostum warna-warni. Pawai ini bukan sekadar pawai biasa. Di tengah rombongan, sebuah ranjang beroda ikut melaju. Ada sofabed. Ada karaoke cart. Semua bergerak bersama, menciptakan pemandangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya di pusat Kota Medan.

Lapangan Merdeka, yang biasa sunyi di akhir pekan, tiba-tiba berubah jadi panggung raksasa.

Ketika Energi Tak Lagi Sekadar Kata

Peristiwa 15 Februari 2026 itu bernama Extrajoss Ultimate Takeover Medan. Sebuah acara yang sengaja dirancang bukan di dalam mall atau gedung tertutup, tapi di ruang publik yang sarat sejarah. Lapangan Merdeka dipilih karena ia adalah titik nol kota, tempat berbagai lapisan masyarakat biasa bertemu.

Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing, Media, and Consumer Insight PT Bintang Toedjoe, menyaksikan langsung bagaimana ruang itu hidup. “Medan adalah kota dengan energi yang tidak pernah setengah-setengah,” katanya. “Anak mudanya berani, komunitasnya solid, dari otomotif, musik, sampai olahraga, semuanya saling dukung.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Sepanjang hari, panggung utama menjadi ajang unjuk kebolehan Moluccan Soul, band yang membawa irama khas Timur. Sementara di area lain, atraksi BMX dan skateboard bergantian mengundang decak kagum. DJ on stage kemudian mengambil alih, membuat ribuan orang bergerak dalam satu irama.

Ada Unstoppable Quest, semacam tantangan berhadiah yang membuat peserta antre. Ada bar takeover. Semua elemen ini sengaja dirancang untuk satu tujuan: membuka ruang interaksi seluas-luasnya.

Bukan Sekadar Pesta

Di balik hiruk-pikuk itu, ada narasi yang lebih tenang namun mendasar. Extrajoss Ultimate, minuman energi yang menjadi motor acara ini, sedang memperkenalkan wajah baru. Mereka datang dengan kandungan green coffee sebagai sumber energi alami, kadar gula lebih rendah, dan klaim energi yang lebih smooth.

“Energi yang lebih seimbang dan relevan dengan kebutuhan masa kini,” kata Arwin di hadapan ribuan peserta.

Kalimat itu penting. Sebab di tengah budaya instan yang kerap menawarkan ledakan energi sesaat lalu meninggalkan kelelahan, Extrajoss Ultimate ingin menawarkan alternatif. Energi yang konsisten. Energi yang menemani proses, bukan sekadar memacu adrenalin.

Pawai piyama menjadi simbol yang tepat. Mimpi butuh energi panjang, bukan hanya sekali meledak. Ribuan anak muda yang hadir mungkin tak memikirkan sedalam itu. Tapi mereka merasakannya: bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar acara akhir pekan.

Solidaritas di Atas Aspal

Yang menarik dari Takeover Medan adalah bagaimana komunitas-komunitas lokal mengambil peran sentral. Ini bukan sekadar acara brand yang mendatangkan artis lalu penonton berteriak. Komunitas perkusi datang membawa ritme mereka sendiri. Para pemain skateboard membawa papan dan trik andalan. Komunitas sepatu roda, poundfit, hingga cosplay, semuanya punya panggung.

Mereka tak hanya menjadi penonton. Mereka adalah pemain utama.

Inilah yang membuat acara ini berbeda dari sekadar konser atau festival biasa. Ruang publik yang biasanya terfragmentasi sesuai kepentingan masing-masing kelompok, untuk sehari itu menyatu. Anak BMX yang biasa berkumpul di sudut tertentu, pecinta musik yang biasa nongkrong di kafe, atlet poundfit yang biasa berlatih di studio, semua bertemu di Lapangan Merdeka.

Tidak ada sekat. Tidak ada hierarki.

Mimpi yang Diarak

Sore mulai merambat ketika panggung utama masih bergemuruh. Ribuan orang masih bertahan. Ada yang duduk di aspal, ada yang masih bergerak mengikuti irama. Wajah-wajah basah oleh keringat tapi mata mereka berbinar.

Seorang peserta, mahasiswa dari salah satu universitas di Medan, mengatakan ini pertama kalinya ia ikut pawai keliling kota. “Aneh sih pakai piyama keliling kota. Tapi seru. Rasanya seperti kami semua punya mimpi yang sama, meski nggak saling kenal.”

Itulah mungkin yang dimaksud Arwin ketika menutup sambutannya. “Anak muda selalu punya potensi dan semangat besar. Kami ingin menjadi partner dalam perjalanan mereka, bukan hanya di satu acara, tetapi di keseharian mereka.”

Extrajoss Ultimate Takeover Medan memang hanya berlangsung sehari. Tapi jejaknya mungkin akan lebih panjang. Di tengah kota yang terus berubah, di ruang publik yang kadang kehilangan fungsinya sebagai tempat bertemu, ribuan anak muda datang membuktikan bahwa energi, komunitas, dan mimpi masih bisa dirayakan bersama.

Mereka datang dengan piyama. Mereka membawa ranjang dan sofabed ke jalanan. Mereka menertawakan absurditas itu, tapi juga menghidupkannya.

Di akhir hari, Lapangan Merdeka kembali sunyi. Tapi bagi mereka yang hadir, ruang itu tak lagi sama. Ada gema dari ribuan langkah kaki, dari dentuman musik, dari sorak sorai. Ada energi yang tertinggal di aspal, di udara, di ingatan.

Sebuah pengingat bahwa di kota yang tak pernah setengah-setengah ini, mimpi memang layak diarak. |WAW-DEOJ

Related post