Temuan Riset Sun Life: Bekerja Sampai Tua Itu Pilihan dan Keterpaksaan?

 Temuan Riset Sun Life: Bekerja Sampai Tua Itu Pilihan dan Keterpaksaan?

Riset Sun Life ungkap dua realitas pensiun di Indonesia, dari sandwich generation hingga ketergantungan pada AI untuk perencanaan keuangan.

DUNIAEOJAKARTA.COM – Tirai aula hotel di kawasan Senayan baru saja tertutup. Para undangan yang menghadiri peluncuran riset Sun Life berangsur meninggalkan ruangan, menyisakan panggung megah dengan layar lebar yang masih menampilkan infografis berwarna-warni. Dua jam sebelumnya, ruangan itu penuh dengan perbincangan hangat para eksekutif perusahaan asuransi, perencana keuangan, dan jurnalis.

Namun di luar ruangan ber-AC itu, di halte bus TransJakarta tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya duduk termenung. Tas ransel lusuh ada di pangkuannya. Ia baru pulang shift malam sebagai satpam di sebuah gedung perkantoran. Usianya 63 tahun. Seharusnya ia menikmati masa tua di kampung halaman di Solo. Tapi kenyataan berkata lain. Anak bungsunya masih kuliah semester enam. Biaya hidup di Jakarta tak kunjung turun. Ia tak punya pilihan.

Dua realitas yang sama persis digambarkan dalam riset Sun Life “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” yang dirilis Kamis pekan lalu. Di satu sisi, ada mereka yang memandang masa pensiun sebagai pintu menuju kebebasan. Di sisi lain, pensiun adalah kata lain dari cemas.

Panggung Pensiun Yang Berbeda

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, berdiri di podium. Layar di belakangnya menampilkan dua sosok berbeda: Gold Star Planners dan Stalled Starters. Dua kategori yang ia sebut sebagai “dua realitas pensiun”.

Gold Star Planners adalah mereka yang siap secara finansial. Mereka bisa memilih kapan dan bagaimana mengurangi beban pekerjaan. Bagi mereka, bekerja lebih lama adalah aspirasi, sebuah pilihan untuk tetap merasa berguna. Sebanyak 60 persen dari kelompok ini mengatakan mereka bekerja karena tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan. Hampir setengahnya, 48 persen, menantikan masa pensiun dengan optimisme karena ditopang rasa aman secara finansial.

Stalled Starters sebaliknya. Mereka yang menunda pensiun bukan karena ingin, tapi karena tak bisa berhenti. Sebanyak 20 persen dari kelompok ini merasa tidak pasti atau pesimistis menghadapi masa pensiun. Mereka adalah bayangan pria di halte bus tadi.

Data ESCAP 2023 menunjukkan penduduk Indonesia usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta jiwa atau 11,1 persen dari total populasi. Angka itu diproyeksikan melonjak menjadi 64,9 juta jiwa pada 2050, setara 20,5 persen populasi. Indonesia benar-benar menua. Tapi kesiapan finansial warganya tak ikut menua dengan anggun.

Dari 77 persen responden yang memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun, sebanyak 71 persen mengaku butuh penghasilan tambahan untuk biaya hidup sehari-hari dan keamanan finansial jangka panjang. Hanya sebagian kecil yang bekerja karena alasan sosial, mencari tujuan hidup, atau stimulasi mental. Padahal angka untuk alasan-alasan itu juga cukup tinggi: 48 persen ingin menjaga koneksi sosial, 48 persen mencari tujuan dan pemenuhan diri, dan 36 persen butuh stimulasi mental. Namun tetap saja, kebutuhan ekonomi mendominasi.

Sandwich Generation Yang Terjepit

Satu istilah muncul berulang kali dalam riset ini: sandwich generation. Mereka yang harus menopang orang tua di atas dan anak di bawah. Tekanannya begitu nyata.

Sebanyak 90 persen responden memperkirakan akan terus mendukung anak atau kerabat saat pensiun. Artinya, bahkan ketika sudah tak lagi produktif, beban finansial tak lantas berhenti. Dampaknya langsung terasa pada perencanaan pensiun. Empat puluh persen responden mengaku menurunkan ekspektasi gaya hidup. Dua puluh tiga persen menunda pensiun.

Dari mereka yang telah pensiun, 29 persen mengatakan pengeluaran bulanan melebihi perkiraan awal. Hanya 15 persen yang merasa gaya hidup pensiun mereka sesuai rencana atau lebih baik. Di antara yang merasa gaya hidupnya tak sesuai ekspektasi, 32 persen mengaku tak memperhitungkan inflasi dan kenaikan biaya hidup. Lima puluh persen lainnya melebih-lebihkan lamanya tabungan akan bertahan.

Di kalangan non pensiunan yang gelisah menghadapi masa pensiun, kekhawatiran terbesar adalah tak mampu memberi dukungan finansial kepada keluarga, 44 persen. Ketidakamanan finansial menyusul dengan 37 persen.

AI Jadi Teman Baru Perencana Pensiun

Di tengah kegelisahan itu, cara orang Indonesia mencari informasi tentang perencanaan pensiun berubah drastis. Riset Sun Life mencatat lonjakan penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini. Dari 13 persen pada survei sebelumnya, kini melonjak jadi 30 persen. Lebih dari dua kali lipat.

Di saat yang sama, konsultasi dengan sumber tradisional justru menurun. Responden yang berkonsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen. Yang mendatangi penasihat keuangan independen juga turun dari 44 persen menjadi 31 persen.

Albertus mengingatkan risiko di balik kemudahan ini. “AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi saran yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang,” katanya.

Ruang panggung peluncuran riset itu sendiri menjadi simbol perubahan zaman. Sun Life sengaja menghadirkan sesi interaktif di mana pengunjung bisa mencoba simulasi perencanaan pensiun berbasis AI. Antrean mengular di depan stan itu. Lebih banyak anak muda yang antre dibanding peserta paruh baya.

Gen Z ternyata paling antusias. Sebanyak 40 persen responden Gen Z sangat setuju bahwa pensiun seharusnya menjadi pilihan pribadi, bukan batas usia yang harus dipatuhi. Angka itu lebih tinggi dibanding Baby Boomers yang hanya 35 persen. Generasi muda juga merasa pola pikir adalah faktor terpenting dalam keputusan pensiun, 48 persen untuk Gen Z, sementara Baby Boomers hanya 30 persen.

Kesehatan Adalah Kekayaan

Ada satu temuan yang mungkin tak terduga. Optimisme terhadap pensiun ternyata tak hanya soal uang.

Di antara mereka yang pandangannya tentang pensiun berubah menjadi lebih optimis dalam beberapa tahun terakhir, alasan paling sering disebut adalah kesehatan fisik yang lebih baik dari perkiraan, 58 persen, dan kesehatan mental yang lebih baik, 52 persen.

Sebaliknya, kesehatan yang menurun memaksa orang pensiun lebih awal. Dua puluh dua persen responden menyebut kesehatan buruk sebagai alasan utama pensiun dini.

“Kesehatan adalah bentuk kekayaan yang nyata di masa pensiun,” kata Albertus. “Kesehatan memengaruhi kapan orang pensiun dan bagaimana kualitas hidup mereka di masa itu.”

Temuan ini mengingatkan pada sesi talk show di acara peluncuran riset. Seorang peserta berusia 58 tahun bercerita tentang temannya yang pensiun sehat di usia 60, lalu meninggal dua tahun kemudian karena sakit. “Pensiun itu soal uang dan badan,” katanya disambut anggukan peserta lain.

Pendeknya Jangka Waktu Perencanaan

Ironisnya, meski kekhawatiran tinggi, perencanaan pensiun orang Indonesia tetap berjangka pendek. Dua puluh empat persen responden mengaku tak membuat rencana apa pun sebelum pensiun. Tiga puluh empat persen baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu.

Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka.

Angka-angka itu jadi peringatan. Ketika usia harapan hidup bertambah panjang, masa pensiun juga ikut panjang. Tapi perencanaan yang pendek tak akan mampu menopang masa tua yang panjang.

Di akhir acara, Albertus menyampaikan pesan yang menggantung di benak para hadirin. “Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman. Peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan.”

Pria di halte bus itu mungkin tak mendengar pesan itu. Tapi nasibnya persis seperti yang digambarkan: harus bekerja di usia senja karena tak punya pilihan. Sementara di ruangan ber-AC tadi, para Gold Star Planners merencanakan masa pensiun sambil menyeruput kopi dan mencatat strategi investasi.

Dua realitas. Satu panggung bernama Indonesia. |WAW-DEOJ

Related post