Jadikan Laut sebagai Panggung Utama Diskusi Eksklusif tentang Ekonomi Biru Indonesia

 Jadikan Laut sebagai Panggung Utama Diskusi Eksklusif tentang Ekonomi Biru Indonesia

DUNIAEOJAKARTA.COM – Di sebuah ruang berpemandangan teluk di Jakarta, Samuel Hertz, Kepala APAC EBC Financial Group, tidak sedang membicarakan grafik forex atau fluktuasi komoditas. Tangannya menunjuk ke arah jendela, ke hamparan biru yang membentang di luar.

“Di sanalah panggung ekonomi berikutnya akan berlangsung,” ujarnya, membuka sebuah acara diskusi terbatas yang digelar EBC, Selasa (4/12) lalu. Acara itu bertajuk “Gelombang Baru Ekonomi Biru”, namun lebih dari sekadar presentasi data. Ia adalah sebuah stage setting.

Event organizer yang mengurasi acara ini memahami betul bahwa narasi “ekonomi biru” bisa tenggelam dalam jargon teknis. Maka, mereka membangun panggungnya dengan tiga lapisan konsep yang cerdas. Lapisan pertama adalah the tangible stage, ruang fisik yang didesain minimalis dengan proyeksi visual bawah laut yang dinamis, mengubah dinding menjadi hutan mangrove virtual yang hidup, menciptakan immersive experience sejak tamu memasuki ruangan.

Lapisan kedua, the intellectual stage, dibangun melalui format “roundtable without a table”. Peserta yang terdiri dari perwakilan fund manager, startup bioteknologi, dan pelaku usaha rumput laut duduk melingkar, menghilangkan hierarki dan mendorong percakapan alih-alih presentasi satu arah. Moderator berperan sebagai “narrative conductor”, merajut setiap komentar menjadi sebuah cerita yang koheren.

“Kunci suksesnya adalah tidak menjadikan ini seminar biasa,” kata Alya Amani, Global PR Executive EBC yang menjadi motor kreatif di balik konsep. “Kami ingin menciptakan sebuah laboratory of ideas, di mana setiap peserta merasa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.”

Keunikan acara terletak pada “live data visualization”. Saat Samuel menyebutkan angka 3,4 juta hektar hutan mangrove Indonesia, sebuah peta digital interaktif di layar utama langsung memperlihatkan sebarannya secara real-time. Ketika dibahas potensi rumput laut yang baru termanfaatkan 11,65%, grafik batang langsung menampilkan jurang antara potensi dan realita, sebuah visualisasi yang powerful dan langsung melekat di ingatan.

Kehebohan halus terjadi pada sesi diskusi. Seorang pengusaha akuakultur dari Lombok berdiri dan berbagi kisah peningkatan pendapatan petani rumput laut sebesar 4,55% pada 2024. Cerita mikro itu, yang sering absen dalam forum makro, menjadi the human touch yang mengonkretkan seluruh pembicaraan. Ia adalah bukti bahwa event ini berhasil menjembatani narasi global dengan denyut lokal.

Article content

Isu karbon biru, yang kompleks, dihadirkan bukan sebagai teori melainkan sebagai “produk panggung”. Sebuah simulasi singkat menunjukkan bagaimana kredit karbon biru bisa diperdagangkan, melibatkan audiens dalam sebuah role-play sederhana. “Kami ingin mereka merasakan mekanismenya, bukan hanya mendengar,” jelas Aldric Tinker, Global PR Lead.

Angle dari industri EO dalam acara ini jelas. Inovasi terbesarnya adalah mengubah subjek yang abstrak (ekonomi biru) menjadi sebuah pengalaman sensorik dan intelektual yang nyata. Mereka tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun sebuah narrative ecosystem di dalam ruangan itu, di mana setiap elemen desain, format, dan partisipasi saling menguatkan pesan utama.

Kunci suksesnya terletak pada riset mendalam dan curatorial precision. Setiap data, dari produksi rumput laut 10,80 juta ton pada 2024 hingga posisi Indonesia sebagai penyuplai 38% rumput laut dunia, dipilih bukan untuk membanjiri, tetapi untuk membangun argumentasi yang solid dan inspiratif. Acara ini berhasil karena percaya pada kekuatan storytelling yang berdasar fakta, bahwa cerita terbaik adalah yang ditulis oleh data yang akurat dan disampaikan dengan rasa.

Pada akhir acara, Samuel Hertz menutup dengan pertanyaan, “Panggungnya sudah kami set. Sekarang, siapa yang mau tampil?” Kalimat itu bukan akhir, melainkan pembuka. Ia adalah call to action yang elegan, meninggalkan para peserta bukan dengan selembar kertas, tetapi dengan sebuah visi yang terpateri jelas di kepala. Event ini membuktikan bahwa even terbaik adalah yang tidak berakhir ketika lampu padam, tetapi justru mulai menyala dalam benak setiap orang yang hadir. | WAW-DEOJ

Related post