Di Ruang Kendali Lahendong, Dua BUMN Merancang Masa Depan Listrik Hijau
Kunjungan PT PLN (Persero) ke PLTP Lahendong
Tomohon, Sulawesi Utara Di balik hiruk pikuk kota, sekitar 30 menit berkendara dari pusat Tomohon, ada denyut nadi energi yang tak pernah tidur. Mesin-mesin raksasa di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong bekerja senyap, mengubah uap belerang dari perut bumi menjadi cahaya yang menerangi rumah-rumah warga di Sulawesi Utara.
DUNIAEOJAKARTA.COM – Pada Kamis pagi, 12 Februari 2026, suasana di area Wilayah Kerja Panas Bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk itu sedikit berbeda. Para teknisi yang biasa sibuk dengan manometer dan turbin, sesekali melirik rombongan tamu yang datang. Ada John Y.S. Rembet, Executive Vice President Manajemen Panas Bumi PT PLN (Persero), bersama jajarannya. Mereka disambut langsung oleh Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho. Ini bukan sekadar kunjungan seremonial biasa.
Di ruang pertemuan yang sederhana, para petinggi dua BUMN itu duduk membahas sesuatu yang jauh dari sekadar perawatan mesin. Mereka berbicara tentang masa depan energi Indonesia. Di atas meja, dokumen teknis proyek PLTP Lahendong unit 7 dan 8 dibuka. Ada juga berkas Perjanjian Jual Beli Uap untuk PLTP Kotamobagu yang direncanakan memiliki empat unit, serta peta pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi Sungai Penuh di Jambi.
Lahendong sendiri adalah saksi bisu perjalanan panjang energi panas bumi Indonesia. Sejak 2001, pembangkit ini setia menyuplai listrik. Kini, kontribusinya mencapai 24 persen dari total kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Angka yang membuat kawasan ini lebih beruntung dibanding daerah lain yang masih bergantung pada batu bara.
Namun pertemuan itu bukan ajang nostalgia. Ada urgensi yang menggerakkan mereka. Indonesia tengah berlari menuju target Net Zero Emission. Sementara di sisi lain, kebutuhan listrik terus tumbuh. Untuk itulah sinergi ini diperkuat. Bukan lagi sekadar hubungan penjual dan pembeli, tapi kemitraan strategis untuk mempercepat pengembangan.
Andi Joko Nugrojo menjelaskan, PLN adalah offtaker utama energi yang PGE hasilkan. Artinya, tanpa koordinasi yang erat, mimpi transisi energi bisa tersendat. “Kami ingin memastikan operasional panas bumi berjalan selaras dengan prinsip tata kelola yang baik,” ujarnya, Senin (16/02/2026) di Tomohon.
Yang menarik, pembahasan mereka tak melulu soal teknologi pengeboran atau efisiensi turbin. Ada lapisan diskusi yang lebih dalam, yaitu soal bagaimana proyek greenfield dan brownfield ini bisa memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sebab di Lahendong, masyarakat telah lama merasakan listrik yang stabil berkat uap bumi.
Data menunjukkan betapa besarnya peran PGE dalam lanskap energi nasional. Perusahaan ini mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 MW. Angka itu setara dengan sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi Indonesia. Sepanjang 2024, pembangkitan listrik berbasis panas bumi mencapai 4.827 gigawatt hour, cukup untuk memasok lebih dari 2 juta rumah tangga.
Pertemuan di Tomohon itu sejatinya adalah pengakuan bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh kolaborasi, butuh keberanian untuk menyatukan data teknis di atas meja, lalu menerjemahkannya menjadi proyek nyata di lapangan.
John Rembet bersama rombongan tak hanya datang dengan membawa dokumen. Mereka datang dengan membawa target. PLTP Lahendong unit 7 dan 8 yang tengah dalam tahap kajian dokumen teknis itu diharapkan bisa menambah pasokan listrik hijau di Sulawesi Utara. Begitu juga dengan pengembangan PLTP Kotamobagu dan Sungai Penuh.
Para insinyur di ruang pertemuan itu memahami betul, uap panas bumi adalah berkah geologis yang tak dimiliki semua negara. Indonesia, yang berada di cincin api, diberkahi cadangan besar. Namun berkah ini perlu dikelola dengan cermat. Satu kesalahan dalam eksplorasi bisa berakibat fatal.
Di luar ruangan, kawah belerang di Tomohon tetap mengeluarkan kepulan asap putih. Pemandangan yang mungkin esok hari akan menjadi latar belakang foto para wisatawan. Namun bagi para petinggi BUMN itu, asap tersebut adalah potensi. Bukan sekadar pemandangan alam, tapi sumber energi yang bisa menyalakan lampu belajar anak-anak di pedesaan.
Andi Joko menegaskan, PGE berkomitmen mendukung target Net Zero Emission. Namun komitmen itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kunjungan PLN ke Lahendong ini adalah salah satu wujudnya. Setelah diskusi panjang, mereka berjabat tangan. Bukan sekadar basa-basi, tapi simbol bahwa dua institusi negara ini siap berjalan beriringan.
Kota Tomohon yang sejuk itu mungkin tak akan ramai memberitakan pertemuan ini. Namun di ruang-ruang kendali PLN dan PGE, keputusan yang diambil hari itu akan menentukan apakah lampu di Sulawesi dan Sumatra akan tetap terang dengan energi bersih di masa mendatang. |WAW-DEOJ
